Mayjen TNI Yosua Pandit Sembiring. (FOTO : Elfira/Cepos)
Agar Dekat Dengan Masyarakat, Kedepankan Pendekatan Persuasif
Menjadi pimpinan tertinggdi di jajaran Kodam XVII/Cenderawasih memang tak mudah, dengan situasi dan kondisi yang penuh tantangan namun sebagai prajurit hal tersebut harus dilaluinya. Apa yang akan dilakukannya selama menjadi Pangdam XVII/Cenderawasih?
Laporan- Elfira
Kurang lebih sebulan Mayjen TNI Yosua Pandit Sembiring menjabat sebagai Pangdam XVII/Cenderawasih menggantikan Mayjen TNI George Elnadus Supit, S.Sos melalui sertijab yang digelar di Aula Jenderal Besar A.H Nasution, Mabesad, Jakarta, Jumat (12/10) lalu.
Bagi Mayjen TNI Yosua Pandit Sembiring, masing-masing tempat tugas memiliki tantangan tersendiri. Namun, baginya terkait tantangan tugas di Papua adalah masalah letak geografisnya dan penduduk Papua menyebar hingga ke daerah pedalaman.
Namun letak geografis tersebut bukanlah sebuah alasan untuk dapat menjangkau masyarakat hingga ke pedalaman, dengan selalu memastikan kondisi masyarakat papua selalu aman dan nyaman.
“Nah, untuk memastikan kondisi masyarakat papua aman dan nyaman. Anggota saya kerap melakukan pastroli rutin, bahkan saya sendiri sudah beberapa kali ke daerah kendati belum sebulan tugas di Papua,” ucap pria dengan dua anak ini.
Kendati letak geografisnya yang luas, namun bukan berarti sebuah tantangan dalam hal pembangunan. Sehingga itu, dirinya mengajak masyarakat untuk saling bergandengan tangan dengan tidak melakukan tindakan-tindakan kriminalitas apalagi tindakan-tindakan yang kerap dilakukan Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB).
Baginya, kehadiran TNI dalam hal pengamanan dan menjamin masyarakat agar dapat bekerja dan beraktivitas dengan nyaman dan dalam menyelesaikan persoalan di papua, TNI sendiri lebih pada pendekatan persuasive.
Melihat Papua seperti apa ? “Biasa saja, karena sebelumnya saya pernah tugas di papua, jadi soal Papua bukan hal yang baru bagi saya,” ucapnya.
Untuk menyelesaikan persoalan di Papua, khususnya terkait dengan Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata pihaknya akan melakukan pendekatan persuasif, sebab pendekatan persuasif dianggap pendekatan yang sangat baik.
“Pendekatan persuasif itu merupakan pembinaan teritorial, pendekatan kemanusiaan, pendekatan kebudayaan, dan pendekatan lainnya yang harus dilakukan. Sehingga kita benar-benar menyentuh hati masyarakat,” ucapnya.
Terkait dengan penempatan dirinya di Papua, dalam pembinaan karir dan sudah tentu telah dipikirkan dengan matang oleh pimpinan.
Disinggung terkait pengamanan di area perbatasan, mengingat Indonesia dalam hal ini Papua berbatasan langsung dengan PNG. Yosua hanya melanjutkan apa yang telah ini, sebab manajemennya sudah ada sehingga pihaknya tetap melakukan kontrol sejauh mana fungsi itu berjalan.
Sementara itu, Cenderawasih Pos berhasil menghimpun rekam jejak Mayjen TNI Yosua Pandit Sembiring sebelum menjabat sebagai Pangdam XVII/Cendrawasih yang telah 32 tahun mengabdi sebagai perwira militer.
Sebagian besar masa tugas ayah dua anak ini dihabiskan di satuan elit tempur Kostrad, selain itu juga membekali diri dengan berbagai pelatihan militer serta penugasan-penugasan di dalam maupun luar negeri.
Pria yang hobi bersepeda dan menembak ini pernah memegang jabatan strategis diantaranya pada tahun 2002 dipercaya menjadi Danyonif 123/Rajawali, dua kali menjabat sebagai Dandim diantaranya tahun 2003 sebagai Dandim 0302/Inhu dan pada tahun 2005 menjadi Dandim 0203/LKT, sementara tahun 2009 sebagai Danbrigif 13/1/Kostrad.
Pada tahun 2019, Yosua pernah menjabat sebagai Danrem 142/Tatag Wirabuana dan tahun 2015 sebagai Irkostra dan pernah menjadi Kasgartap 1/Jakarta pada tahun 2015. Selain itu, pernah menjadi Kasdam 3/Siliwangi pada tahun 2016 dan tahun 2018 menjabat sebagai Wakil Komandan Kodiklat lalu kemudian diangkat menjadi Pangdam XVII/Cenderawasih menggantikan Mayjen TNI George Elnadus Supit, S.Sos.**
Editor : Administrator