Dedikasi Silas Mengemban Misi Kesehatan Bangsa Lewat Layar Gawai

Erianto Pasae • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 21:15 WIB
Duta Muda BPJS Kesehatan 2025, Hengky Silas Jonathan Kafiar (paling atas) saat berfoto dengan para murid salah satu SD di Kota Jayapura, Senin (6/7/2026)). (CEPOSONLINE.COM/ERIANTO).
Duta Muda BPJS Kesehatan 2025, Hengky Silas Jonathan Kafiar (paling atas) saat berfoto dengan para murid salah satu SD di Kota Jayapura, Senin (6/7/2026)). (CEPOSONLINE.COM/ERIANTO).

CEPOSONLINE.COM, ​JAYAPURA - Di antara tumpukan tugas sekolah dan kesibukan sebagai siswa SMK Negeri Khusus Pariwisata Papua, Hengky Silas Jonathan Kafiar membagi fokusnya untuk peran yang tak biasa. Silas, anak muda kelahiran Jayapura, 7 Oktober 2007, mengenakan selempang penanda identitasnya sebagai Duta Muda BPJS Kesehatan. 

 

Program nasional itu menyasar siswa tingkat SMA/SMK/MA/sederajat sebagai agen perubahan (agent of change) untuk mengedukasi generasi muda mengenai pentingnya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

 

​Keberanian dan semangat Silas mengambil peran itu tumbuh di tengah keluarga yang kental dengan iklim olahraga. Ibunya, Yemima Womsiwor merupakan mantan atlet atletik Papua berprestasi, sementara saudara kandungnya saat ini tengah ditempa menjadi atlet atletik di Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) Papua. 

 

Silas sendiri sempat mengikuti jejak keluarga dengan mengenyam pendidikan di PPLP Papua pada cabang olahraga angkat berat. Namun, menyadari passion-nya bukan menjadi atlet, Silas memilih jalan berbeda, mengasah kreativitas sebagai konten kreator dan komunikator publik.

 

Silas banyak mendapatkan apresiasi sebagai konten kreator muda. Berkat keterampilan dan konsistensinya mengasah kemampuan berkomunikasi di media sosial dan membuat konten-konten kreatif, ia mendulang banyak prestasi di tingkat daerah maupun nasional.

 

"Awalnya saya iseng-iseng saja edit-edit video dan berinteraksi di media sosial. Lama kelamaan saya mulai terbiasa dan senang kreativitas saya bisa diapresiasi oleh orang banyak," kata Silas kepada Ceposonline.com, Jumat (31/7/2026).

 

Dan kini, Silas tak pernah menyangka kehidupannya telah berubah drastis. Dari aktivitasnya sebagai konten kreator, ia kini menjadi salah satu tulang punggung keluarganya. 

 

"Silas anaknya sangat ceria. Dia selalu menghidupkan suasana di manapun berada. Dia belajar sendiri untuk berkreasi di media sosial, bahkan saya sering ikut dalam konten-konten yang dia buat. Sebagai orang tua saya bangga Silas kini bisa membantu keluarga dari keterampilannya membuat konten," kata Yemima, Ibunda Silas.

 

Juara Pertama Duta Muda 

 

Sebuah kesempatan emas didapati Silas Kafiar lewat sebuah ajang pemilihan Duta Muda BPJS Kesehatan 2025 lalu yang diikuti oleh 1.472 pelajar dari seluruh Indonesia.

 

Silas berhasil melangkah jauh dalam ajang itu. Setelah melalui penyisihan ketat dari tingkat cabang hingga kedeputian wilayah yang menyaring 126 peserta terbaik, 12 finalis terpilih untuk berlaga di tingkat nasional. 

 

Pada Malam Penganugerahan di Jakarta, November 2025 lalu, Silas resmi dinobatkan sebagai Juara Pertama Duta Muda BPJS Kesehatan 2025.

