Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Terungkap Meninggalnya RA Kartini, Setengah Jam Sebelum Meninggal, Sang Suami Sebut Kartini Masih Sehat Bugar,  Benarkah Dibunuh Atau Pre-Ek

W
Penulis: Weny Firmansyah❯
Ilustrasi. (ISTIMEWA)
Ilustrasi. (ISTIMEWA)

Advertisement

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA- Setiap 21 April, seantero bumi Indonesia merayakan semangat dan warisan pemikiran R.A. Kartini. Tapi ada satu bagian dari kisah hidupnya yang jarang dibicarakan bagian yang paling memilukan: bagaimana perempuan paling progresif di zamannya itu meninggal begitu cepat, begitu tiba-tiba, dan hingga hari ini masih menyimpan tanda tanya.

Dikutip dari goodnewsfromindonesia.id, R.A. Kartini wafat pada 17 September 1904 di Rembang, dan dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang. Usianya baru 25 tahun.

Kartini meninggal empat hari pasca melahirkan putra tunggalnya, Raden Mas Soesalit, pada 13 September 1904. Ia menghembuskan napas terakhir di pangkuan suaminya, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, berdasarkan kesaksian para abdi dalem yang hadir saat itu.

Advertisement


Padahal sebelumnya, Kartini tampak baik-baik saja. Menurut suami Kartini, setengah jam sebelum meninggal, istrinya masih sehat bugar dan hanya mengeluh perutnya tegang. Dokter Van Ravesteijn, dokter sipil dari Pati, datang dan memberinya obat. Setelah itu, tiba-tiba ketegangan di perut Kartini menghebat dan 30 menit kemudian ia meninggal. "Dalam pelukan saya dan di hadapan dokter," kata sang suami.


Kematian yang begitu mendadak itulah yang kemudian memicu pertanyaan dan kontroversi yang bertahan lebih dari satu abad.


Versi Pertama: Kartini Wafat Karena Preeklampsia

Advertisement

Penjelasan medis yang paling banyak diterima menyebut bahwa Kartini meninggal akibat preeklampsia komplikasi serius dalam kehamilan yang hingga kini masih menjadi salah satu penyebab kematian ibu terbesar di dunia.

Preeklampsia merupakan kondisi medis yang bisa terjadi selama masa kehamilan, ditandai dengan tekanan darah tinggi (hipertensi) dan adanya protein dalam urin (proteinuria), yang mengindikasikan adanya kerusakan organ, terutama ginjal. Dalam beberapa kasus, preeklampsia juga bisa melibatkan gangguan hati, penglihatan kabur, sakit kepala parah, dan pembengkakan ekstrem di tangan dan wajah.

Mengutip data WHO, preeklampsia dan eklampsia menjadi penyebab sekitar 14 persen kematian ibu di seluruh dunia, menjadikannya salah satu komplikasi kehamilan paling mematikan jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat. Kondisi ini umumnya muncul setelah usia kehamilan 20 minggu dan bisa berlanjut hingga pasca-persalinan.

Gejala yang dialami Kartini perut tegang, kejang mendadak, dan kematian dalam waktu singkat sangat sesuai dengan gejala eklampsia, yaitu komplikasi lanjutan dari preeklampsia yang tidak tertangani. Inilah yang membuat banyak ahli dan sejarawan medis meyakini bahwa preeklampsia adalah penyebab paling masuk akal dari kematiannya.

Advertisement
Editor : Weny Firmansyah

Artikel Terkait

Urusan Menstruasi Berujung Pajak, Padahal Ini Bukan Pilihan Perempuan

Urusan Menstruasi Berujung Pajak, Padahal Ini Bukan Pilihan Perempuan

Pembalut wanita masih menjadi sorotan setelah ketentuan pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) terhadap produk sanitasi menstruasi ramai di

Endometriosis, Penyakit yang Sering Tersembunyi di Balik Nyeri Menstruasi

Endometriosis, Penyakit yang Sering Tersembunyi di Balik Nyeri Menstruasi

Banyak perempuan menganggap nyeri haid sebagai hal yang wajar. Rasa kram di perut bagian bawah, pinggang pegal, hingga mual sering dianggap

Perempuan Adat Masih  Didiskriminasi dan Diabaikan,  Perempuan Aman Siap Gelar Temu Nasional ini

Perempuan Adat Masih  Didiskriminasi dan Diabaikan,  Perempuan Aman Siap Gelar Temu Nasional ini

Organisasi Persekutuan Perempuan Adat Nusantara (Perempuan Aman) memandang bahwa keberadaan perempuan adat saat ini masih mendapatkan diskri

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer