CEPOSONLINE.COM,WAROPEN – Usai khidmatnya prosesi upacara Hardiknas dan HUT Kabupaten Waropen ke-23, suasana berganti menjadi penuh energi dengan hadirnya atraksi budaya legendaris asli Waropen: Bambu Gila dari Kampung Paradoi, Sabtu (2/5) di Lapangan Elias Paprindey.
Puluhan anak-anak sekolah dasar hingga menengah atas terlihat bersemangat meramaikan lapangan, melihat gerakan bambu yang tampak bergerak liar seolah memiliki nyawa sendiri. Pertunjukan yang memadukan kekuatan fisik dan unsur magis ini berhasil memikat perhatian seluruh hadirin, termasuk jajaran pejabat pemerintah yang hadir.
Atraksi ini menjadi istimewa karena nilai tradisinya yang sangat ketat. Konon, keahlian mengendalikan "Bambu Gila" ini hanya bisa diwarisi oleh satu anak laki-laki dari garis keturunan keluarga penerus. Sebelum bambu bergerak tak terkendali, ritual khusus dilakukan oleh sesepuh dari Marga Ramandei. Dengan penuh khidmat, ritual tersebut dilakukan dengan didampingi oleh sang putra, Vicky Ramandei, sebagai simbol estafet pewaris budaya.
Melihat antusiasme warga dan keunikan budaya tersebut, Bupati Waropen Drs. Fransiscus Xaverius Mote, M.Si memberikan arahan khusus di sela-sela acara. Dirinya meminta Dinas Pariwisata untuk memberikan perhatian serius dan terus mengawal pelestarian pertunjukan ini agar tidak punah ditelan zaman.
"Ini adalah identitas kita. Saya minta Dinas Pariwisata untuk terus membina dan melestarikan pertunjukan Bambu Gila ini. Apa yang dilakukan oleh keluarga Ramandei dari Kampung Paradoi adalah bentuk menjaga kekayaan intelektual leluhur kita yang harus kita dukung penuh," tegas Bupati FX Mote.
Bagi Pemerintah Kabupaten Waropen, atraksi ini bukan sekadar hiburan, melainkan aset wisata budaya yang memiliki potensi besar untuk memperkenalkan kekayaan adat Waropen ke kancah nasional maupun internasional.
Aksi Vicky Ramandei dan ayahnya hari ini menjadi pengingat bahwa di tengah kemajuan zaman, akar budaya di Negeri Bakau tetap tumbuh kuat dan membanggakan. (*)
Editor : Agung Trihandono