Nasional Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Kesehatan Opini Advertorial

Waspada Longsor dan Banjir, BPBD Gelar Pelatihan Kesiapsiagaan di Wilayah Kembu Tolikara

Agung Trihandono • Selasa, 26 Mei 2026 | 19:57 WIB
Pelatihan Pelayanan Informasi Rawan Bencana yang dipusatkan di Distrik Timori, wilayah Kembu, Tolikara,Senin 25 Mei 2026.
(Ceposonline.com/Dismkomdigi Tolikara)
Pelatihan Pelayanan Informasi Rawan Bencana yang dipusatkan di Distrik Timori, wilayah Kembu, Tolikara,Senin 25 Mei 2026. (Ceposonline.com/Dismkomdigi Tolikara)

CEPOSONLINE.COM, TOLIKARA - Pemerintah Kabupaten Tolikara melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi berbagai ancaman bencana alam yang sewaktu-waktu dapat terjadi di wilayah pegunungan Papua.

 Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Pelatihan Pelayanan Informasi Rawan Bencana yang dipusatkan di Distrik Timori, wilayah Kembu, Senin 25 Mei 2026 kemarin.

Kegiatan ini melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, pemuda, pelajar, tenaga kesehatan, guru, hingga para pelayan jemaat Gereja Injili Di Indonesia atau GIDI.

 Kehadiran seluruh unsur masyarakat ini menunjukkan kuatnya semangat kebersamaan dalam membangun budaya sadar bencana di Kabupaten Tolikara.

Kepala BPBD Kabupaten Tolikara, Feri Kogoya,SH,M.KP mengatakan, pelatihan tersebut merupakan bentuk sinergi antara BPBD Provinsi Papua dan BPBD Kabupaten Tolikara dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai langkah-langkah pencegahan, kesiapsiagaan, hingga penanganan bencana.

Menurutnya, wilayah Tolikara memiliki tantangan geografis yang cukup berat dan rawan terhadap berbagai ancaman bencana alam seperti longsor, banjir, gempa bumi, dan cuaca ekstrem. Karena itu masyarakat diminta untuk selalu meningkatkan kewaspadaan, baik siang maupun malam hari, demi menjaga keselamatan bersama.

Ia menegaskan, melalui pelatihan ini masyarakat dibekali pengetahuan dasar mengenai kesiapsiagaan, pencegahan, tanggap darurat, hingga langkah pemulihan pascabencana.

Pemerintah berharap masyarakat mampu mengenali tanda-tanda bahaya sejak dini sehingga risiko korban jiwa maupun kerugian dapat diminimalisir.

Lebih lanjut, Kepala BPBD Tolikara Feri Kogoya menilai bahwa kondisi geografis wilayah pegunungan yang sulit dijangkau membuat kerja sama antara pemerintah, gereja, dan masyarakat menjadi sangat penting. Kolaborasi semua pihak dibutuhkan agar masyarakat merasa aman, nyaman, dan terlindungi ketika menghadapi situasi darurat bencana.

Sementara itu, Kasie Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Papua, Ameizing Greisius Singgamui, SE, MM menyampaikan rasa syukur karena seluruh elemen masyarakat  Tolikara dapat menerima pengetahuan dasar mengenai mitigasi dan pengenalan ancaman bencana di lingkungan tempat tinggal mereka.

Ia berharap masyarakat Tolikara semakin peka terhadap tanda-tanda alam serta terus membangun koordinasi antara keluarga, gereja, pemerintah kampung, dan pemerintah daerah agar tercipta sinergi yang kuat dalam menghadapi setiap potensi bencana.

Menurutnya, kesadaran masyarakat merupakan kunci utama dalam membangun daerah yang tangguh terhadap bencana.

Apresiasi juga disampaikan Ketua Klasis Timori, Eleki Tabuni yang mewakili tokoh agama dan masyarakat Wilayah Kembu pada khususnya dan masyarakat wilayah Tolikara pada umumnya menyampaikan kepada BPBD Provinsi Papua dan BPBD Kabupaten Tolikara atas perhatian dan kepeduliannya terhadap masyarakat di wilayah pedalaman Tolikara melalui kegiatan sosialisasi dan pelatihan kebencanaan tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, Manager Pusdalops PB Papua, Jonathan Koirewoa menjelaskan bahwa mitigasi bencana merupakan upaya penting untuk mengurangi risiko sebelum bencana terjadi.

Menurutnya, mitigasi menjadi bagian utama dalam manajemen risiko bencana guna melindungi masyarakat dari dampak kerusakan dan korban jiwa.
Ia menjelaskan, Indonesia merupakan negara yang memiliki berbagai jenis ancaman bencana, mulai dari bencana alam seperti gempa bumi, banjir, dan longsor, hingga bencana non-alam dan bencana sosial. Karena itu diperlukan kesiapsiagaan yang melibatkan seluruh unsur pemerintah dan masyarakat.

Jonathan juga memaparkan pentingnya mitigasi struktural melalui pembangunan infrastruktur tahan bencana, sistem drainase, tanggul, hingga pemetaan wilayah rawan bencana. Selain itu, mitigasi non-struktural seperti pendidikan kebencanaan, sistem peringatan dini, dan regulasi tata ruang berbasis risiko juga dinilai sangat penting untuk diterapkan di daerah-daerah rawan bencana seperti Tolikara.

Melalui pelatihan ini, Pemerintah Kabupaten Tolikara berharap lahir komunitas-komunitas masyarakat siaga bencana yang mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga keselamatan warga ketika terjadi situasi darurat. Pemerintah juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga lingkungan, meningkatkan solidaritas, dan membangun budaya waspada demi menciptakan Tolikara yang aman, tangguh, dan siap menghadapi berbagai ancaman bencana di masa mendatang. ( *)

Editor : Agung Trihandono
#tolikara #pelatihan #bpbd #Ceposonline.com