Netty Pergi, Jenderal Ditangkap: Ketika Riset Doktoral Membaca Kerusakan Polri dari Dalam

Oleh: Dr. Agung Asmara, S.I.K., M.I.K. menyelesaikan disertasi doktoral di Program Doktor Ilmu Kepolisian STIK-PTIK dengan judul "Crab Mentality: Eksistensi, Mekanisme Kerja dan Dampaknya pada Polwan di Indonesia."
PADA akhir Oktober 2026, seorang perwira menengah bernama AKBP Dr. Netty Rosdiana Siagian menulis pesan perpisahan di Instagram: "Saya tidak takut melepaskan jabatan, tetapi saya takut mengkhianati kebenaran yang saya yakini." Ia mundur dari Polri. Diam-diam, bermartabat, tanpa gembar-gembor.
Empat hari kemudian, gempa sesungguhnya terjadi. Bareskrim Polri mengumumkan penetapan mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan dua jenderal lainnya sebagai tersangka dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto. Seorang Polwan memilih keluar karena tak mau kehilangan prinsip. Seorang mantan Kapolri ditangkap karena diduga kehilangan batas kekuasaan.
Dua peristiwa ini, yang terjadi nyaris bersamaan, bukan kebetulan. Keduanya adalah dua sisi dari keping uang yang sama: potret sebuah institusi yang sedang mengalami kerusakan dari dalam — dari puncak hingga fondasi.
Dan ada sebuah riset doktoral yang, tanpa direncanakan, telah membaca semua ini sebelum terjadi.



