MULAI RUSAK: Lokasi situs, tugu Pendaratan tentara Jepang pada Perang Dunia ke 2 di Abepantai saat dikunjungi, Kamis (23/8) kemarin. Banyak bagian situs yang mulai rusak. (FOTO : Gamel/Cepos)
Gapura Beton Tanpa Keterangan, Lokasi Sejarah Terkesan Terbiar
Papua menjadi satu daerah jajahan tentara sekutu yang menyisakan banyak lokasi sejarah. Sejarah sendiri bisa menjadi pelajaran berarti dari perjalanan sebuah bangsa. Di Jayapura sisa sejarah itu ada namun butuh sentuhan.
Laporan: Abdel Gamel Naser, Jayapura
Jika melihat dari lokasinya, Tugu Peringatan Pendaratan Tentara (Pasukan) Jepang pada Perang Dunia ke 2 sangatlah dekat. Hanya membutuhkan waktu sekira 10 menit jika melakukan perjalanan dari Distrik Abepura menuju Abepantai, tempat dimana lokasi tugu tersebut berada.
Posisinya juga hanya beberapa meter dari jalan utama dan langsung terlihat dari pinggir jalan. Hanya sayangnya meski mudah dijangkau, tempat bersejarah ini nampaknya kurang menarik perhatian warga.
Lokasinya terlihat terbiar begitu saja hingga ada banyak bagian bangunan yang kini rusak. Padahal ada banyak cerita sejarah yang bisa dijadikan pelajaran untuk menatap apa yang sudah terjadi pada masa lampau dengan perubahannya hingga kini. Tugu Peringatan Pendaratan Tentara Jepang ini berada di putaran taksi Abepantai dan persis di pinggir jalan dan dekat dengan perumahan warga.
Dari luar memang tak langsung menjelaskan jika di situ ada lokasi sejarah mengingat gapura beton berwarna putih yang nampak gagah berdiri ternyata tak menerakan penjelasan apapun tentang apa isi dari tempat yang dipagari tersebut. Bahkan sampai di pintu tugu juga tak terlihat penjelasan menyolok ada apa di lokasi dengan lebar 20 meter tersebut. Nantinya setelah menyimak pelan - pelan dari dua besi plang yang berisi banyak tulisan barulah ketahuan jika di situ merupakan lokasi sejarah.
Hanya berjarak sekira 2 meter dari pagar tugu terdapat dua plang yang tertulis Situs Tugu Peringatan Pendaratan Tentara Jepang pada Perang Dunia ke 2. Lalu di sebelahnya persis ada plang yang sama namun tertulis tulisan imbauan untuk menjaga warisan budaya nenek moyang dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak, tidak memindahkan bagian situs dan menghargai para pendahulu.
Kalimat ini tentunya kontradiktif dengan kondisi yang ada. Sebab dengan kurangnya perawatan dari pihak terkait maka dengan sendirinya bagian-bagian dari situs ini mulai rusak.
Sampah juga terlihat banyak berserakan termasuk rumput yang mulai meninggi dan pagar. Bahkan besi plang yang terlepas serta berkarat. Ilalang juga mulai merambat di bagian utama situs. Di sini yang menguatkan jika lokasi situs merupakan lokasi sejarah pendaratan tentanga Jepang adalah adanya batu berbentuk miring berukuran 80 Cm yang memang bertuliskan huruf atau kalimat bahasa Jepang.
Cenderawasih Pos yang nongkrong di lokasi selama 2 jam sempat bertemu empat mahasiswa/mahasiswi asal Jepang yang tinggal di Jakarta. Tanpa ragu setelah turun dari mobil, mereka pun mendekati pagar yang mengelilingi situs, tugu.
Sambil melirik, empat anak muda ini mengamati bagian dalam situs yang kebanyakan berkeramik putih. Hanya saja ketika ditanya tentang makna atau arti dari batu tulisan Jepang tersebut ternyata keempatnya tak bisa menjelaskan. "Itu bahasa Jepang dulu, kami tidak tahu persis artinya," kata salah satu pemuda Jepang tersebut.
Menurut Ketua RW 05 RT 02, Kelurahan Abepantai, Muhammad Thamrin Majid, lokasi situs ini terkadang dikunjungi para veteran Jepang. Hanya jumlahnya tak banyak. "Tapi dalam setahun pasti ada yang datang," katanya.
Menurut Thamrin di Abepantai seingatkan dulu ada banyak tulang belulang tentara Jepang namun tulang belulang tersebut sudah dikremasi dan dibawa pulang. Namun sisa-sisa perang tersebut masih ada. Warga Abepantai beberapa kali menemukan helm perang, samurai atau bahkan bayonet (pisau di ujung senapan) yang tak sengaja ditemukan saat dilakukan penggalian.
"Saya sendiri sempat menemukan bayonet dan masih ada sampai sekarang," kata Faisal, warga Abepantai.
Cenderawasih Pos juga berhasil menemui juru kunci yang merupakan warga sekitar, Hana Uyo. Wanita paro baya ini menjelaskan lebih detail tentang cerita tugu pendaratan tentara Jepang ini dibangun sejak tahun 1973 dengan tulisan bahasa Jepang di sebuah batu.
"Tulisan itu dibuat oleh salah satu anak tentara Jepang yang datang mencari orang tuanya. Namun karena tak ketemu akhirnya ia membuat tulisan yang artinya Laut dan Darat jadi saksi buta. Anak itu datang dari Hokaido, salah satu kampung di Jepang," beber Hana di kediamannya, kemarin.
Anak tersebut langsung pulang setelah tak berhasil menemui kedua orang tuanya. Kata Hana, ada kebiasaan orang Jepang yang sangat kental. Itu adalah, sangat menghormati jasa pejuang sehingga dimana ada lokasi yang berisi sejarah tentang Jepang maka dipastikan lokasi tersebut akan didatangi. "Mereka harus tahu cerita sejarah tentang pejuang Jepang dulu dan untuk Papua hanya ada tiga titik. Pertama Gua Jepang di Biak, lalu di Sarmi dan di Abepantai ini. Untuk situs ini terakhir diperbaiki itu tahun 2007 dan setelah itu terbiar begitu saja," katanya. (bersambung)
Editor : Administrator