Telusuri Sejarah Papua, Perpustakaan Uncen Punya Koleksi Ekslusif Milik Van Ball

Jimianus Karlodi • Dipublikasikan Jumat, 30 Oktober 2026 | 11:39 WIB
Deretan rak yang menyimpan Koleksi Langka Van Ball di ruang khusus Perpustakaan Universitas Cenderawasih, Jumat (30/10/2026). (CEPOSONLINE.COM/JIMI)
Deretan rak yang menyimpan Koleksi Langka Van Ball di ruang khusus Perpustakaan Universitas Cenderawasih, Jumat (30/10/2026). (CEPOSONLINE.COM/JIMI)

CEPOSONLINE. COM, JAYAPURA - Di tengah arus transformasi digital yang serba cepat, di mana informasi dapat diakses dalam hitungan detik melalui gawai, sebuah tantangan besar justru dihadapi oleh para penjaga literasi di tanah Papua. 


Di gedung Perpustakaan Universitas Cenderawasih (Uncen), Abepura, tersimpan sebuah harta karun intelektual yang menjadi saksi bisu perjalanan sejarah kawasan ini. Dikenal dengan nama Koleksi Van Ball, himpunan pustaka ini bukan sekadar tumpukan buku tua, melainkan sebuah arsip peradaban yang merekam denyut kehidupan, antropologi, dan dinamika sosial Papua dari masa lampau.


Keberadaan koleksi istimewa ini diungkapkan oleh Fatmawati, Pustakawan Muda Madya Uncen.

 

Menurutnya, perpustakaan kampus tertua di Papua tersebut menaungi lebih dari 500 judul literatur khusus yang memuat catatan sejarah mendalam mengenai bumi Cenderawasih. 


Koleksi tersebut tidak hanya berupa buku-buku referensi kuno, tetapi juga merangkum berbagai terbitan berkala seperti majalah dan jurnal ilmiah era 1960-an hingga 1970-an.


"Kami juga menyediakan ada koleksi langka kami yaitu koleksi Van Ball, tentang sejarah-sejarah Papua. Namun, saat ini masih dalam bentuk bahasa Belanda, karena ya itu kami belum translate, karena prosesnya yang panjang untuk bisa. Pernah kami usulkan untuk Digitalisasi, tapi terkendala dengan alatnya. Itu ada kurang lebih 500 koleksi khusus untuk sejarah Papua," jelas Fatmawati saat dikonfirmasi, Jumat (30/10/2026).


Fatmawati menuturkan bahwa pemanfaatan Koleksi Van Ball kerap datang dari para mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Tanah Papua yang mendalami aspek kebudayaan lokal, serta para dosen dari program studi pendidikan yang memerlukan sumber referensi primer untuk kajian sejarah. 


Ia menjelaskan bahwa, bagi dunia pendidikan tinggi, literatur-literatur kolonial ini berfungsi sebagai jembatan penghubung antara realitas masa kini dan akar sosio-kultural masyarakat Papua di masa silam.


Di balik kekayaan informasinya, tersimpan sebuah kisah menarik mengenai bagaimana koleksi tersebut bisa berada di bumi Cenderawasih. Yohanes G. Aribowo, Pustakawan Ahli Pertama Uncen, menjelaskan bahwa Koleksi Van Hulle pada mulanya merupakan hibah pribadi. 


"Dahulu, seorang tokoh bernama Van Ball memiliki kedekatan historis dan pernah bertugas di Papua. Ketika masa tugasnya berakhir dan ia harus kembali ke negeri Belanda, seluruh koleksi pustaka pribadi tersebut turut dibawanya pulang," ungkapnya menjelaskan.


Namun, kata Yohanes, melalui komunikasi dan jalinan kontak yang terbangun dengan pihak kampus Uncen bertahun-tahun kemudian, tercapailah sebuah kesepakatan demi kepentingan dunia pendidikan. Koleksi tersebut akhirnya dipindahkan kembali ke Papua agar dapat diakses, dibaca, dan dimanfaatkan kembali oleh generasi penerus bangsa.


Kendati demikian, merawat literatur berusia senja tentu bukan perkara mudah. Yohanes mengungkapkan bahwa pengelolaan Koleksi Van Ball dihadapkan pada tantangan konservasi yang cukup berat. Seiring berjalannya waktu, lembaran-lembaran kertas dari buku dan majalah kuno tersebut kini telah berada dalam kondisi yang rapuh.


Upaya alih media atau digitalisasi, yang lazim dilakukan pada perpustakaan modern untuk mengamankan arsip fisik, belum dapat terlaksana secara optimal. Keterbatasan perangkat pemindai khusus serta proses penerjemahan bahasa yang membutuhkan waktu dan keahlian spesifik menjadi kendala utama yang dihadapi oleh pihak pengelola perpustakaan.


"Dengan sistem digital tersebut, apabila naskah fisik mengalami kerusakan atau k…

Editor : Weny Firmansyah
sejarah perpustakaan uncen papua Ceposonline.com