CEPOSONLINE.COM, MERAUKE – Bupati Merauke Yoseph Bladib Gebze mengajak seluruh elemen masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, dan berbagai kelompok etnis untuk bergandengan tangan menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), khususnya di Kelurahan Kamaedoga, kawasan Gudang Arang.
Ajakan tersebut disampaikan Bupati saat peletakan batu pertama pembangunan Pos Polisi (Pospol) Gudang Arang, Rabu (28/10). Kehadiran pos polisi ini diharapkan menjadi langkah konkret untuk menjawab aspirasi masyarakat sekaligus mencegah terulangnya aksi kekerasan yang selama ini menjadi perhatian di wilayah tersebut.
Bupati mengatakan, pembangunan pos polisi itu merupakan jawaban atas aspirasi masyarakat, termasuk para guru dari sejumlah sekolah yang sebelumnya menyampaikan permintaan pembangunan pos melalui DPR Kabupaten Merauke. Ia berharap, dengan adanya Pospol tersebut, tidak ada lagi warga yang melewati kawasan tersebut menjadi korban penganiayaan.
Ia mengajak para tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta perwakilan berbagai etnis untuk membangun kesepakatan bersama agar peristiwa yang mengganggu keamanan tidak kembali terjadi.
“Sudah saatnya kita membuat satu peristiwa bermakna bagi kehidupan kita bersama. Saya mengajak kita semua, para tokoh adat, tokoh masyarakat, maupun semua etnis yang ada, mari kita bergandengan tangan,” ujarnya.
Sementara itu, Kapolres Merauke AKBP Leonardo Yoga mengapresiasi dukungan pemerintah daerah terhadap pembangunan pos keamanan yang diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat akan kehadiran aparat di kawasan Gudang Arang.
Kapolres mengatakan, pihaknya selama ini terus melakukan upaya preventif dan penegakan hukum untuk menangani berbagai persoalan keamanan. Namun, penindakan hukum saja belum cukup menyelesaikan persoalan apabila tidak diikuti kesadaran dan keterlibatan masyarakat.
Menurutnya, situasi konflik terkadang mereda setelah aparat melakukan penegakan hukum. Namun, beberapa waktu kemudian, insiden serupa kembali terjadi.
Bahkan, munculnya orang-orang baru yang terlibat konflik, terutama kalangan anak muda yang mulai beranjak remaja, menjadi perhatian karena berpotensi memunculkan pola regenerasi pelaku konflik.
“Ketika dilakukan penegakan hukum dan ada yang ditangkap, mungkin situasi bisa reda seminggu, bahkan sebulan. Tetapi setelah itu terjadi lagi. Seperti yang disampaikan pastor tadi, ternyata bukan orang-orang yang dulu, tetapi anak-anak muda yang baru beranjak remaja,” ungkapnya.
Kapolres menegaskan, masyarakat yang terlibat konflik tetap merupakan bagian dari keluarga besar masyarakat Merauke. Karena itu, penyelesaian persoalan harus mengedepankan pendekatan keamanan, sosial, dan keagamaan.
Pospol tersebut dibangun Pemkab Merauke melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Merauke lewat Perubahan APBD 2026.
Kepala Dinas PUTR Kabupaten Merauke Leo Patria Mogot mengungkapkan, Pospol yang berukuran Tipy 54 tersebut akan menghabiskan anggaran sekira Rp 500 juta.
‘’Target akan selesai dalam waktu satu bulan,’’ pungkasnya. (*)
Editor : Lucky Ireeuw