Sebagian Dokter Spesialis RSUD Merauke Pilih Mogok, Disebabkan Persoalan ini
Yulius Sulo• Sabtu, 9 Mei 2026 | 11:33 WIB
Direktur RSUD Merauke dr. Dewi Wulandari (Sulo/Ceposonline.com)
CEPOSONLINE.COM, MERAUKE- Sebagian dokter spesialis Rumah Sakit Daerah (RSUD) Merauke memilih mogok kerja pada Sabtu (9/5).
Mereka memilih mogok kerja lantaran Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) selama 5 bulan belum dibayarkan.
John, salah satu pasien lansia yang datang ke RSUD Merauke untuk melakukan check up tidak mendapatkan pelayanan tersebut lantaran dokter spesialis yang akan melayani mereka setiap Sabtu tidak datang.
‘’Kami tidak tahu kenapa, sehingga kami disuruh pulang tanpa penjelasan. Saya salah satu yang menjadi korban, karena sudahh datang jauh-jauh tapi tidak mendapatkan pelayanan,’’ kata John.
Direktur RSUD Merauke dr. Dewi Wulandari membenarkan sejumlah dokter spesialis tersebut melakukan mogok kerja karena TPP yang belum dibayarkan sejak Januari sampai sekarang.
‘’Kalau mau mogok, kita semua mogok kerja. Karena saya termasuk semua ASN yang ada di rumah sakit ini, belum satupun yang dibayarkan TPP. Tapi tidak harus seperti itu melakukan mogok. Kasihan pada pasien,’’ kata Dewi Wulandari.
Dewi Wulandari menjelaskan, belum dibayarkannya TPP selama 5 bulan tersebut dikarenakan terjadi kesalahan penginputan dalam system di keuangan. Sehingga harus dilakukan pergeseran.
‘’Saya contohkan. Untuk bayar TPP satu bulan dibutuhkan anggaran sebesar Rp 100 juta. Tapi ternyata di dalam DPA RSUD Merauke hanya Rp 90 juta pertahun. Kan salah tuh, sehingga harus diperbaiki. Kalau diperbaiki, jelas berproses dan harus ada perubahan. Memang untuk APBD Perubahan itu sekitar bulan Oktober dan saya katakan saya tidak kalau Oktober. Kalau Oktober, berarti kami semua demo. Maka di ACC pergeseran,’’ jelasnya.
‘’Tapi semuanya mau cepat. Maka saya heran. Kecuali kita tidak kerja. Rencana Senin besok baru DPA itu digeser. Karena sistemnya sekarang berbeda. Kalau mau menggeser tidak bisa setiap saat tapi secara keseluruhan down system satu kabupaten. Hari itu saat dilakukanpergeseran tidak ada transaksi sama sekali, baru bisa. Kalau DPA sudah digeser maka TPP segera kita bayar,’’ lanjutnya.
Sebenarnya, lanjut Dewi Wulandari, dirinya sudah mendapatkan informasi kemungkinan adanya aksi mogok ini pada Jumat sehingga dirinya telah melaporkan kepada pimpinan dalam hal ini bupati Merauke.
‘’Sebenarnya, mulai kemarin sore sampai malam itu pak bupati sudah tunggu mereka tapi tidak ada satupun yang datang ke kantor bupati. Termasuk hari ini beliau tunggu mereka yang melakukan mogok kerja ini,’’ jelas.
Dewi Wulandari menjelaskan, tidak semua dokter spesialis melakukan aksi mogok kerja tersebut. Hanya beberapa dokter spesialis saja.
‘’Saya juga tidak tahu kenapa harus mogok. Kecuali gaji, jasa dan tunjangan tidak dibayar. Semua sudah dibayar kecuali TPP karena ada kesalahan input di DPA,’’ pungkasnya. (*)