 

Ia sama sekali tak menyangka bisa terpilih sebagai juara pertama Duta Muda, sebab sebelumnya ia mengaku minder dengan kemampuan rekan-rekan sebayanya dari berbagai daerah di Indonesia.

 

"Bangga dan terharu bisa terpilih sebagai juara pertama Duta Muda BPJS Kesehatan. Saya tak pernah menyangka karena teman-teman yang lain juga punya kemampuan yang layak dan bagus," kata Silas.

 

Malam itu, menjadi awal perubahan dalam hidup Silas Kafiar. Sebuah tugas mulia berada di pundaknya demi misi menyehatkan anak bangsa melalui edukasi program JKN BPJS Kesehatan.

 

​Pilihan BPJS Kesehatan untuk melibatkan anak sekolah seperti Silas didasari oleh data statistik. Berdasarkan data BPJS Kesehatan per November 2025, kelompok usia 15–19 tahun merupakan komposisi peserta terbanyak. Selain itu, dari 143 juta pengguna media sosial di Indonesia, kelompok usia 13–24 tahun menjadi pengguna paling dominan.

 

​"Tugas saya sebagai duta muda menjadi representasi generasi muda peduli JKN. Jadi tugas utamanya adalah juru bicara untuk BPJS Kesehatan dalam segmen remaja," ujar Silas.

 

Iya sendiri meyakini perannya sebagai anak muda untuk mengedukasi tentang kesehatan sangatlah penting, menjadi motor penggerak dengan hadir di tengah masyarakat dan menjadi bagian untuk melahirkan solusi.

 

Semangat dan tekadnya untuk menjadi Duta Muda BPJS Kesehatan tumbuh untuk menjembatani kesenjangan informasi tentang kesehatan bagi anak-anak muda.

 

Ia juga terlibat aktif dalam kegiatan BPJS Kesehatan dalam segmen masyarakat, segmen remaja sebagai pembicara atau sebagai host. Salah satunya yang sekarang sedang ia buat pada akhir Juni hungga Juli ini yakni melaksanakan Duta Muda Edu-Tour, mengunjungi sekolah-sekolah untuk edukasi BPJS Kesehatan bagi remaja.

 

Menggagas Program Edukasi

 

​Menurut Silas, mengedukasi teman sebaya dan masyarakat Papua tidak cukup hanya dengan imbauan formal. Untuk menjawab tantangan rendahnya literasi digital dan informasi kesehatan di wilayahnya, ia merancang program berbasis aksi nyata.

 

​Salah satu inovasi yang ia jalankan adalah "Sasar Papeda" (Sasar Tempat-Tempat Berpotensi Tidak Memahami JKN). Melalui program itu, Silas turun langsung mendatangi wilayah-wilayah yang lingkungannya belum memahami manfaat JKN, termasuk kawasan 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). 

 

Selain itu, ia menginisiasi gerakan "Aksi Kreator JKN" untuk mengajak anak-anak muda Papua aktif menyebarkan konten positif tentang gaya hidup sehat di media sosial.

 

"Ada beberapa program yang saya jalankan, salah satunya Sasar Papeda. Jadi cara kerjanya saya mendatangi langsung tempat-tempat perlu mendapatkan edukasi dan pemahaman literasi JKN, termasuk di daerah 3 T," sebutnya.

 

Selain Sasar Papeda, Silas juga menggagas program "Aksi Kreator JKN". Dari program itu, ia ingin merangkul anak-anak muda di Papua untuk ikut membangun daerah dan memberikan dampak positif untuk Indonesia.

 

"Saya ingin anak muda tidak hanya menjadi penonton, tapi sebagai penggerak dan turut aktif menyebarkan informasi dan edukasi tentang gaya hidup sehat dan dampak positif program JKN," ujarnya.

 

Lewat layar gawainya, Silas konsisten memproduksi konten edukasi, termasuk memandu cara penggunaan Aplikasi Mobile JKN. Dari target minimal lima konten per bulan, Silas bahkan rutin menembus dua konten per minggu.

