Salah satu titik pemandangan alam yang berhasil diabadikan di Pantai Bukisi, Distrik Yokari beberapa waktu lalu.
Hingar bingar kebisingan suasana keramaian kota sangat terasa jauh dari keberadaan Pantai Bukisi. Sebuah kampung kecil yang letaknya nan jauh dan terpencil itu berada jauh dari pusat kota Sentani ibu kota Kabupaten Jayapura. Datang ke Bukisi hanya bisa diakses melalui separuh jalan darat lalu selebihnya mengarungi pesisir pantai dengan menggunakan mesin jonson atau speedboat.
Sesungguhnya tidaklah sulit untuk mencapai pantai Bukisi, hanya saja butuh sedikit kesabaran karena akses yang lumayan menantang. Namun apapun cerita pahit diawal perjalanan, di mana dimulai dengan menyusuri jalan berlubang, penuh liku dan curam selepas Kota Sentani, tapi justru akan terbayarkan ketika kaki sudah menapaki daratan di pelabuhan Pantai Depapre yang dibangun ala kadarnya itu. Ini menjadi titik awal perjalanan menuju tempat itu menggunakan spedboat.
Pagar bukit karang yang berjejer memanjang sepanjang Pantai Depapre hingga ke distrik Yokari terlihat jelas dan menjadi satu dari sekian keindahan yang dapat memanjakan mata selama perjalanan. Belum lagi gemuruh gulungan ombak panjang yang terlihat di sepanjang pesisir, terdengar kencang, terhempas ditepi karang meninggalkan buih lalu hilang. Setidaknya, suasana ini sesekali terlihat dan terdengar seiring tiupan arah angin yang datang.
"Huh kita butuh suasana seperti ini, bosan kalau di kota terus, sesekali begini boleh" ujar Andika dengan dialeg kental Papuanya.
Setidaknya Butuh waktu sekitar 30 hingga 40 menit selepas dermaga Depapre agar bisa tiba di pantai Bukisi, Distrik Yokari itu.Waktu yang tempuh yang dibutuhkan selama perjalanan tidak akan terasa dengan berbagai hadirnya kenampakan alam dan panorama yang tersaji indah sepanjang perjalanan. Tidak perlu khawatir dengan biaya yang harus di keluarkan untuk ongkos perjalanan. Perorang dikenakan Rp80 ribu untuk pulang pergi. Kalau sistem sewa sehari setidaknya biayanya sedikit mahal hingga Rp2 juta. Sehingga kalau boleh, sebaiknya tim biar bisa patungan.
Pesona pantai Bukisi yang hampir belum dijamah tangan modernisasi itu sangat cocok untuk sekedar melepas penat sesaat dari kebisingan dan hiruk pikuk suasana kota. Itu karena suguhan kemurnian alamnya yang masih terjaga hingga kini.
Lantas apa saja yang menjadi andalan pesona Pantai Bukisi itu. Pertama ketika tiba dimuara Kali Maru kita akan disuguhkan dengan pemandangan elok, lambaian nyiur yang seolah tumbuh diatas gundukan pasir membentang indah depan komplek perkampungan seperti menyampaikan pesan salam selamat datang di kampung itu.
Semakin kedalam, mengalir kali besar dengan airnyanya yang bening, namanya kali Maru. Kali itu menjadi andalan warga untuk memenuhi kebutuhan air. Dia terus mengalir dengan membawa sampah khasnya, ranting dan dedaunan kering yang patah dan gugur diterjang angin.
Airnya dingin alirannyapun tak beriak, ini menandakan kali itu cukup dalam sehingga bisa dilalui spedboat milik warga. Kali ini membentang dari Timur lalu membela bukit kemudian membagi dua kampung itu menjadi dua bagian.
Dibagian muara, terbentang hamparan pasir kali bak lapangan bola. Disisi luar tampak rumah warga berdiri berjejer mengahadap melingkar disekitar muara sungai. Ini menjadi kekhasan alam Bukisi. Bentangan alam yang masih alami itu semakin tersempurnakan oleh hadirnya hamparan alam pegunungan yang hijau, lahan sagu yang luas membingkai komplek perkampungan dan alam Pantai Bukisi. Sunyi dan lengang sudah akrab dengan suasana kampung. Tak ada bunyi mesin knalpot resing kendaran apalagi suara gemuruh pesawat, hanya sesekali terdengar bunyi desingan suara mesin spedboat yang memecah keheningan ditengah kampung.
Urusan makan tidak perlu khawatir karena selain keindahan alamnya, laut yang teduh itu telah menyediakan berbagai jenis ikan. Bagi yang punya hobi memancing, disekitar muara ada kakap payau, kepiting besar, Tengiri, Bobara.
Begitu juga yang punya hobi menyelam sambil memburu ikan, muara sungai itu sudah menyediakan ikan Kakatua dan Bobara Kapas. Menurut warga setempat ikan ikan itu kerap bermain disekitar muara dalam jumlah yang sangat banyak dan tidak kenal musim.
"Kalau malam mancing disini yang terpenting siap umpan banyak dan alat pancing. Ikan besar besar ada disini," jelas Gandi salah satu warga lokal setempat.
Sebenarnya potensi sumber daya alam dari Kampung Bukisi amat banyak, tidak saja diberikan alam yang indah, tetapi juga ada hasil bumi seperti ikan, sagu yang sangat melimpah. Namun sayang seribu kali sayang, sumber daya alam yang demikian melimpah itu belum ditunjang akses jalan. Karena meskipun sudah menggunakan transportasi speed boat namun biaya masih terasa mahal. Apalagi sistem pengolahan Sagu dan juga penangkapan ikan yang masih menggunakan cara tradisional dan tentu jumlahnya terbatas.
"Kalau kita bawa keluar bisa saja, tapi memang biaya tinggi. Makanya tidak bisa dijual kalau jumlahnya terbatas,"bebernya.
Nah bagi anda yang ingin kesana, silahkan mencoba, jangan ragu karena warga setempat sangat ramah dan siap menerima. Kalau untuk urusan komunikasi keluar, warga setempatlah yang tahu lokasinya. Karena kabarnya ada spot khusus untuk mendapat jaringan telepon, bukan 4G......hehehe...selamat berpetualang.*** Editor : Administrator