Adventorial Advertorial Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Internasional Kesehatan KPU Papua Pegunungan Kuliner Life Style Lintas Papua Lintas Tabi Menyapa Nusantara Mob Dulu Pace Nasional Opini Otomotif Papua Papua Pegununungan Papua Selatan Papua Sport Papua Tengah Pemilugrafi Pendidikan Persipura Regional Sepakbola Dunia Sepakbola Nasional Top Stories Wisata Zodiak

Salju Abadi di Puncak Cartenz Terancam Punah, Ini Penyebabnya

Yohanes Palen • 2025-01-30 07:53:11
ilustrasi puncak Jaya Wijaya (Cartenz Pyramid) (Sumber : pesonaindo.com)
ilustrasi puncak Jaya Wijaya (Cartenz Pyramid) (Sumber : pesonaindo.com)

CEPOSONLINE.COM, MIMIKA- Salju abadi yang menyelimuti Puncak Cartenz Papua kini terancam punah.

Memang selama ini keberadaan Puncak Cartenz Pegunungan Jayawijaya itu menjadi
kebanggaan masyarakat di Tanah Papua.

Kini keberadaan Puncak Cartenz yang menyimpan salju abadi nampaknya tidak berlangsung lama.

Tahun 2026 mendatang diperkirakan akan menjadi titik awal hilangnya salju abadi di Puncak Cartenz tersebut.

Adapun alasan hilangnya salju abadi di Puncak Cartenz, ini tak lepas dari faktor laju perubahan iklim yang sulit dibendung.

Pada tahun 2024, ketebalan salju hanya tersisa 4 meter. Sedangkan di tahun 2010 ketebalan salju masih 32 meter.

Sementara itu dari hasil penelitian Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pusat bahwa, pengurangan es atau salju di puncak pegunungan Jayawijaya dengan tinggi 4.884 Mdpl itu sangat drastis dalam beberapa tahun terakhir.

"Ya, salju abadi di Puncak Cartenz ini tak bertahan lama dan kemungkinan hanya tinggal kenangan,"ungkap Prakirawan BMKG, Stasiun Meteorologi Mozes Kilangin Timika, Dwi C.

Dwi mengatakan, jika salju tersebut benar-benar lenyap maka suhu di Kabupaten Mimika dapat lebih panas dari biasanya.

"Kalau salju abadi ini betul-betul hilang, sudah pasti Timika itu akan lebih panas, terus cuaca buruk akan lebih sering terjadi,"ujar Dwi.

Dwi menyampaikan, BMKG sendiri menyebut kondisi ini dengan sebutan Global Warming.

Kondisi ini merupakan perubahan iklim mengacu pada perubahan suhu dan pola cuaca dalam jangka panjang.

"Pergeseran ini mungkin bersifat alami, namun sejak periode 1800-an, aktivitas manusia telah menjadi pendorong utama perubahan iklim,"bebernya.

Sementara itu, berdasarkan data di tahun 2022 luas bongkahan es di pegunungan Jayawijaya 0,23 kilometer persegi.

Kemudian, pada tahun 2024 menurun drastis hingga mencapai 0,11 hingga 0,16 kilometer persegi dengan ketebalan es hanya tersisa 4 meter.

Kondisi terburuk yang mengancam salju abadi tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor.

Selain karena krisis iklim, juga dipengaruhi oleh hujan air yang turun mengenai permukaan es mempercepat pelelehannya.

Selain itu, juga karena topografi wilayah tersebut yang pada dasarnya adalah tumpukan bebatuan yang dapat menghasilkan panas akibat terlalu lama terpapar sinar matahari.

Laporan BMKG mencatat, salju abadi itu pada tahun 2010 memiliki ketebalan es mencapai 32 meter. Tetapi, seiring perubahan iklim yang terjadi di dunia, lapisan es itu terus berkurang.

Hingga tahun 2015, penurunan ketebalan mencapai sekitar satu meter per tahun. Kondisi tersebut semakin buruk pada tahun 2015-2016 saat Indonesia dilanda fenomena El Nino di mana suhu permukaan menjadi lebih hangat.

Akibatnya, pemandangan di Puncak Jaya mencair hingga 5 meter per tahun. Bahkan pencairan salju abadi itu tak berhenti.

"Jadi, pada tahun 2015-2022, BMKG mencatat ketebalan es mencair 2,5 meter per tahun. Diperkirakan ketebalan es yang tersisa pada Desember 2022 hanya 6 meter,"pungkas Dwi. (*).

Editor : Nurul HK
#cartenz #Ceposonline.com #salju