Nasional Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Kesehatan Opini Advertorial

Iran Resmi Tutup Selat Hormuz, AS Langsung Balas dengan Serangan Militer Baru

Weny Firmansyah • Minggu, 12 Juli 2026 | 14:36 WIB
Ilustrasi Selat Hormuz. (GEMINI AI)
Ilustrasi Selat Hormuz. (GEMINI AI)

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Teheran mengumumkan penutupan Selat Hormuz mulai Minggu (12/7) hingga waktu yang belum ditentukan.

Keputusan itu diambil menyusul insiden penembakan terhadap sebuah kapal yang dituduh melintasi jalur pelayaran tanpa izin, yang kemudian dibalas Washington dengan serangan militer terbaru ke target-target Iran.

Penutupan Selat Hormuz menjadi eskalasi paling serius dalam konflik kedua negara dan berpotensi mengguncang pasar energi global. Jalur laut strategis tersebut selama ini menjadi lintasan sekitar 20 persen perdagangan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia.


Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan pihaknya menghentikan sebuah kapal setelah kapal tersebut mengabaikan instruksi berulang untuk menggunakan koridor pelayaran yang telah ditetapkan.

"Setelah insiden ini... Selat Hormuz akan ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut dan hingga berakhirnya intervensi Amerika di kawasan ini. Tidak ada kapal yang akan diizinkan melintas," demikian pernyataan Garda Revolusi yang dikutip kantor berita resmi IRNA.


AS Sebut Iran Serang Kapal Sipil, Trump Perintahkan Serangan Balasan

Iran menyebut tindakan terhadap kapal tersebut hanya berupa 'tembakan peringatan'. Namun, militer Amerika Serikat memberikan versi berbeda.

Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menuduh Iran melakukan serangan terhadap kapal kontainer berbendera Siprus yang sedang melintasi Selat Hormuz.

 

Menurut CENTCOM, satu awak kapal dilaporkan hilang, sementara kapal mengalami kebakaran dan kerusakan pada ruang mesin hingga tidak dapat beroperasi.

Sebagai respons, Amerika kembali melancarkan serangan militer terhadap sasaran Iran.


Sebagai tanggapan, Amerika Serikat mengenakan biaya yang sangat besar kepada Iran dengan terus melemahkan kemampuan mereka untuk menyerang pelaut sipil dan kapal komersial yang melintasi selat secara bebas," tulis CENTCOM melalui akun resminya di X.

CENTCOM menyebut operasi yang dimulai Sabtu malam waktu Washington itu merupakan gelombang serangan ketiga dalam pekan ini dan dilakukan atas perintah Presiden Donald Trump.

 

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga melontarkan pernyataan singkat namun tegas.

"Iran membuat pilihan yang buruk. Sekarang mereka harus membayarnya."


Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia karena menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Sebagian besar ekspor minyak dan gas dari negara-negara Teluk melewati kawasan ini sebelum dikirim ke berbagai negara.

Karena perannya yang sangat strategis, setiap gangguan di Selat Hormuz berpotensi mengganggu rantai pasok energi global, mendorong kenaikan harga minyak, serta meningkatkan biaya perdagangan internasional.


Selama perang sebelumnya, Iran juga sempat menutup akses pelayaran komersial di selat tersebut. Kini Teheran kembali menegaskan akan mengendalikan seluruh lalu lintas kapal yang melintas.


Iran bahkan berencana menerapkan biaya bagi kapal yang menggunakan jalur tersebut dan menegaskan era pelayaran bebas seperti sebelum perang telah berakhir. Sikap itu ditolak Washington karena bertentangan dengan prinsip kebebasan navigasi di selat internasional yang diakui dalam hukum kebiasaan internasional.

Ketegangan terbaru terjadi ketika upaya diplomasi untuk mempertahankan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat semakin terancam gagal. (*)

Editor : Weny Firmansyah
#iran #amerika