Nasional Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Kesehatan Opini Advertorial

POGI Papua Barat-Papua Barat Daya Dilantik, Fokus Tekan Kematian Ibu dan Cegah Stunting

Norma Fauzia Muhammad • Kamis, 18 Juni 2026 | 17:57 WIB
Proses pelantikan POGI Papua Barat - Papua Barat Daya periode 2026- 2028, Kamis (18/6) Foto: Fauzia/papuabaratdayapost.com
Proses pelantikan POGI Papua Barat - Papua Barat Daya periode 2026- 2028, Kamis (18/6) Foto: Fauzia/papuabaratdayapost.com

CEPOSONLINE.COM, SORONG – Pengurus Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Cabang Papua Barat-Papua Barat Daya periode 2026–2028 resmi dilantik. Pelantikan tersebut menjadi momentum memperkuat pelayanan kesehatan perempuan dan anak, khususnya di Provinsi Papua Barat Daya yang masih menghadapi berbagai tantangan kesehatan reproduksi.

Kegiatan berlangsung di salah satu hotel di Kota Sorong, Kamis (18/6).

Ketua Umum POGI, Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, SpOG, Subsp.FER, MPH, FRANZCOG (Hons), FICRM, mengatakan POGI membawa program strategis bertajuk SPRINT (Selamatkan Perempuan Indonesia) yang bertujuan menurunkan angka kematian ibu dan bayi, menekan stunting, serta memperkuat pencegahan dan penanganan kanker serviks.

Menurut Budi, program tersebut mengedepankan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, organisasi masyarakat, hingga media. 

"Persoalan kesehatan reproduksi harus menjadi tanggung jawab bersama sebagaimana saat bangsa Indonesia bergotong royong menghadapi pandemi COVID-19," katanya.

Lanjutnya bahwa Program SPRINT dijalankan melalui lima pilar utama, yakni pencegahan dan pengobatan kanker serviks, pengawalan kehamilan dan pemenuhan nutrisi perempuan, edukasi kesehatan reproduksi lintas generasi, penguatan kader dan pelayanan kesehatan reproduksi, serta perencanaan finansial bagi ibu hamil dan ibu bersalin.

Budi juga menyoroti masih terbatasnya jumlah dokter spesialis obstetri dan ginekologi di Papua Barat Daya. Saat ini tercatat hanya 27 dokter spesialis yang melayani lima kabupaten dan satu kota. Kondisi tersebut dinilai belum ideal sehingga pemerataan distribusi tenaga medis menjadi kebutuhan mendesak untuk meningkatkan akses layanan kesehatan hingga ke daerah terpencil.

Sementara itu, Ketua POGI Papua Barat-Papua Barat Daya, dr. Jan Pieter E.A. Kambu, SpOG, Subsp.FER, menyebut pelantikan kali ini merupakan periode ketiga sejak organisasi tersebut dibentuk pada 2018. 

"POGI berkomitmen mendukung program pemerintah dalam meningkatkan kesehatan ibu dan anak, termasuk mendukung program 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) melalui kolaborasi dengan berbagai pihak," katanya.

Sebagai bentuk dukungan terhadap pelayanan kesehatan dasar, lanjutnya bahwa POGI menyerahkan secara simbolis 100 paket alat persalinan atau bidan kit untuk puskesmas di Papua Barat Daya. Selain itu, organisasi tersebut akan terus memberikan pelatihan kepada bidan dan dokter umum, termasuk peningkatan kemampuan pemeriksaan USG dasar dan penguatan sistem rujukan.

Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, mengapresiasi pelantikan pengurus baru POGI. 

Gubernur mengatakan bahwa dokter spesialis obstetri dan ginekologi memiliki peran penting dalam mengawal kesehatan perempuan mulai dari masa remaja, kehamilan, persalinan hingga menopause.

Menurut Elisa, Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya akan terus memperkuat layanan kesehatan dasar dan rujukan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia tenaga kesehatan, serta memperluas jangkauan pelayanan kesehatan ibu dan anak. 

"Saya berharap sinergi antara POGI, pemerintah daerah, rumah sakit, dan perguruan tinggi dapat mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi serta melahirkan generasi Papua yang sehat dan bebas stunting," katanya.(*)

Editor : Lucky Ireeuw
#cegah stunting #papua barat daya #Ceposonline.com