CEPOSONLINE.COM,NABIRE – Tangis duka menyelimuti keluarga Aliko Walia. Bocah berusia sekitar tujuh tahun asal Distrik Kembru, Kabupaten Puncak, itu meninggal dunia setelah 36 hari berjuang melawan luka tembak yang dideritanya.
Aliko mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, pada Selasa, 19 Mei 2026 sekitar pukul 02.00 WIT.
Kepala Distrik Kembru, Selpi Tabuni, mengatakan Aliko sebelumnya menjadi korban dalam situasi konflik yang terjadi di Distrik Kembru pada 14 April 2026.
“Seorang anak kecil bernama Aliko Walia yang sebelumnya terkena tembakan di Distrik Kembru pada tanggal 14 April 2026 meninggal dunia pada hari Selasa, 19 Mei 2026 sekitar pukul 02.00 dini hari di Rumah Sakit Mulia, Kabupaten Puncak Jaya,” ujar Selpi Tabuni dalam press release yang diterima media ini via seluler, Selasa, (19/5/226).
Menurut Selpi, luka serius akibat amunisi yang menembus bagian dada membuat Aliko harus menjalani perawatan intensif selama lebih dari satu bulan.
Di ruang perawatan rumah sakit, kedua orang tua Aliko terus mendampingi anak mereka dengan penuh harapan. Mereka berharap Aliko bisa kembali sembuh dan bermain bersama teman-temannya seperti biasa.
“Selama 36 hari, mama dan bapanya terus berjuang berharap anak kecil mereka dapat sembuh dan kembali bermain seperti anak-anak lainnya,” katanya.
Namun harapan itu perlahan berubah menjadi duka. Tangis keluarga pecah ketika Aliko dinyatakan meninggal dunia pada dini hari.
“Kepergian Aliko meninggalkan luka dan duka yang sangat mendalam bagi keluarga, masyarakat, dan semua pihak yang mengikuti situasi kemanusiaan di wilayah Kembru,” ungkap Selpi.
Ia menilai anak-anak seharusnya tumbuh dalam lingkungan yang aman, penuh kasih sayang, serta jauh dari kekerasan dan konflik.
“Seorang anak kecil seharusnya hidup dengan bermain, belajar, dan merasakan kasih sayang keluarga, bukan menjadi korban kekerasan dan kehilangan masa depannya,” ujarnya.
Selpi juga menyebutkan, dengan meninggalnya Aliko Walia, jumlah korban meninggal dunia akibat konflik di wilayah tersebut kini bertambah menjadi 13 orang.
“Kami berharap dan berdoa agar korban-korban lain yang saat ini masih menjalani perawatan di rumah sakit dapat diselamatkan dan dipulihkan, sehingga tidak ada lagi kabar duka yang terus bertambah dari tanah Papua,” tutup Tabuni. (*)
Editor : Lucky Ireeuw