CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA- Nama Tanjung Verde mendadak menjadi perbincangan dunia sepak bola.
Negara kepulauan kecil di Samudra Atlantik itu sukses mencetak sejarah dengan lolos ke babak 32 besar Piala Dunia 2026 pada penampilan perdananya dan kini bersiap menghadapi salah satu kandidat juara, Argentina.
Banyak penggemar sepak bola mungkin baru pertama kali mendengar nama Tanjung Verde atau Cape Verde.
Namun, negara kecil di lepas pantai Afrika Barat itu kini membuktikan bahwa ukuran wilayah dan jumlah penduduk bukanlah penghalang untuk bersaing di panggung sepak bola dunia.
Tanjung Verde, yang memiliki nama resmi Republik Cabo Verde, merupakan negara kepulauan yang terdiri dari 10 pulau vulkanik utama dan sejumlah pulau kecil di Samudra Atlantik, sekitar 570 kilometer dari pesisir barat Afrika.
Luas wilayahnya hanya sekitar 4.000 kilometer persegi dengan populasi sekitar 525 ribu jiwa, menjadikannya salah satu negara terkecil yang tampil di Piala Dunia.
Meski kecil, Tanjung Verde dikenal sebagai salah satu negara paling stabil dan demokratis di Afrika.
Negara yang merdeka dari Portugal pada 5 Juli 1975 itu menerapkan sistem republik semi presidensial dan kerap mendapat pengakuan atas stabilitas politik serta tata kelola pemerintahannya yang baik.
Dalam sejarahnya, kepulauan Tanjung Verde ditemukan dan dijajah bangsa Portugis pada abad ke-15.
Wilayah tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu pusat perdagangan budak di Samudra Atlantik.
Kini, masyarakatnya merupakan perpaduan keturunan Afrika dan Portugis yang membentuk identitas budaya yang khas.
Di bidang sepak bola, Tanjung Verde menciptakan kisah dongeng pada Piala Dunia 2026.
Berstatus debutan, skuad berjuluk Blue Sharks tampil mengejutkan dengan lolos ke fase gugur sebagai runner-up Grup H tanpa sekalipun menelan kekalahan.
Di bawah asuhan pelatih Pedro Leitao Brito atau Bubista, Tanjung Verde membuka turnamen dengan menahan imbang Spanyol 0-0.
Mereka kemudian kembali menunjukkan mental luar biasa dengan bermain imbang 2-2 melawan Uruguay sebelum memastikan tiket ke babak 32 besar usai bermain tanpa gol menghadapi Arab Saudi.
Ketangguhan lini pertahanan menjadi kekuatan utama Blue Sharks sepanjang fase grup.
Mereka mampu meredam serangan tim-tim besar dan menunjukkan organisasi permainan yang disiplin, membuat banyak pengamat menaruh respek terhadap penampilan mereka.
Keberhasilan melaju ke babak 32 besar menjadi pencapaian bersejarah bagi negara dengan jumlah penduduk yang relatif kecil.
Tanjung Verde bahkan tercatat sebagai negara dengan populasi paling sedikit yang berhasil lolos ke fase gugur Piala Dunia 2026.
Jumlah penduduk Tanjung Verde diperkirakan mencapai sekitar 529.630 jiwa pada pertengahan tahun.
Kini, tantangan yang jauh lebih berat telah menanti. Tanjung Verde dijadwalkan menghadapi Argentina pada babak 32 besar di Miami, Sabtu mendatang.
Di atas kertas, Argentina jelas lebih diunggulkan. Namun perjalanan Tanjung Verde sepanjang fase grup membuktikan bahwa mereka bukan lawan yang bisa dipandang sebelah mata.
Tim debutan itu telah menahan imbang Spanyol dan Uruguay, dua negara dengan tradisi sepak bola yang sangat kuat.
Bagi rakyat Tanjung Verde, keberhasilan mencapai babak gugur sudah menjadi sejarah yang membanggakan.
Namun, Blue Sharks tentu berharap kisah indah mereka di Piala Dunia 2026 belum berakhir dan siap memberikan perlawanan sengit kepada Albiceleste dalam upaya menciptakan kejutan terbesar di Piala Dunia 2026. (*).
Editor : Yohanes Palen