CEPOSONLINE.COM, MERAUKE – Sebanyak 13 personel Manggala Agni yang bertugas di kawasan Taman Nasional Wasur, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, terus melakukan upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Namun, luasnya kawasan yang mencapai sekitar 431 ribu hektare serta sulitnya akses dan keterbatasan sumber air menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan kebakaran.
Kepala Taman Nasional Wasur, Acha Anis Sokoy, menjelaskan bahwa personel Manggala Agni harus mempertimbangkan berbagai aspek sebelum melakukan pemadaman, terutama ketika kebakaran terjadi di kawasan yang sulit dijangkau dan berisiko tinggi bagi keselamatan petugas.
Dalam penanganan di lapangan, keselamatan personel menjadi pertimbangan utama. Apabila api masih berada di lokasi yang tidak mengancam permukiman maupun fasilitas umum dan telah memiliki sekat bakar yang memadai, petugas dapat mengambil keputusan berdasarkan penilaian risiko agar tidak memaksakan diri memasuki kawasan berbahaya.
“Keselamatan nyawa lebih penting dari segalanya. Kami harus berhitung dan memastikan teman-teman aman saat melakukan pemadaman,” kata Acha Anis Sokoy ditemui media ini di Kantornya, Selasa (27/10/2027).
Menurutnya, kebakaran di dalam hutan memiliki risiko yang tidak bisa dianggap remeh. Selain kondisi gelap pada malam hari dan asap tebal yang mengganggu jarak pandang, keberadaan satwa liar serta kemungkinan pohon tumbang juga dapat membahayakan petugas.
Salah satu kawasan yang menjadi perhatian adalah sekitar Kilometer 19, yang memiliki vegetasi cukup tebal dan menghasilkan asap yang dapat mengganggu masyarakat di sekitar kampung.
Dalam kondisi seperti itu, pengambilan keputusan di lapangan harus dilakukan secara cermat agar upaya memadamkan api tidak justru menimbulkan korban.
Selain keselamatan personel, keterbatasan sumber air menjadi persoalan penting dalam pemadaman karhutla, terlebih saat kemarau berkepanjangan menyebabkan rawa dan kolam mengering.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, petugas menggunakan peralatan pemadaman serta cairan khusus yang dicampurkan dengan air pada jenis penanganan tertentu. Campuran itu membantu air melekat pada vegetasi yang terbakar sehingga proses pembasahan dan pendinginan dapat lebih efektif.
Penggunaan campuran tersebut terutama dilakukan dalam pemadaman skala kecil dan tahap penyelesaian akhir setelah api utama berhasil dikendalikan.
Tahap penyelesaian akhir atau mopping up merupakan proses memastikan sisa bara dan titik panas yang masih berpotensi memicu kebakaran kembali benar-benar ditangani.
Meski demikian, metode tersebut tidak dapat diterapkan untuk seluruh situasi, terutama apabila lokasi kebakaran berada jauh di dalam hutan dan tidak dapat dijangkau petugas maupun peralatan yang tersedia.
Karena itu, dukungan sarana, ketersediaan air, kendaraan operasional, dan akses menuju lokasi menjadi faktor penting dalam memperkuat kemampuan penanganan karhutla di Taman Nasional Wasur.
Dalam pembahasan pemantauan satelit, turut disoroti indikasi kebakaran di sekitar wilayah perbatasan Indonesia dan Papua Nugini, khususnya di sekitar kawasan Kondo.
Berdasarkan penjelasan Acha, citra satelit internasional memperlihatkan indikasi kebakaran yang cukup luas di wilayah seberang perbatasan yakni di PNG.
Kondisi ini memunculkan dugaan bahwa sebagian kebakaran yang terpantau di sekitar Kondo berpotensi berkaitan dengan kebakaran dari wilayah Papua Nugini yang dipengaruhi kondisi alam dan arah angin.
Namun, asal kebakaran tersebut masih memerlukan verifikasi lebih lanjut melalui analisis data satelit, arah pergerakan api, serta kondisi angin. Indikasi dari citra satelit saja belum cukup untuk memastikan sumber awal kebakaran.
Acha menjelaskan, penanganan kebakaran di wilayah Indonesia menjadi tanggung jawab pihak berwenang di dalam negeri. Sementara itu, apabila terdapat indikasi kebakaran yang berasal dari wilayah negara lain, diperlukan koordinasi melalui jalur resmi antarpemerintah.
Persoalan lintas batas tersebut dinilai perlu mendapat perhatian agar penanganan kebakaran dan dampak asap dapat dilakukan secara lebih terkoordinasi.
Pemantauan karhutla dilakukan dengan memanfaatkan aplikasi SIPONGI milik Kementerian Kehutanan, yang menyediakan informasi mengenai titik panas, tingkat kepercayaan deteksi, serta data pendukung untuk membantu pemantauan kebakaran.
Dengan luas kawasan Taman Nasional Wasur yang mencapai sekitar 431 ribu hektare, keberadaan 13 personel Manggala Agni membutuhkan dukungan berbagai pihak dalam pengendalian kebakaran, terutama untuk menjangkau wilayah terpencil.
Karena itu, koordinasi dengan instansi terkait, termasuk BPBD Kabupaten Merauke, menjadi bagian penting dalam melindungi permukiman penduduk dan fasilitas umum dari ancaman kebakaran.
Acha juga mengimbau masyarakat agar berhati-hati menggunakan api, terutama ketika vegetasi dan lahan berada dalam kondisi kering.
Upaya pencegahan, pemantauan dini, serta penguatan sarana pemadaman diharapkan dapat mengurangi risiko meluasnya kebakaran di kawasan konservasi tersebut.(*)
Editor : Abdel Gamel Naser