Nasional Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Kesehatan Opini Advertorial

Kisah Terlupakan Putra R.A. Kartini: Soesalit, dari Anak Yatim hingga Terseret Pusaran Politik

Elfira Halifa • Senin, 20 April 2026 - 07:53 WIB
R.A Kartini dan putranya, Soesalit Djojoadhiningrat. (Ceposonline.com/Istimewa)
R.A Kartini dan putranya, Soesalit Djojoadhiningrat. (Ceposonline.com/Istimewa)

CEPOSONLINE.COM-Nama Soesalit Djojoadhiningrat jarang muncul dalam narasi besar sejarah Indonesia. Padahal, ia adalah putra tunggal R.A. Kartini, tokoh emansipasi perempuan yang begitu dihormati.

Di balik bayang-bayang besar sang ibu, perjalanan hidup Soesalit justru penuh liku. Mulai dari kehilangan orang tua sejak bayi, karier di pemerintahan kolonial, hingga terseret konflik politik pascakemerdekaan.

Lahir Tanpa Sempat Mengenal Ibunya

Soesalit lahir di Rembang, Jawa Tengah, pada 13 September 1904 dari pasangan Kartini dan RM Adipati Ario Singgih Djojoadhiningrat. Namun, takdir berkata lain. Empat hari setelah melahirkannya, Kartini meninggal dunia.

Kehilangan kembali menghampirinya saat sang ayah wafat ketika ia berusia delapan tahun. Sejak itu, Soesalit tumbuh sebagai yatim piatu dan diasuh oleh neneknya, Ngasirah, serta kakak tirinya, Abdulkarnen Djojoadhiningrat.

Menempuh Pendidikan Elite Kolonial

Sebagai keturunan priyayi, Soesalit mendapat akses pendidikan terbaik pada masanya. Ia menempuh pendidikan di Europe Lagere School (ELS), melanjutkan ke Hogere Burger School (HBS) di Semarang, hingga sempat belajar hukum di Rechtshoogeschool (RHS) di Batavia.

Namun, ia tidak menyelesaikan studinya. Soesalit memilih terjun ke dunia kerja sebagai pamong praja di pemerintahan Hindia Belanda, sebuah keputusan yang kelak membawanya ke persimpangan moral.

Terjebak Dilema sebagai Intelijen Kolonial
Kariernya berubah drastis saat direkrut ke Politieke Inlichtingen Dienst (PID), badan intelijen rahasia pemerintah kolonial. Dalam posisi ini, Soesalit bertugas memantau aktivitas pergerakan nasional yang saat itu mulai menguat.

Di sinilah ia menghadapi dilema. Bekerja untuk pemerintah kolonial, namun menyadari bahwa tugasnya bisa merugikan perjuangan bangsanya sendiri.

Berbalik Haluan: Dari Kolonial ke Pejuang

Perubahan besar terjadi saat Jepang menduduki Indonesia. Soesalit meninggalkan PID dan bergabung dengan PETA (Pembela Tanah Air), organisasi militer bentukan Jepang yang kemudian menjadi cikal bakal kekuatan militer Indonesia.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan, ia aktif dalam perjuangan bersenjata. Soesalit bahkan pernah menjabat sebagai Panglima Divisi III Diponegoro dan terlibat dalam perang gerilya di kawasan Gunung Sumbing saat Agresi Militer Belanda II.

Karier militernya sempat mencapai pangkat Mayor Jenderal sebelum kemudian diturunkan menjadi Kolonel.

Terseret Bayang-Bayang Pemberontakan PKI Madiun 1948

Kontroversi terbesar dalam hidup Soesalit terjadi pada 1948. Namanya tercantum dalam dokumen yang disita pemerintah saat peristiwa Pemberontakan PKI Madiun.

Ia disebut sebagai sosok yang diharapkan oleh kelompok pemberontak. Kedekatannya dengan sejumlah tokoh dan laskar berhaluan kiri membuatnya dicurigai terlibat, meski tidak pernah terbukti secara hukum.

Akibatnya, Soesalit menjalani tahanan rumah sebelum akhirnya dibebaskan oleh Presiden Soekarno.

Karier Meredup, Beralih ke Sipil

Setelah kontroversi tersebut, karier militernya tidak lagi berada di garis depan. Ia dipindahkan menjadi perwira staf di Kementerian Pertahanan, lalu beralih ke sektor sipil.

Pada 1950, Soesalit dipercaya menjabat sebagai Kepala Penerbangan Sipil. Ia juga pernah menjadi penasihat Menteri Pertahanan Iwa Kusumasumantri dalam Kabinet Ali Sastroamodjojo I.

Namun seiring waktu, namanya semakin tenggelam dari sorotan publik.

Warisan Nilai: Rendah Hati di Balik Nama Besar

Soesalit Djojoadhiningrat wafat pada 17 Maret 1979 di Rumah Sakit Angkatan Perang. Ia meninggalkan seorang istri, Siti Loewijah, dan seorang putra, Boedi Setyo Soesalit.

Menariknya, dalam hidupnya ia berpesan agar keturunannya tidak membanggakan status sebagai anak atau cucu Kartini. Ia menekankan pentingnya hidup sederhana dan rendah hati, tanpa bergantung pada nama besar keluarga.

Kisah yang Nyaris Terlupakan

Kisah Soesalit menjadi potret lain dari sejarah Indonesia tentang seorang anak tokoh besar yang harus menjalani hidup dalam bayang-bayang, menghadapi dilema moral, hingga terseret arus konflik politik.

Di balik gemilang nama R.A. Kartini, terdapat kisah sunyi seorang anak yang hidupnya justru penuh gejolak dan jarang tersorot. (*)

Editor : Elfira Halifa
#RA Kartini #pahlawan #perempuan