Ditinggal Orang Tua dan Tumbuh di Tengah Konflik, Dua Mahasiswa Puncak Meraih Gelar Sarjana di STAK

Theresia F. Tekege • Dipublikasikan Rabu, 28 Oktober 2026 | 12:34 WIB
Yones Magai dan Detinus foto bersama dengan mahasiswa lainnya usai syukuran Yudisium di Asrama Puncak Nabire. (CEPOSONLINE.COM/THERESIA F. TEKEGE)
Yones Magai dan Detinus foto bersama dengan mahasiswa lainnya usai syukuran Yudisium di Asrama Puncak Nabire. (CEPOSONLINE.COM/THERESIA F. TEKEGE) 

CEPOSONLINE.COM, NABIRE — Kehilangan orang tua sejak kecil dan tumbuh di tengah situasi konflik di Kabupaten Puncak tidak memadamkan semangat Yones Magai dan Detinus untuk meraih pendidikan tinggi. Setelah melewati berbagai keterbatasan, keduanya berhasil menyelesaikan pendidikan dan meraih gelar sarjana di Sekolah Tinggi Agama Kristen (STAK) Nabire.

 

Bagi Yones, perjalanan menuju keberhasilan tersebut bukanlah hal yang mudah. Ia harus menghadapi kehilangan orang tua ketika masih duduk di bangku sekolah, menjalani kehidupan jauh dari kampung halaman, serta beradaptasi dengan lingkungan baru di Nabire.

 

“Waktu saya masih SD, mama saya meninggal. Kemudian ketika SMP, bapak saya juga meninggal. Jadi, ada banyak beban yang harus saya hadapi dalam kehidupan,” ungkap Yones saat diwawancarai di Asrama Puncak, Nabire, Selasa (27/10/2026).

 

Kehilangan orang tua membuat Yones harus melewati masa-masa sulit pada usia muda. Namun, ketika mulai tinggal di asrama dan bergaul dengan mahasiswa dari berbagai daerah, ia perlahan menemukan lingkungan yang memberinya dukungan untuk terus melangkah.

 

“Setelah saya masuk asrama dan mulai bergaul dengan teman-teman, saya mulai merasakan kekeluargaan. Dari situ saya belajar bahwa meskipun kami jauh dari keluarga kandung, ada orang-orang yang bisa merangkul dan mendorong kami untuk terus sekolah,” katanya.

 

Yones mengaku, dukungan dari lingkungan gereja turut memberikan motivasi baginya untuk bertahan dan menyelesaikan pendidikan. Sejumlah tokoh gereja terus mendorong anak-anak muda agar tidak menyerah dalam mengejar masa depan.

 

“Bapak-bapak di gereja selalu mendorong kami supaya sekolah harus diselesaikan. Mereka memberikan motivasi agar kami tetap berjalan dan mengandalkan Tuhan dalam melangkah ke depan,” ujarnya.

 

Pengalaman tersebut membuat Yones menyadari pentingnya lingkungan yang mendukung pendidikan. Baginya, kehadiran orang-orang yang bersedia merangkul dan memberikan semangat menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.

 

Perjuangan serupa dialami Detinus, mahasiswa asal Kampung Dorong, Kabupaten Puncak. Ia datang ke Nabire untuk melanjutkan pendidikan dengan kondisi harus menjalani kehidupan jauh dari orang tua.

 

Di tanah rantau, Detinus harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru sekaligus mencari dukungan agar dapat bertahan selama menempuh pendidikan. Ia mengaku selalu berdoa agar dipertemukan dengan orang-orang yang baik dan bersedia menerimanya.

 

“Saya datang dari kampung dan di Nabire tidak ada orang tua. Karena itu, saya selalu berdoa supaya bisa bergaul dengan orang-orang baik dan bisa tinggal bersama mereka,” ungkap Detinus.

 

Selama berada di Nabire, ia mendapatkan bantuan dari orang-orang yang menerimanya, termasuk dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Keterlibatannya dalam pelayanan gereja juga menjadi bagian dari perjalanan hidup yang membantunya terus bertahan dan menyelesaikan pendidikan.

 

Detinus menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan serta berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dirinya hingga berhasil meraih gelar sarjana.

