Nasional Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Kesehatan Opini Advertorial

Mama-Mama Papua di Pasar Karang Minta Pemerintah Turun Tangan, Ongkos Ojek Melonjak Membuat Beban Hidup Makin Berat

Theresia F. Tekege • Senin, 29 Juni 2026 | 14:48 WIB
Kondisi pasar karang Nabire tempat mama-mama Papua mengais rezeki. (CEPOSONLINE.COM/THERESIA F. TEKEGE)
Kondisi pasar karang Nabire tempat mama-mama Papua mengais rezeki. (CEPOSONLINE.COM/THERESIA F. TEKEGE)

CEPOSONLINE.COM, NABIRE  – Fajar baru saja menyingsing ketika mama-mama Papua mulai berjalan menuju kebun. Di saat sebagian besar warga masih bersiap memulai aktivitas, mereka sudah lebih dulu memanen sayur, keladi, buah-buahan, cabai, hingga berbagai hasil bumi lainnya.

 Setelah hasil kebun terkumpul, mereka memikulnya menuju jalan raya untuk kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan ojek ke Pasar Karang, tempat mereka menggantungkan harapan demi menghidupi keluarga.

Rutinitas yang dimulai sejak sekitar pukul 05.00 WIT itu telah dijalani selama bertahun-tahun. Dari hasil berjualan di pasar tradisional, mereka membiayai kebutuhan rumah tangga, menyekolahkan anak-anak, hingga memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

 Namun belakangan, perjuangan itu terasa semakin berat. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) membuat tarif ojek melonjak, sementara harga pangan lokal yang mereka jual tidak selalu bisa mengikuti kenaikan biaya hidup. 

Akibatnya, keuntungan yang dibawa pulang semakin menipis, bahkan tak jarang hanya cukup untuk menutup ongkos perjalanan.

Di tengah kondisi tersebut, mama-mama Papua berharap pemerintah daerah tidak tinggal diam. Mereka meminta adanya langkah nyata agar beban yang kini mereka rasakan tidak terus bertambah.

Seorang mama penjual sayur, buah-buahan, dan bumbu, Mama Martina Butu, mengaku kenaikan ongkos transportasi menjadi persoalan yang paling dirasakan para pedagang. M

Mama Martina yang tinggal di Kompleks Batalyon Nabire, sekitar dua kilometer dari Pasar Karang, mengatakan tarif ojek yang sebelumnya hanya Rp5.000 kini meningkat menjadi Rp10.000 hingga Rp20.000, bahkan terkadang mencapai Rp30.000.

"Selama ini harga barang yang kami jual di pasar tetap saja. Tapi harga kebutuhan lain terus naik. Jualan juga kadang tidak laku. Dulu dari Pasar Karang ke Batalyon cukup Rp5.000, sekarang mereka minta Rp10.000, Rp20.000 bahkan sampai Rp30.000. Padahal jaraknya dekat," ujarnya saat ditemui wartawan di Pasar Karang, Senin (29/6/2026).

Menurut Mama Martina, keadaan tersebut membuat mama-mama penjual pangan lokal, bumbu-bumbu dan sayuran juga buah-buahan hasil kebun semakin terhimpit. Di satu sisi mereka harus mengeluarkan biaya transportasi yang lebih besar, sementara harga kebutuhan di kios dan toko juga terus meningkat.

"Kami mama-mama ini setengah mati. Harga di kios dan toko naik terus, penjual non OAP yang jual es-es di pasar kasih naik harga,  tapi harga  jualan kami belum naik bertambah. Kadang jualan juga tidak habis. Pada hal dari hasil jualan itulah kami biayai anak-anak sekolah dan penuhi kebutuhan keluarga. Kami bingung harus bagaimana," katanya.

Ia mengaku memahami bahwa para pengemudi ojek juga ikut terdampak kenaikan harga BBM. Namun menurutnya, pemerintah harus hadir memberikan solusi agar masyarakat kecil tidak terus menanggung beban tersebut.

"Kami mengerti ojek juga ikut karena BBM naik. Tapi pemerintah harus lihat kami juga. Kami harap pemerintah daerah bisa bekerja sama dengan Pertamina supaya harga BBM turun. Kalau BBM turun, ongkos ojek juga pasti turun dan masyarakat kecil seperti kami mama-mama tidak akan terbebani," harapnya.

Keluhan yang sama disampaikan mama penjual rambutan, keladi, bete, dan berbagai jenis sayuran asal Wadio Atas, Mama Dalina Migau. Menurutnya, selama ini mama-mama Papua berusaha mempertahankan harga hasil kebun agar tetap terjangkau bagi masyarakat. Namun ketika ongkos ojek, harga barang di kios, hingga kebutuhan sehari-hari terus meningkat, Mereka akhirnya tidak memiliki banyak pilihan selain akan menyesuaikan harga jual.

Ia mencontohkan, satu ikat bayam yang sebelumnya dijual seharga Rp5.000 kami akan terpaksa kasih naik harga menjadi Rp10.000. Hal serupa juga berlaku untuk berbagai jenis sayuran dan pangan lokal lainnya.

"Harga ojek naik, harga barang di kios juga naik, jadi kami juga akan kasih naik kami pu harga jualan. Kalau dulu satu ikat bayam Rp5.000, sekarang kami akan kasih harga menjadi Rp10.000. Begitu juga sayur dan pangan lokal lainnya. Kalau tidak begitu, kami yang rugi," tuturnya.

Bagi Mama Dalina, keputusan menaikkan harga bukan karena ingin mencari keuntungan lebih besar, melainkan agar mereka tetap bisa bertahan hidup di tengah biaya yang terus meningkat.

"Kami juga hidup untuk keluarga. Kami biayai anak-anak sekolah. Setiap hari kami naik ojek ke pasar, jadi kami juga tidak mau terus dirugikan. Mau tidak mau harga barang harus disesuaikan supaya kami juga bisa bertahan," ujarnya.

Bagi mama-mama Papua di Pasar Karang, kenaikan BBM bukan sekadar membuat ongkos ojek menjadi lebih mahal. Dampaknya ikut dirasakan sejak mereka memanen hasil kebun pada dini hari, membawa hasil bumi ke pasar, hingga menjualnya kepada masyarakat. Di balik setiap ikat sayur, tumpukan keladi, dan hasil kebun yang tersusun di lapak sederhana, ada perjuangan panjang seorang ibu Papua yang bekerja tanpa mengenal waktu demi memastikan dapur tetap mengepul dan anak-anak mereka tetap bisa melanjutkan pendidikan.

Melalui suara-suara sederhana dari Pasar Karang, mereka berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah nyata untuk menekan dampak kenaikan BBM terhadap masyarakat kecil. Sebab bagi mama-mama Papua, yang mereka inginkan bukan sekadar keuntungan lebih, melainkan kesempatan untuk tetap mencari nafkah dengan layak tanpa harus terus dibebani oleh biaya transportasi dan kebutuhan hidup yang semakin tinggi. (*)

Editor : Agung Trihandono
#Papua Tengah #Ceposonline.com #NABIRE