CEPOSONLINE.COM, MIMIKA — Di sela keriuhan peringatan Hari Pendidikan Nasional, aspal Jalan Cenderawasih menjadi saksi bisu ambisi puluhan pemuda Mimika.
Di sana, para penggiat olahraga ekstrem yang tergabung dalam Komisi Indonesia Skateboarding (KIS) Kabupaten Mimika memamerkan kebolehan mereka, mulai dari lentingan high ollie hingga meluncur lincah di atas besi flat rail.
Namun, aksi ini bukan sekadar unjuk gigi; ini adalah bentuk protes halus sekaligus desakan kepada pemerintah daerah agar segera membangun skatepark sebagai kawah candradimuka bagi para atlet muda.
Selama ini, para pemain papan seluncur di Mimika harus bertaruh nyawa dan kenyamanan dengan berlatih di lahan parkir kendaraan yang keras dan tak sesuai standar.
Bendahara KIS Kabupaten Mimika, Rahmita Rumbou, mengungkapkan bahwa kehadiran mereka di ruang publik merupakan upaya untuk mengetuk pintu hati Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Dispora).
"Harapan kami Dispora bisa melihat penggiat kami yang kategorinya masih anak usia sekolah untuk dapat diperhatikan, dilengkapi, atau difasilitasi," ujar Rahmita.
Ia menekankan bahwa potensi atlet usia sekolah di Mimika sangat melimpah namun masih terabaikan.
Ironisnya, meski skateboarding telah masuk dalam deretan 23 Induk Organisasi Olahraga (Inorga) di bawah Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI), fasilitas pendukung di Mimika masih nihil.
Ketua Divisi Pelatihan KIS Mimika, Mitra Yarangga, menceritakan bagaimana para atlet harus mengakali keterbatasan dengan memanfaatkan area Pasar Baru untuk mengasah teknik.
“Hari-hari kita main di Pasar Baru, di street parkiran mobil, karena belum ada tempat untuk kita bisa latihan serius," kata Mitra saat ditemui di Timika.
Kesenjangan fasilitas ini menjadi kerikil tajam saat atlet Mimika terjun di ajang bergengsi seperti Festival Olahraga Rekreasi Nasional (FORNAS).
Menghadapi lawan dari kota-kota besar yang memiliki infrastruktur mumpuni, mental dan teknik atlet lokal kerap teruji secara tidak seimbang.
“Satu saja, kami cuma pengen punya skatepark. Karena lawan kita di FORNAS itu luar biasa, mereka punya skatepark yang memadai," tutur Mitra menambahkan.
Saat ini, KIS Mimika mengasuh sedikitnya 50 anggota, termasuk bibit muda yang baru menginjak usia sembilan tahun.
Angin segar mulai berembus dari pendopo kabupaten. Bupati Mimika, Johannes Rettob, menyatakan ketertarikannya untuk mengembangkan skateboarding sebagai bagian dari konsep sport tourism.
Bagi Rettob, keberadaan skatepark bukan sekadar tempat bermain, melainkan magnet pariwisata berbasis olahraga yang potensial bagi Bumi Amungsa.
Menanggapi keluhan para atlet, ia memberikan sinyal hijau bagi pembangunan fasilitas tersebut dalam rencana strategis pemerintah daerah ke depan.
"Pemerintah Kabupaten Mimika harus memperhatikan ini dengan baik. Tetap semangat, tetap tenang, kita akan lihat ini," ujar Johannes Rettob. Pernyataan sang Bupati kini menjadi pegangan bagi komunitas KIS Mimika yang tengah memfokuskan latihan fisik dan teknik dasar guna menatap FORNAS di Palu, Sulawesi Tengah. Bagi mereka, janji tersebut adalah bahan bakar untuk terus meluncur di atas aspal parkiran, setidaknya hingga mimpi memiliki taman beton sendiri terwujud. (*)
Editor : Agung Trihandono