CEPOSONLINE.COM, MERAUKE – Penurunan muka air Rawa Biru hingga sekitar 3,8 meter saat musim kemarau menjadi perhatian serius karena kawasan tersebut merupakan sumber air baku bagi Perumda Air Minum Jereukom untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat Merauke.
Kondisi ini mendorong perlunya kajian menyeluruh dan penyediaan data yang akurat sebagai dasar penyusunan rencana aksi pemulihan ekosistem Rawa Biru yang berada di kawasan Taman Nasional Wasur, Kabupaten Merauke, Papua Selatan.
Kepala Bidang Wilayah Pusdal Lingkungan Hidup Papua, Kementerian Lingkungan Hidup RI, Edisono Worabay, menyoroti pentingnya hasil peninjauan lapangan sebagai bahan awal untuk mengidentifikasi persoalan lingkungan sekaligus menentukan langkah penanganan yang tepat.
“Penurunan muka air Rawa Biru hingga sekitar 3,8 meter saat musim kemarau perlu menjadi perhatian serius. Karena itu, kita membutuhkan data yang akurat agar rencana pemulihan ekosistem dapat disusun secara tepat,” kata Edisono pada pembahasan rencana aksi pemulihan ekosistem Rawa Biru di Merauke, Rabu (28/10/2026).
Pembahasan tersebut turut menyoroti kondisi hidrologi, perubahan tutupan lahan, serta pemeliharaan infrastruktur pendukung di kawasan perairan Rawa Biru.
Penurunan muka air hingga sekitar 3,8 meter pada musim kemarau perlu ditelaah lebih jauh untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhinya. Kajian tersebut penting agar upaya penanganan tidak hanya berfokus pada kondisi yang terlihat di lapangan, tetapi juga menyasar penyebab utama perubahan ekosistem.
“Temuan di lapangan ini masih menjadi data awal. Kami perlu melakukan verifikasi dan kajian lebih lanjut untuk memastikan faktor penyebabnya, sehingga langkah penanganannya tidak keliru,” ujar Edisono.
Pasalnya, keberadaan Rawa Biru tidak hanya penting bagi kelestarian lingkungan di kawasan Taman Nasional Wasur, tetapi juga berkaitan langsung dengan keberlanjutan pelayanan air bersih bagi masyarakat Merauke.
Selain kondisi air, pembahasan juga menyoroti perubahan tutupan lahan selama periode 2014 hingga 2024. Berdasarkan data awal yang dipaparkan, tutupan berupa vegetasi rawa tercatat sekitar 44 persen, sedangkan hutan rawa sekunder mencapai sekitar 45 persen.
Meski demikian, angka tersebut masih memerlukan verifikasi lebih lanjut, terutama menyangkut kategori tutupan lahan, lokasi pengamatan, serta metode penghitungan yang digunakan.
Data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan diperlukan untuk memetakan perubahan kondisi kawasan secara jelas. Dengan begitu, instansi terkait dapat mengetahui bagian kawasan yang membutuhkan perhatian dan menentukan prioritas pemulihan berdasarkan hasil kajian ilmiah.
“Data tutupan lahan juga harus diverifikasi. Kita perlu memastikan kategori, lokasi, dan metode pengukurannya agar data yang digunakan benar-benar dapat dipertanggungjawabkan,” jelas Edisono.
Hasil peninjauan lapangan yang telah dipaparkan menjadi bahan awal dalam penyusunan rencana aksi pemulihan ekosistem Rawa Biru. Namun, temuan tersebut masih perlu diperkaya melalui verifikasi data dan kajian dari instansi maupun pihak yang memiliki kompetensi di bidangnya.
Dalam pembahasan tersebut, turut muncul usulan dukungan peralatan untuk membantu kegiatan pembersihan danau.
Namun, jenis peralatan, metode pembersihan, serta lokasi yang akan ditangani perlu ditentukan berdasarkan kajian teknis. Hal ini penting agar kegiatan pemulihan tidak justru mengganggu keseimbangan ekosistem dan fungsi alami kawasan rawa.
“Dukungan peralatan memang diperlukan, tetapi penggunaannya harus berdasarkan kajian teknis. Jangan sampai kegiatan pembersihan justru mengganggu keseimbangan ekosistem Rawa Biru,” tegas Edisono.
Koordinasi lintas instansi menjadi salah satu faktor penting dalam penanganan persoalan Rawa Biru. Setiap langkah perlu mempertimbangkan kondisi lingkungan, karakteristik perairan, serta kebutuhan pengelolaan sumber air baku bagi masyarakat.
Melalui penyusunan data dasar yang akurat, kajian ilmiah, dan kerja sama antarlembaga, rencana aksi pemulihan ekosistem Rawa Biru diharapkan dapat disusun secara terukur dan tepat sasaran.
Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian penting dalam menjaga kelestarian kawasan Taman Nasional Wasur dan memastikan keberlanjutan sumber air baku bagi pelayanan air bersih masyarakat Merauke dalam jangka panjang. (*)
Editor : Lucky Ireeuw