 

Di tengah perjuangan tersebut, dukungan pemerintah daerah melalui bantuan pendidikan turut membantu mahasiswa asal Kabupaten Puncak menyelesaikan kuliah. Bantuan beasiswa yang diterima menjadi salah satu penopang untuk membayar biaya semester dan memenuhi kebutuhan selama tinggal di Nabire.

 

Yones mengatakan, mahasiswa menerima bantuan beasiswa sebesar Rp6 juta setiap enam bulan. Menurutnya, bantuan tersebut sangat berarti bagi mahasiswa yang harus hidup jauh dari keluarga dan memenuhi kebutuhan pendidikan secara mandiri.

 

“Kami bersyukur karena pemerintah daerah memberikan bantuan beasiswa. Uang itu bisa kami gunakan untuk membantu membayar biaya semester dan memenuhi kebutuhan sehari-hari selama tinggal di asrama,” katanya.

 

Ia berharap dukungan tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik oleh mahasiswa agar mereka mampu menyelesaikan pendidikan sesuai target waktu. Yones juga mengaku bangga karena dapat meraih gelar sarjana pada usia muda setelah melewati berbagai tantangan dalam kehidupannya.

 

Namun, bagi Yones dan Detinus, keberhasilan menyelesaikan pendidikan bukanlah akhir dari perjalanan. Keduanya berharap ilmu yang diperoleh selama kuliah dapat digunakan untuk membantu masyarakat di kampung halaman, terutama dalam bidang pendidikan.

 

Yones menyoroti kondisi pendidikan di sejumlah wilayah Kabupaten Puncak yang masih membutuhkan tenaga pendidik. Ia berharap semakin banyak putra daerah yang memiliki kesempatan mengenyam pendidikan tinggi dan kembali untuk melayani masyarakat.

 

“Di kampung masih ada tempat yang tidak memiliki guru. Jadi, setelah mendapatkan ilmu, saya ingin membawanya kembali ke kampung. Kami harus tetap semangat supaya anak-anak di sana juga bisa sekolah,” tutur Yones.

 

Sementara itu, Detinus menilai bahwa gelar sarjana saja tidak cukup untuk menjawab berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat di daerah asalnya. Menurutnya, pendidikan harus disertai pengetahuan, kemampuan, dan kemauan untuk terlibat langsung dalam pembangunan daerah.

 

Ia berharap generasi muda asal Kabupaten Puncak dapat memanfaatkan pendidikan sebagai bekal untuk membangun kampung dan mendorong kemajuan masyarakat.

 

“Gelar itu mudah kita dapatkan, tetapi hikmat dan pengetahuan harus kita ikuti melalui proses. Jadi, jangan hanya mengejar gelar, tetapi kita harus belajar dengan sungguh-sungguh supaya ilmu yang diperoleh bisa digunakan untuk membantu masyarakat,” ungkap Detinus.

 

Ia juga berpesan kepada mahasiswa asal Puncak yang masih menempuh pendidikan agar tidak menyia-nyiakan kesempatan yang dimiliki. Bantuan beasiswa, menurutnya, perlu dimanfaatkan secara bertanggung jawab agar pendidikan dapat diselesaikan tepat waktu.

 

“Pesan saya kepada teman-teman yang masih kuliah, mari kita gunakan beasiswa yang ada dengan baik. Kita harus punya target supaya pendidikan bisa selesai tepat waktu dan ilmu yang kita dapatkan bisa bermanfaat bagi daerah,” katanya.

 

Pesan serupa disampaikan Yones kepada anak-anak muda di kampung halaman. Ia berharap mereka tetap bersemangat bersekolah meskipun menghadapi keterbatasan dan berbagai tantangan dalam kehidupan.

 

“Untuk adik-adik di kampung, tetap semangat belajar. Baik yang masih SMP, SMA maupun yang ingin melanjutkan kuliah, jangan menyerah dan terus berusaha mencapai tujuan,” pesannya.

 

Bagi Yones Magai dan Detinus, gelar sarjana yang diraih menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk memperjuangkan masa depan.

 

“ Kami berharap ilmu yang diperoleh tidak hanya membawa perubahan bagi kehidupan pribadi, tetapi juga menjadi bekal untuk kembali mengabdi dan membangun Kabupaten Puncak, terutama dalam membuka kesempatan pendidikan yang lebih baik bagi generasi berikut setelah kami,” pungkas Yones. (*)

Editor : Lucky Ireeuw
Papua Tengah NABIRE