Tak Patuh Minum Obat Bisa Berujung Fatal, Guru Besar Unair Ungkap Dampak dan Solusinya

Weny Firmansyah • Dipublikasikan Senin, 16 Februari 2026 | 10:23 WIB
Guru Besar Ilmu Farmasi Praktis Unair, Prof. Dr. apt. Yunita Nita, S.Si., M.Pharm.
Guru Besar Ilmu Farmasi Praktis Unair, Prof. Dr. apt. Yunita Nita, S.Si., M.Pharm.

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA – Ketidakpatuhan dalam mengonsumsi obat masih menjadi persoalan serius di dunia kesehatan.

 

Dampaknya tidak hanya memperburuk kondisi pasien, tetapi juga meningkatkan beban pembiayaan layanan kesehatan.

 

Dikutip dari Radar Surabaya, Guru Besar Ilmu Farmasi Praktis Universitas Airlangga (Unair), Prof. Dr. apt. Yunita Nita, S.Si., M.Pharm mengatakan obat berfungsi sebagai sarana pencegahan, penyembuhan, hingga peningkatan derajat kesehatan.

 

Namun, efektivitas terapi sangat bergantung pada kepatuhan pasien dalam mengikuti aturan penggunaan obat sesuai anjuran tenaga kesehatan.

 

Prof. Yunita menjelaskan, ketidakpatuhan konsumsi obat dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari faktor pasien, jenis terapi, sistem layanan kesehatan, hingga kondisi sosioekonomi.

 

“Ketidakpatuhan bisa bersifat disengaja ketika pasien menolak atau mengubah pengobatan, dan tidak disengaja ketika pasien gagal mengikuti pengobatan meski berniat melakukannya,” ujarnya, Minggu (15/2).

 

Pada penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit ginjal, ketidakpatuhan dapat mempercepat kerusakan organ.

 

Sementara pada gangguan kesehatan mental, kondisi tersebut berisiko memperburuk gejala, menurunkan kualitas hidup, meningkatkan angka rawat inap, bahkan memicu tindakan bunuh diri.

 

Selain berdampak klinis, ketidakpatuhan terhadap terapi juga memicu pemborosan biaya kesehatan. Pasien yang tidak rutin minum obat berpotensi mengalami kekambuhan atau komplikasi, sehingga membutuhkan perawatan lebih intensif dan biaya lebih besar.

 

 

Karena itu, Prof. Yunita menekankan pentingnya transformasi peran apoteker dari sekadar berorientasi pada produk menjadi berorientasi pada perawatan pasien (patient-oriented care).

 

Pendekatan ini dinilai efektif dalam meningkatkan kepatuhan minum obat sekaligus memperbaiki luaran klinis.

 

Edukasi pasien menjadi strategi utama untuk meningkatkan kepatuhan terapi. Pemahaman yang baik tentang penyakit dan manfaat pengobatan dapat mendorong pasien lebih disiplin menjalani terapi.

 

“Edukasi pasien melibatkan pemahaman kondisi kesehatan mereka dan pentingnya mematuhi pengobatan. Selain itu, pemberian alat bantu juga sudah banyak dilakukan,” jelasnya.

 

Di era digital, pemanfaatan teknologi kesehatan juga semakin relevan. Aplikasi seluler, sistem pemantauan elektronik, hingga telemonitoring dapat membantu pasien mendapatkan pengingat minum obat, memantau kepatuhan secara real time, serta membuka ruang intervensi cepat dari tenaga kesehatan.

 

Upaya kolaboratif antara pasien, apoteker, dan sistem layanan kesehatan menjadi kunci untuk menekan angka ketidakpatuhan konsumsi obat.

 

Dengan kepatuhan yang lebih baik, kualitas hidup pasien dapat meningkat dan beban sistem kesehatan pun dapat ditekan.(*)

Editor : Weny Firmansyah
kesehatan pasien terapi Ceposonline.com jantung