CEPOSONLINE.COM, MERAUKE – Staf Ahli Gubernur Papua Selatan Bidang Otsus, Soleman Jambormias, menantang pengurus Ikatan Dosen Asli Papua Selatan (IDAPS) periode 2026–2030 untuk tidak hanya membangun organisasi, tetapi juga menyiapkan kader-kader akademisi asli Papua Selatan agar mampu menduduki jabatan strategis di berbagai perguruan tinggi.
Tantangan tersebut disampaikan Soleman Jambormias saat mewakili Gubernur Papua Selatan dalam pelantikan pengurus Ikatan Dosen Asli Papua Selatan di Auditorium Kantor Bupati Merauke, Jumat (30/10/2026).
Menurutnya, organisasi tersebut harus memiliki arah perjuangan yang jelas, terutama dalam memperjuangkan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan memberikan ruang lebih besar bagi anak-anak asli Papua Selatan di dunia pendidikan tinggi.
Lebih lanjut, Soleman menantang para dosen asli Papua Selatan untuk memikirkan masa depan generasi akademisi di daerah tersebut.
Menurutnya, organisasi harus mampu menyiapkan kader yang nantinya bisa menjadi rektor, wakil rektor, dekan hingga menduduki jabatan strategis lainnya di perguruan tinggi yang ada di Papua Selatan.
"Anak-anak Papua Selatan mau bicara apa di perguruan tinggi yang ada di Papua Selatan? Saudara-saudara sudah persiapkan berapa orang yang nanti menjadi pemimpin di perguruan tinggi di Papua Selatan?" ujarnya.
Ia menegaskan, menjadi pengurus organisasi membutuhkan pengorbanan. Bahkan, ia mengingatkan bahwa kata pengurus berasal dari kata urus, sehingga setiap orang yang menerima amanah harus siap mengurus dan melayani kepentingan bersama.
Ia juga mengingatkan tiga konsekuensi yang harus dipahami setiap pengurus, yakni rugi waktu, rugi biaya dan rugi tenaga.
Namun, pengorbanan tersebut harus dilihat sebagai bagian dari perjuangan untuk melahirkan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak Papua Selatan.
Soleman juga mengingatkan agar para akademisi yang nantinya berhasil menduduki jabatan strategis tidak melupakan saudara-saudara lainnya yang masih membutuhkan kesempatan untuk berkembang.
Ia menilai, organisasi harus menjadi wadah untuk saling mendukung, mengaderkan dan memperjuangkan kesempatan bagi putra-putri asli Papua Selatan di lingkungan perguruan tinggi.
Selain itu, ia meminta pengurus segera melakukan pendataan jumlah dosen asli Papua Selatan yang bekerja di berbagai perguruan tinggi, termasuk Universitas Musamus, STIA dan perguruan tinggi lainnya.
Menurutnya, data tersebut penting sebagai dasar untuk mengetahui kondisi riil sekaligus menyusun langkah perjuangan dalam meningkatkan keterlibatan akademisi lokal.
Ia juga menyoroti pentingnya keterlibatan akademisi asli Papua Selatan dalam penelitian dan penyusunan kajian ilmiah mengenai daerah sendiri.
Dalam kesempatan itu, ia turut membagikan pengalaman perjuangannya ketika mengikuti seleksi pegawai negeri sekitar 1999–2000. Saat itu, menurut pengalamannya, lulusan D3 Universitas Cenderawasih menghadapi kendala karena formasi yang tersedia mensyaratkan pendidikan S1.
Namun, ia berupaya memperjuangkan agar lulusan D3 juga memperoleh kesempatan. Pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa peluang tidak selalu datang dengan sendirinya, tetapi membutuhkan keberanian dan perjuangan.
Karena itu, ia meminta para pengurus Ikatan Dosen Asli Papua Selatan tidak mudah menyerah dalam memperjuangkan kesempatan bagi anak-anak asli Papua Selatan, baik untuk menjadi dosen maupun menduduki jabatan strategis di lingkungan perguruan tinggi.
Ia berharap kepengurusan periode 2026–2030 segera menerjemahkan semangat organisasi ke dalam ide, gagasan dan program kerja konkret, termasuk membantu serta memperjuangkan kepentingan sesama dosen asli Papua Selatan.
"Orang berjuang itu tidak berpikir tentang jabatan atau kepentingan pribadi, tetapi bagaimana perjuangan itu memberikan manfaat bagi banyak orang," pungkasnya.
Sementara itu Ketua DPP IDAPS Lambert Airiga mengatakan, organisasi ini dibentuk bukan sekadar menjadi tempat berkumpul, tetapi sebagai wadah untuk menyatukan para putra-putri asli Papua Selatan yang telah menempuh pendidikan tinggi dan mengabdikan diri sebagai dosen.
"Organisasi ini bukan sekadar wadah berkumpul. Ia lahir dari sebuah kerinduan agar anak-anak asli tanah ini yang telah menempuh pendidikan tinggi dan mengabdi sebagai dosen tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling menguatkan," ungkap Lambertus.
Ia mengajak para dosen dari Merauke, Boven Digoel, Mappi dan Asmat untuk menghilangkan sekat-sekat perbedaan serta membangun persatuan melalui organisasi tersebut.
Lambertus menegaskan, amanah sebagai ketua bukanlah kehormatan pribadi, melainkan tanggung jawab bersama yang harus dijalankan dengan rendah hati. Ke depan, pihaknya akan membangun kerja sama dengan pemerintah daerah maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Provinsi Papua Selatan.
Dalam kesempatan itu, ia juga menjelaskan empat kata kunci yang menjadi semangat organisasi, yakni bersatu, berinovasi, berkontribusi dan berdaulat. (*)