
CEPOSONLINE.COM, MERAUKE – Titik panas (hotspot) yang terpantau di kawasan Taman Nasional Wasur, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, terus mengalami penurunan.
Berdasarkan data aplikasi Sistem Pemantauan Karhutla (SIPONGI) Kementerian Kehutanan, hingga pemantauan terakhir Senin (26/10) sore, tersisa lima titik dengan tingkat kepercayaan sedang (medium confidence).
Sementara itu, pada kategori tingkat kepercayaan tinggi (high confidence), tidak terdeteksi titik panas di kawasan tersebut berdasarkan data yang dipaparkan. Data pemantauan sekitar pukul 16.00 WIT itu masih menjadi acuan hingga Selasa (27/10).
Kepala Taman Nasional Wasur, Acha Anis Sokoy, menjelaskan, lima titik berstatus medium confidence tersebut berada di sekitar Kampung Kondo dan Kampung Tomerau, Distrik Naukenjerai. Lokasi yang cukup jauh dan sulit dijangkau menjadi tantangan tersendiri dalam upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Menurutnya, pemadaman secara langsung membutuhkan dukungan transportasi, personel, waktu, dan biaya yang tidak sedikit. Karena itu, untuk titik kebakaran yang sulit diakses melalui jalur darat, pihaknya berkoordinasi dengan instansi terkait guna mempertimbangkan bantuan pemadaman melalui udara.
“Kalau yang jauh dan tidak bisa dijangkau, kami koordinasikan untuk meminta bantuan water bombing, karena untuk menjangkau ke sana cukup sulit,” kata Acha Anis Sokoy menjawab pertanyaan media ini di kantornya, Selasa (27/10/2026).
Acha mengatakan, keterbatasan kendaraan dan sumber daya personel menjadi tantangan dalam penanganan karhutla di kawasan tersebut. Meski demikian, personel di lapangan, termasuk Manggala Agni, tetap melakukan upaya penanganan sesuai dengan kemampuan dan sumber daya yang tersedia.
Acha menjelaskan, dalam penanganan karhutla, pihaknya bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Merauke memprioritaskan upaya pengamanan kawasan permukiman, kampung-kampung, serta fasilitas publik yang berpotensi terdampak kebakaran.
Personel di lapangan berupaya memadamkan api yang mendekati rumah warga, jalan, jaringan listrik, dan fasilitas pemerintah agar tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerugian harta benda.
Menurutnya, kebakaran yang berada jauh dari permukiman dan sulit dijangkau membutuhkan penanganan berbeda dengan kebakaran yang secara langsung mengancam keselamatan masyarakat.
Untuk lokasi terpencil, koordinasi bantuan pemadaman dari udara menjadi salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan.
Ia menegaskan, keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas dalam upaya pengendalian karhutla di kawasan Taman Nasional Wasur dan sekitarnya.
Terkait perkembangan titik panas, Acha menjelaskan bahwa aktivitas manusia menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam upaya pencegahan karhutla.
Selama musim kemarau berkepanjangan, aktivitas masyarakat di kawasan rawa, termasuk mencari ikan, mulai berkurang karena sejumlah kolam dan rawa mengalami kekeringan. Kondisi tersebut dinilai turut mengurangi potensi penggunaan api untuk membakar vegetasi guna membuka area atau memudahkan aktivitas mencari ikan.



