Itu terjadi apabila perburuan liar (poaching) harimau dan Badak Sumatera, kawin sedarah (inbreeding), serta kerusakan habitat tidak segera ditangani secara menyeluruh.
Dilansir dari radarbogor.jawapos.com, peringatan tersebut disampaikan berdasarkan hasil analisis ilmiah menggunakan metode Population Viability Analysis (PVA).
Kepala Pusat Unggulan Lingkungan dan Ilmu Keberlanjutan Universitas Padjadjaran (Unpad), Dr. Susanti Withaningsih, menjelaskan bahwa PVA digunakan untuk memproyeksikan peluang bertahannya suatu spesies dalam kurun waktu sekitar 25 tahun ke depan.
Pemaparan tersebut disampaikan dalam Lokakarya Ekoliterasi Konservasi yang diselenggarakan Pramuka Unpad bersama Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia (FOKSI) di Gedung FISIP Unpad pada 28 Juli 2026.
Selain Population Viability Analysis, Susanti menjelaskan terdapat sejumlah pendekatan ilmiah lain yang digunakan untuk memantau kondisi satwa liar di masa depan.
Salah satunya adalah Species Distribution Model, yang memetakan potensi hilangnya habitat akibat perubahan iklim.
Ada pula Niche Shrinkage Model, yang menggambarkan semakin menyusutnya ruang hidup satwa akibat meningkatnya suhu global.
Berdasarkan model tersebut, banyak habitat diperkirakan mengalami penyusutan secara signifikan.
Pendekatan lainnya adalah Mountaintop Extinction, yang memantau pergeseran habitat satwa endemik pegunungan ke elevasi yang semakin tinggi hingga akhirnya tidak lagi memiliki ruang hidup.
"Ketika spesies terus terdorong ke dataran yang lebih tinggi tanpa tersisa habitat yang layak, maka risiko kepunahan akan semakin besar," jelas Susanti.
Susanti juga menyoroti fenomena fragmentasi dataran rendah, yaitu kondisi ketika perubahan lingkungan menyebabkan habitat satwa besar seperti gajah dan orangutan terpecah menjadi kantong-kantong kecil yang terisolasi.
Menurutnya, kondisi tersebut meningkatkan konflik antara satwa dan manusia serta mempersempit ruang gerak satwa liar.
Selain itu, pendekatan Spatial Connectivity and Circuit Theory digunakan untuk mengidentifikasi koridor satwa yang terputus akibat pembangunan jalan tol, kawasan pertambangan, maupun perkebunan berskala besar.
Terputusnya jalur pergerakan satwa dinilai dapat menghambat pertukaran genetik antarpopulasi, mempercepat akumulasi gen yang merugikan (lethal equivalents), sekaligus meningkatkan extinction debt atau utang kepunahan.
Dalam paparannya, Susanti menjelaskan konsep extinction debt, yaitu kondisi ketika kepunahan sebenarnya telah dipicu oleh aktivitas manusia, meski dampaknya baru terlihat beberapa waktu kemudian.
Ia mencontohkan fenomena living dead population, yakni populasi yang jumlah individunya masih ada tetapi secara genetik sudah tidak memiliki kemampuan mempertahankan kelangsungan hidup.
Jika populasi tinggal sangat sedikit, spesies tersebut tetap berisiko punah karena tidak memiliki peluang berkembang biak secara sehat," ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya effective population size, yaitu jumlah minimum individu yang diperlukan agar keberagaman genetik tetap terjaga.
Dalam konservasi dikenal aturan 50/500, yakni sedikitnya 50 individu diperlukan untuk mengurangi risiko kawin sedarah dalam jangka pendek.
Susanti memaparkan terdapat tiga kemungkinan skenario yang akan menentukan masa depan satwa liar Indonesia.
Skenario pertama adalah kondisi terburuk, yakni apabila tidak ada tindakan nyata. Dalam situasi tersebut, Badak Sumatera diperkirakan mengalami kepunahan lokal, populasi Harimau Sumatera turun di bawah 50 ekor, sementara orangutan semakin terisolasi hingga menghadapi ancaman kepunahan.
Skenario kedua adalah intervensi parsial. Pada kondisi ini laju penurunan populasi memang melambat, namun jumlah satwa belum cukup untuk mempertahankan kelestarian dalam jangka panjang.
Adapun skenario terbaik adalah pemulihan habitat secara menyeluruh, keberhasilan intervensi genetik, serta penerapan tata kelola konservasi yang berorientasi pada keseimbangan ekosistem.
Di akhir pemaparannya, Susanti menegaskan bahwa ancaman terhadap satwa liar tidak hanya berasal dari satu faktor, melainkan kombinasi berbagai tekanan yang terjadi secara bersamaan.
Empat faktor utama yang dinilai paling berpengaruh adalah fragmentasi dan degradasi habitat, perubahan iklim global, perburuan serta perdagangan satwa ilegal melalui jaringan digital, dan penyebaran penyakit zoonosis maupun spesies invasif.
Menurutnya, kolaborasi pemerintah, akademisi, komunitas, dan masyarakat menjadi kunci agar berbagai spesies endemik Indonesia tidak benar-benar masuk ke dalam pusaran kepunahan pada masa mendatang. (*)