Demi Mendapat Air Minum, Warga Distrik Waan Terpaksa Gali Lumpur

Yulius Sulo • Dipublikasikan Kamis, 5 November 2026 | 13:58 WIB
Yoseph Bladib Gebze.(CEPOSONLINE.COM/SULO)
Yoseph Bladib Gebze.(CEPOSONLINE.COM/SULO)  

CEPOSONLINE.COM, MERAUKE - Musim kemarau yang cukup panjang membuat masyarakat di Kabupaten Merauke kesulitan mendapatkan air bersih. Tak terkecuali masyarakat yang ada di Distrik Waan, Provinsi Papua Selatan.

Warga di kampung tersebut dilaporkan menggali dan memamfaatkan air lumpur  untuk bisa mendapatkan air tawar.  

Menanggapi informasi tersebut, Bupati Merauke, Yoseph Bladib Gebze, mengaku belum menerima laporan resmi terkait kondisi masyarakat di Distrik Waan yang dilaporkan terpaksa memanfaatkan air berlumpur untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari akibat kekeringan.

Bupati mengatakan, informasi mengenai kondisi masyarakat di wilayah Distrik Waan biasanya diperoleh melalui kepala distrik sebagai perpanjangan tangan pemerintah kabupaten di wilayah tersebut.

"Sampai saat ini saya belum mendapatkan laporan dari kepala distrik. Biasanya untuk penanganan bencana di wilayah Distrik Waan, informasinya saya peroleh dari distrik sebagai bawahan saya langsung," kata bupati Yoseph Bladib Gebze kepada wartawan di Merauke, Kamis (5/11/2026).   

Meski demikian, bupati memastikan akan segera mengecek  kondisi tersebut kepada kepala distrik. Jika ditemukan kondisi darurat yang dialami masyarakat, pemerintah daerah akan menindaklanjutinya melalui langkah penanganan yang diperlukan.

Ia menjelaskan, Pemkab Merauke telah menetapkan status darurat bencana untuk sementara waktu. Selain mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), pemerintah daerah juga memberikan perhatian terhadap ancaman kekeringan yang terjadi akibat fenomena El Nino.

"Setelah ini saya akan cek melalui kepala distrik. Kalau memang ada kondisi seperti itu, segera kita tindak lanjuti dan kita distribusikan bantuan," katanya

Bupati juga mengungkapkan, sebelumnya pemerintah telah membangun bendali atau penampungan air. Namun, fasilitas tersebut diduga belum berfungsi optimal karena kemungkinan kemasukan air asin.

Karena itu, pihaknya akan kembali mengecek kondisi bendali yang telah dibangun sekaligus mempertimbangkan pembangunan penampungan air di sejumlah wilayah yang mengalami kesulitan air bersih.

"Memang pada periode sebelumnya sudah dibangun bendali. Tetapi bendalinya mungkin kemasukan air garam sehingga belum bisa berfungsi dengan baik. Kita akan cek lagi supaya bisa dibuatkan bendali untuk wilayah-wilayah itu," jelasnya.

Selain Distrik Waan, perhatian pemerintah juga diarahkan ke wilayah Distrik Padua dan Tabonji yang mengalami kesulitan air saat musim kemarau.

Sementara itu, masyarakat di Distrik Kimaam relatif terbantu dengan keberadaan dua bendali di dekat bandara yang saat ini menjadi sumber air utama bagi warga.

Bupati menambahkan, apabila kondisi kekeringan semakin memprihatinkan, Pemkab Merauke akan berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Papua Selatan untuk memperkuat kolaborasi dalam penanganan bencana.

Untuk mempercepat penanganan, pemerintah daerah juga telah membuka posko penanganan bencana di Gedung Negara. Posko tersebut menjadi pusat koordinasi dan pemantauan informasi terkait berbagai potensi bencana, termasuk karhutla dan kekeringan.

"Selain Karhutla, pasti ada informasi tentang kekeringan dan lain sebagainya. Semua selalu dimonitor oleh teman-teman BPBD. Saya juga bisa mendapatkan informasi dari mereka," katanya.

Bupati berharap melalui koordinasi yang lebih cepat antara pemerintah daerah, BPBD, kepala distrik, dan pemerintah provinsi, kondisi masyarakat yang terdampak kekeringan dapat segera ditangani.

"Kalau ada kondisi seperti yang disampaikan teman-teman, saya segera akan cek supaya kondisi di lapangan bisa kita kendalikan. Jangan sampai jatuh korban," pungkasnya. (*)

Editor : Elfira Halifa
Merauke Ceposonline.com air minum