CEPOSONLINE.COM, MIMIKA — Insiden kekerasan jalanan kembali mengguncang Distrik Mimika Timur setelah puluhan pelajar sekolah menengah kejuruan (SMK) dilaporkan melakukan pengeroyokan brutal terhadap seorang sopir truk dan rekannya.
Peristiwa yang terjadi di persimpangan Jalan Logpon-Timika pada Senin 4 Mei 2026 siang ini, menyoroti meningkatnya kerentanan keamanan publik akibat perilaku agresif remaja di bawah pengaruh alkohol.
Insiden bermula sekitar pukul 12.45 WIT ketika sebuah truk Hino dengan nomor polisi L 8682 UT yang dikendarai oleh DYR (44) bersama rekannya DL (30), melintas dari arah Poumako menuju Timika.
Di tengah perjalanan, kendaraan mereka dihadang oleh kerumunan massa pelajar yang menuntut tumpangan paksa menuju Kampung Logpon.
Penolakan sopir, yang didasari urgensi medis karena harus mengevakuasi rekannya yang sakit ke Puskesmas Mapurujaya, justru memicu ledakan amarah para pelajar yang sebagian besar dalam kondisi mabuk.
Kapolsek Mimika Timur, Iptu Alex Soumilena, dalam konfirmasinya pada Rabu (6/5/2026), memaparkan kronologi ketegangan yang berujung pada aksi anarkis tersebut.
“Jadi, mobil truk ini dari arah Poumako mau ke Timika. Setibanya di TKP, puluhan pelajar ini menghentikan mobil tersebut dan meminta kepada sopir agar mengantar mereka ke Kampung Logpon, tetapi sopir menolak dan berkata “saya mau ke Timika,” ujarnya.
Perdebatan singkat di pinggir jalan tersebut dengan cepat memanas menjadi serangan fisik. Massa pelajar mulai menghujani truk dengan batu hingga mengakibatkan kaca depan hancur berantakan.
Dalam upaya keputusasaan untuk membela diri, DYR sempat keluar dari kabin, namun ia justru menjadi bulan-bulanan massa yang jumlahnya tidak seimbang.
“Sang sopir sempat turun dan mengeluarkan slang untuk memukul mereka dengan tujuan untuk menghindari aksi pengeroyokan itu, akan tetapi dikarenakan jumlah pelajar banyak dan dalam kondisi mabuk, sopir pun dikeroyok menggunakan tangan dan batu hingga kepalanya terluka,” jelas Iptu Alex Soumilena.
Laporan kepolisian mengestimasi terdapat sekitar 20 pelajar yang terlibat dalam aksi tersebut. Akibat serangan ini, korban menderita luka serius di bagian kepala dan harus mendapatkan perawatan intensif di Puskesmas Mapurujaya.
Aparat keamanan yang tiba di lokasi segera mengamankan situasi, menyita unit truk sebagai barang bukti, dan menahan salah satu pelajar untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
Kasus ini kini memasuki tahap mediasi formal namun tetap dalam pengawasan ketat hukum. Otoritas kepolisian telah menjadwalkan pertemuan lanjutan pada Kamis 7 Mei 2026 dengan melibatkan pihak sekolah, orang tua, dan pemilik kendaraan.
“Ada dari pelajar yang datang ke Polsek meminta agar persoalan ini segera diselesaikan. Tetapi kami arahkan untuk kembali pada Kamis bersama guru dan juga orang tua agar kami pertemukan bersama pemilik mobil truk tersebut dengan tujuan untuk diselesaikan,” pungkas Kapolsek.
Kejadian ini kembali memicu diskusi publik mengenai urgensi pengawasan terhadap peredaran alkohol di kalangan remaja dan perlunya intervensi pendidikan yang lebih kuat guna mencegah normalisasi kekerasan di wilayah Papua Tengah.
(*)
Editor : Lucky Ireeuw