CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA - Harga minyak mentah dunia kembali naik pada perdagangan Rabu (8/7/2026) akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas, di tengah meja perundingan perdamaian perang.
Sebagaimana dikutip dari JawaPos.com, dari kantor berita Reuters, kenaikan harga minyak mentah serangan Iran terhadap tiga kapal dagang di Selat Hormuz, yang direspons AS dengan mencabut izin umum (general license) penjualan minyak mentah Iran serta melancarkan serangan militer baru ke wilayah Iran.
Melansir Investing kontrak berjangka Brent turun 0,35 persen, menjadi USD 75,54 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) naik 1,9 persen, menjadi USD 71,82 per barel.
Direktur perdagangan energi berjangka Mizuho, Bob Yawger, menilai perkembangan terbaru menunjukkan meningkatnya ketegangan dibandingkan kesepahaman yang sebelumnya telah dicapai kedua negara.
"Jelas hari ini merupakan babak baru yang menjauh dari nota kesepahaman," ujar Yawger.
Yawger mengatakan, masih belum jelas apakah tindakan Iran dimaksudkan untuk menegaskan kendali atas Selat Hormuz atau sekadar menunjukkan kekuatan di tengah masa berkabung atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Pada Juni lalu, AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman yang bertujuan mengakhiri perang serta membuka kembali pelayaran di Selat Hormuz.
Direktur energi dan pengilangan ICIS, Ajay Parmar, menilai situasi saat ini menunjukkan bahwa gencatan senjata antara kedua negara masih sangat rapuh.
"Ini menunjukkan betapa rapuhnya gencatan senjata yang ada. Serangan lanjutan dapat kembali muncul sewaktu-waktu dalam beberapa bulan ke depan dan akan semakin meningkatkan volatilitas pasar," ujarnya.
Ia menambahkan, ancaman Iran untuk kembali menutup Selat Hormuz saja sudah cukup memicu lonjakan harga minyak yang signifikan
"Jika Iran kembali mengancam menutup Selat Hormuz, harga minyak akan melonjak tajam. Karena itu kami meyakini volatilitas pasar akan tetap berlangsung," ucapnya. (*)