 

​"Untuk program kerjanya dari kantor pusat ada target capaian per bulan, salah satunya kampanye sosial media. Saya juga ikut BPJS On Air menjawab pertanyaan real-time peserta via TikTok, dan program Duta Muda Edutour pergi ke sekolah-sekolah untuk edukasi bagi remaja," papar Silas.

 

​Dampak dari konten-konten edukasi yang ia buat bahkan menjangkau pemirsa di luar Papua.

 

​"Beberapa waktu lalu kita briefing dengan kantor cabang, dan Ibu Kacab bilang bahwa konten-konten ini trennya sedang naik bahkan meluas sampai di luar Papua," kata Silas sambil tersenyum.

 

Grace, salah satu masyarakat yang mengaku banyak mendapatkan pemahaman tentang manfaat JKN bagi kesehatan keluarganya lewat edukasi yang diberikan oleh Silas Kafiar.

Sebelumnya, ia belum memahami seberapa pentingnya program tersebut.

 

"Saya banyak mendapatkan pemahaman lewat edukasi yang dipaparkan oleh Silas. Dari keterangan dan penyampaiannya kita akhirnya mengerti lebih jauh bahwa sangat lah penting masyarakat mendapatkan perlindungan dari JKN. Bukan itu saja, kita juga banyak mendapatkan informasi tentang kesehatan juga," kata Grace.

 

Dari Pengalaman Pribadi ke Panggung Nasional

 

​Di balik kegigihannya mengedukasi masyarakat, Silas menyimpan cerita pribadi yang mendalam. Keikutsertaannya dalam ajang Duta Muda menjadi salah satu bentuk pengabdian pertamanya di tingkat nasional. 

 

Silas sendiri merupakan peserta aktif JKN yang rutin menjalani pengobatan untuk gangguan kesehatan mental (anxiety disorder) yang diidapnya.

 

​"Berkat JKN, kondisi mental saya bisa lebih terkontrol. Ini salah satu cara saya menunjukkan bahwa saya sebagai anak Papua tidak boleh terpuruk, saya harus terus maju," ujar Silas.

 

​Tugas itu membawa tantangan tersendiri, mulai dari penolakan di lapangan hingga keraguan warga. Namun, penolakan tersebut ia jadikan bahan evaluasi untuk mencari pendekatan yang lebih humanis dan selaras dengan budaya lokal Papua. 

 

Kerja kerasnya juga memberikan dampak nyata bagi dirinya, insentif yang diterima dari pemenuhan target kinerja pertunjukan konten menjadi penopang mandiri kebutuhan sekolahnya selama satu tahun masa tugas.

 

​"Kita dibayar itu sesuai kita punya cakupan kinerja. Jadi kalau macam bikin konten, itu masuk dalam kita punya cakupan, nah itu nanti dibayarkan. Lumayan lah untuk membantu sekolah selama satu tahun," ungkapnya.

 

Tugas mulai yang diemban oleh Silas sebagai Duta Muda BPJS Kesehatan 2025 juga menjadi momen berkesan dalam hidupnya. Ia mengakui hal itu sebagai sebuah pengabdian dan dedikasi pertamanya di level nasional.

 

Dari balik layar gawai, dari sekolah ke sekolah, dari satu komunitas ke komunitas lain, ia berusaha memastikan program JKN tidak lagi terdengar asing.

 

"Tugas ini saya jalankan selama setahun, mengedukasi masyarakat secara luas tentang program Jaminan Kesehatan demi masa depan," tuturnya.

 

Peran Anak Muda dan Sinergi Program Pemerintah

 

​Indonesia saat ini didominasi oleh generasi muda. Di era komunikasi digital yang serba cepat, arus informasi bergerak dalam hitungan milisekon di mana setiap orang dapat menyebarkan sekaligus menerima umpan balik secara seketika. 

 

Hal ini mendorong BPJS Kesehatan untuk mengadopsi kemampuan beradaptasi secara cepat agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman, serta memanfaatkan media sosial sebagai peluang luas dalam sosialisasi dan edukasi jaminan kesehatan.

