CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA – Pilkada 2024 diwarnai kericuhan di Kota Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Provinsi Papua Tengah.
Berdasarkan informasi yang diterima Ceposonline.com, kericuhan ditenggarai perebutan kotak suara, yang mana berujung pertikaian antarkubu.
Hal ini terjadi pada sekiranya pukul 16.00-17.00 WIT, Selasa 26 November 2024, sehari sebelum pemungutan suara.
Sementara itu, Ketua PMI Puncak Jaya, Nelson Wonda, menyebutkan bahwa pihaknya berupaya keras mengevakuasi korban kericuhan, sekaligus mengamankan RSUD Mulia.
“Jadi kami keliling Kota Mulia, korban kami evakuasi, dan juga amankan RSUD Mulia.”
“Tadi malam sekitar 15 orang kami evakuasi, bawa ke rumah sakit.”
“Ada 3 orang yang harus dirujuk ke Jayapura,” ujar Nelson.
Nelson menyebutkan bahwa PMI Puncak Jaya bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Puncak Jaya dan manajemen RSUD Mulia untuk membantu pelayanan kesehatan, termasuk para tenaga medis dokter maupun perawat yang memberikan pelayanan.
“Jadi, prinsipnya kalau sudah perang itu, kalau kubu satu sudah masuk rumah sakit, dia klaim kekuasaan jadi kubu lain tidak boleh masuk.”
“Tapi, kami PMI jamin bahwa rumah sakit ini umum dan siapa saja masuk untuk mendapat perawatan,” tegas Nelson.
Hal ini tak lepas dari prinsip dasar Palang Merah Indonesia (PMI) untuk mengedepankan kemanusiaan.
“Jadi rumah sakit melayani siapapun warganya yang membutuhkan pelayanan,” ujarnya.
Baca Juga: BREAKING NEWS: Aksi Saling Serang Warnai Hari Pencoblosan di Puncak Jaya Papua Tengah
Hanya saja, Nelson menyebutkan bahwa pihaknya harus membatasi kunjungan keluarga terhadap pasien.
Pihaknya juga harus membatasi warga yang masuk hingga ke ruang tindakan medis untuk melihat penanganan terhadap pasien.
Termasuk melarang warga membawa alat tajam ke dalam rumah sakit.
“Kami bikin pagar di depan rumah sakit dan kunjungan kami batasi hanya satu-dua orang.”
“Kami juga batasi masyarakat yang masuk hingga ke dalam ruangan tindakan medis untuk melihat-lihat.”
“Relawan kami juga jaga agar alat tajam dilarang dibawa masuk ke dalam rumah sakit.”
“Ini perlu dilakukan karena masih kurangnya pemahaman masyarakat,” jelasnya.
Nelson bersyukur karena masyarakat mau menerima sejumlah aturan tersebut.
“Puji Tuhan, masyarakat menerima hal itu dan mudah-mudahan sampai selesai seperti itu.”
Ditanya soal tenaga medis yang bertugas, Nelson memastikan bahwa mereka dalam keadaan aman.
“Semua petugas rumah sakit kami antar pulang oleh relawan kami,” pungkasnya. (*)
Editor : Gratianus Silas