CEPOSONLINE.COM,JAYAPURA - Dunia pendidikan tinggi Indonesia bersiap menghadapi perubahan besar. Pemerintah melalui Kemdiktisaintek mulai mengkaji penghapusan sejumlah program studi yang dinilai tak lagi relevan dengan kebutuhan industri masa depan. Wacana ini langsung memicu perhatian publik, terutama karena jurusan pendidikan dan kedokteran disebut ikut masuk dalam daftar sektor yang berpotensi terdampak.
Seperti dilansir dari Jawapos.com, kebijakan tegas ini ditempuh untuk menyelaraskan kualitas dan kompetensi lulusan dengan tuntutan delapan sektor industri strategis nasional yang dipandang sebagai penopang utama ekonomi di masa depan. Menanggapi hal ini, Rektor Universitas Pancasila, Eddie Toet Hendratno, menjelaskan, bahwa usulan tersebut harapannya tak buru-buru diterapkan dan harus dilihat kebermanfaatannya di masa depan.
“Menurut saya, sebaiknya dikaji dulu apa alasan dulu diadakan prodi tersebut. Bila setelah diyakini tidak bermanfaat di masa depan, silakan dihapus,” kata Eddie saat dihubungi JawaPos.com, Selasa (5/5). Sektor pendidikan dan kedokteran sendiri disinyalir akan menjadi target penutupan prodi. Terlebih sektor ini mengalami oversupply dimana kebutuhan industri berada jauh di bawah angka kelulusan.
Eddie Toet mewanti-wanti agar Kemendikbudristek berhati-hati dalam memilah penghapusan prodi pada kedua sektor ini. “Hati-hati menghapus pendidikan kedokteran dan sektor pendidikan. Baca kembali UUD 45 tugas pemerintah dan negara mencerdaskan masyarakat dan kesehatan masyarakat,” ungkapnya. Dia pun meminta Kemendikbudristek untuk meneliti dengan seksama kebutuhan prodi yang akan dihapus. Bahkan, ia meminta agar negarawan dan para pakar pendidikan diikutsertakan untuk mengkaji usulan ini.
Meskipun nantinya akan ada fokus terhadap delapan industri strategis yaitu kesehatan, ketahanan pangan, digitalisasi, hilirisasi, pertahanan, material maju dan manufaktur, energi, dan maritim, yang akan dijadikan dasar perampingan.“Jangan buru-buru dihapus. Diteliti dulu dengan seksama. Sebelum diputuskan dihapus. Kebutuhan sesaat jangan menjadi patokan untuk menghapus,” tukas dia. (*
Editor : Abdel Gamel Naser