 

​Potensi besar generasi muda ini menjadi latar belakang digagasnya Program Duta Muda BPJS Kesehatan untuk merangkul peran generasi muda dalam menyuarakan pentingnya isu kesehatan, khususnya seputar jaminan kesehatan.

 

​Program Duta Muda BPJS Kesehatan Tingkat Nasional pertama kali diluncurkan pada 2025 dengan sambutan yang sangat antusias dari para pelajar tingkat SMA, MA, SMK, dan sederajat dari seluruh Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua. 

 

​Menurut M. Iqbal Anas Ma'ruf selaku Deputi Direksi Bidang Komunikasi Organisasi BPJS Kesehatan, program Duta Muda dirancang sebagai wadah untuk menumbuhkan kepedulian terhadap JKN sejak dini sekaligus melibatkan pelajar sebagai duta merek (brand ambassador) dalam menyampaikan edukasi kesehatan di sekolah, keluarga, komunitas, dan masyarakat luas. 

 

M. Iqbal Anas Ma'ruf menegaskan bahwa peningkatan pemahaman perlu diiringi aksi perubahan melalui berbagai inovasi komunikasi yang santai, interaktif, dan mudah dipahami anak muda, salah satunya lewat sesi tanya jawab di kanal TikTok kantor cabang BPJS Kesehatan.

 

"Melalui program ini diharapkan tumbuh kesadaran menjaga kesehatan adalah tanggung jawab bersama. Nilai gotong royong dan solidaritas sosial perlu ditanamkan sejak dini agar generasi muda tumbuh menjadi pribadi yang peduli, sehat, dan unggul," katanya, dikutip dari infoBPJS.

 

​Keberadaan Duta Muda ini juga sejalan dan saling melengkapi dengan program nasional pemerintah, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berfokus pada pemenuhan gizi demi mencapai SDM Unggul Indonesia Emas 2045. Langkah BPJS Kesehatan melalui program Duta Muda sebagai hal yang sangat strategis dalam memperluas jangkauan edukasi gizi di sekolah. 

 

Pakar Komunikasi Publik, Effendi Gazali menilai generasi muda memegang peranan penting dalam mengedukasi masyarakat tentang gaya hidup sehat dan jaminan kesehatan. Menurutnya, pesan kesehatan harus lebih banyak hadir melalui percakapan di platform media sosial dan media online. 

 

"Strategi komunikasi yang efektif untuk anak muda adalah yang benar-benar masuk ke dunia mereka," katanya.

 

​Dari sektor pendidikan, program ini juga dinilai memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan, kepemimpinan, dan budaya hidup sehat. Pendekatan komunikasi dari teman sebaya (peer-to-peer) menggunakan bahasa yang ringan dan media digital seperti video pendek, poster, serta podcast merupakan kunci agar pesan kesehatan dapat diterima dengan baik.

 

​Kehadiran Duta Muda seperti Silas menjadi elemen pendukung di tengah capaian Universal Health Coverage (UHC) di wilayah Papua. 

 

Saat ini, cakupan kepesertaan JKN di Provinsi Papua telah menembus angka 100 persen. Data terbaru dari BPJS menyebutkan, hingga akhir Juni 2026, sebanyak 1,122 juta jiwa lebih telah terdaftar sebagai peserta JKN.

 

Dalam konteks ini, peran Duta Muda menjadi krusial untuk memastikan tingginya angka cakupan tersebut diimbangi dengan pemahaman fasilitas dan keaktifan penggunaan layanan digital oleh generasi muda.

 

​Melalui pendekatan yang konsisten dan pemanfaatan media sosial, Hengky Silas Jonathan Kafiar dan para Duta Muda terus bergerak, memastikan bahwa pemahaman akan hak kesehatan tidak berhenti di lembaran dokumen, melainkan dipahami secara nyata oleh generasi penerus di Papua. (*)

Editor : Weny Firmansyah
kesehatan bangsa Ceposonline.com EKONOMI