Nasional Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Kesehatan Opini Advertorial

Ritual Mandi Rupang, Tradisi Umat Budha Membersihkan Diri

Jimianus Karlodi • Minggu, 31 Mei 2026 | 13:47 WIB
Umat Budha kota Jayapura saat mengelar sembayang mandi Budha di Vihara Arya Dharma, Skyland, Minggu (31/5/2026). (CEPOSONLINE.COM/JIMI)
Umat Budha kota Jayapura saat mengelar sembayang mandi Budha di Vihara Arya Dharma, Skyland, Minggu (31/5/2026). (CEPOSONLINE.COM/JIMI)

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA - Menuju Puncak perayaan Waisak 2570 BE/ 2026, yang jatuh pada, Minggu (31/5/2026) sekira pukul 17.00 WIT, Vihara Arya Dharma, Skyland, Kota Jayapura, mulai ramai dikunjungi. 

Umat Buddha datang untuk berdoa dan melakukan puja serta memandikan Buddha Rupang di Vihara setempat. 

Diiringi dengan pembacaan syair dan pujian suci (Gatha), susana keheningan pun sangat terasa selama prosesi berlangsung.

Kepada Cenderawasih Pos di Vihara, Humas Vihara Arya Dharma, Romo Pandita Arya Dhammo mengatakan, mandi Buddha Rupang merupakan bagian kegiatan dalam peringatan Hari Tri Suci Waisak. 

Ritual ini merupakan simbol pembersihan dan penyucian diri lahir batin.

"Memandikan Buddha Rupang (yi po) tujuannya mengenang peristiwa kelahiran pangeran Sidharta Gautama. Setelah mandi Buddha Ruppang, air bisa dibungkus dan boleh dibawa pulang untuk dimasukan ke bak mandi. Sehingga anggota keluarga bisa mandi secara fisik dan mensucikan diri, terang Romo Arya, Minggu (31/5/2026).

Jelasnya, hal ini dilakukan untuk mensucikan kotoran-kotoran batin yang ada dalam diri kita sebagai manusia, termasuk menghilangkan kebencian dan keserakahan.

Dikatakannya, memandikan Buddha Ruppang di Vihara Arya Dharma Kota Jayapura dilaksanakan hanya satu hari saja yakni, Minggu (31/5/2026). Namun, kegiatan akan lebih fokus ke puja, kebaktian dan berdoa, termasuk mendoakan keselamatan bangsa dan negara terkhususnya kedamaian di tanah Papua.

Dijelaskannya, waisak bagi umat Buddha ditandai dengan tiga peristiwa penting. Pertama memperingati lahirnya Pangeran Siddharta Gautama. Ia dilahirkan pada 623 SM di Taman Lumbini. 

Kedua memperingati Pangeran Sidharta Gautama yang telah meninggalkan kehidupan keduniawian menjadi pertapa. Membina diri hingga akhirnya mencapai kesempurnaan menjadi Buddha pada usia 35 tahun.

"Ketiga peristiwa agung ini terjadi pada hari yang sama pada bulan purnama di bulan Vaisakha di tahun yang berbeda, yang kemudian menjadi tonggak utama ajaran agama Buddha," pungkas Romo Arya. (*)

Editor : Abdel Gamel Naser
#waisak #kota jayapura