Langkah-langkah Penanganan Konflik Kwamki Narama

Wahyu Welerubun • Dipublikasikan Rabu, 7 Januari 2026 | 11:52 WIB

 

Suasana pertemuan yang digelar dalam rangka membahas penyelesaian konflik Kwamki Narama bersama kelompok Dang di Pendopo Rumah Negara Sp3, Selasa 6 Januari 2026.
Suasana pertemuan yang digelar dalam rangka membahas penyelesaian konflik Kwamki Narama bersama kelompok Dang di Pendopo Rumah Negara Sp3, Selasa 6 Januari 2026.

CEPOSONLINE.COM, MIMIKA - Pemerintah Kabupaten Mimika akhirnya mengambil langkah dalam rangka menangani konflik berdarah di Kampung Amole, Distrik Kwamki Narama, Mimika, Papua Tengah. 

 

Seperti diketahui, konflik antara kelompok Dang dan kelompok Newegalen ini pecah akibat kasus perselingkuhan dan telah berlangsung sejak akhir bulan Oktober 2025 lalu hingga kini, dan telah menelan 11 korban jiwa serta puluhan korban luka panah. 

 

Dalam pernyataan resmi yang diterima media ini C Rabu (7/1/2026), untuk mengatasi konflik ini, pada Selasa, 6 Januari 2026 bertempat di Pendopo Rumah Negara, Bupati Mimika Johannes Rettob bersama Wakil Bupati Mimika Emanuel Kemong, menggelar pertemuan bersama para tokoh perang, kepala suku serta keluarga lima korban meninggal dunia dari kelompok Dang.    

 

Dalam pertemuan ini, Bupati dan Wakil Bupati Mimika mendengarkan langsung pernyataan dari pihak Dang mengenai langkah-langkah menuju perdamaian. 

 

Dalam kesempatan itu, Bupati menyampaikan bahwa pihaknya juga akan melakukan pendekatan dengan pihak Newegalen guna mencari solusi agar persoalan itu dapat segera diselesaikan. 

 

"Setelah dengar aspirasi bapa-bapak yang hadir, kami juga akan dengar aspirasi dari kubu sebelah. Kita mau segera berdamai supaya kita bisa melanjutkan aktivitas seperti biasa," ujarnya.

 

Lebih lanjut, jika pendekatan tersebut diterima, maka proses perdamaian akan berjalan sesuai mekanisme adat yang disepakati bersama.

 

Johannes juga meminta agar selama proses pendekatan berlangsung, kelompok Dang menahan diri dan tidak lagi melakukan aksi perang.

 

“Kami minta sementara proses berjalan bapa-bapa kelompok Dang jangan perang lagi. Kita dukung aparat keamanan supaya bisa damai,” tuturnya.

 

Wakil Bupati Mimika Emanuel Kemong menyatakan konflik itu harus segera dihentikan. Ia menyatakan, pertikaian yang telah berlangsung sekitar tiga bulan sudah banyak memakan korban, sehingga jalan damai menjadi satu-satunya pilihan.

 

Sementara itu, Wakil Bupati Puncak Naftali Akawal yang ikut hadir turut menyampaikan rasa syukur atas berlangsungnya pertemuan tersebut. 

 

Ia mengatakan, komunikasi damai antar warga ini perlu dibangun agar konflik yang telah menelan banyak korban itu segera berakhir. 

 

"Malam ini pemerintah membuka ruang seluas-luasnya bagi keluarga korban untuk menyampaikan aspirasi," ucapnya.

 

Sementara itu, Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Puncak Nenu Tabuni mengatakan, selama ini pemerintah tidak tinggal diam sejak konflik pecah. 

 

Ia menjelaskan, berbagai upaya telah dilakukan, diantaranya pertemuan bersama Kapolda, Kapolres, MRP, DPRP, hingga Gubernur Papua Tengah, Dandrem dan Bupati Mimika telah dilakukan.

 

“Kita ini orang Puncak. Perang terjadi di tanah Mimika, wilayah hukum Polres Mimika. Pemerintah Puncak dan Mimika akan melapor ke gubernur dan kapolda supaya proses perdamaian dipercepat. Sekarang kita mau dengar, mau damai atau lanjut,” katanya.

 

Salah satu tokoh dari kubu Dang, Benyamin menyampaikan, pihaknya siap berdamai apabila kubu Newegalen menerima penyelesaian korban terakhir. 

 

Ia mengatakan, bila kesepakatan tercapai, prosesi adat perdamaian siap dilakukan secepatnya. Perwakilan keluarga korban juga turut menyampaikan sikap serupa. 

 

Seorang Waemum menyebutkan, korban dari kedua kubu berasal dari marga yang sama yakni marga Magai, dan meminta Bupati Mimika, Wakil Bupati Mimika serta Sekda Puncak memfasilitasi agar Lukius Newegalen menerima korban terakhir.

 

“Kami keluarga Pinggir Kiwak dan Linus Kiwak sepakat damai. Kalau jenazah yang dibakar secara adat tadi diterima, berarti imbang. Kalau tidak, konflik bisa lanjut,” ujar perwakilan keluarga korban.

 

Pemerintah berharap langkah dialog ini menjadi pintu masuk perdamaian permanen, sehingga konflik yang terjadi ditengah masyarakat tidak kembali memakan korban jiwa dan stabilitas keamanan dapat terjaga.(*)

Editor : Lucky Ireeuw
bentrok 2 desa Kwamki Narama mimika Ceposonline.com Johannes Rettob konflik