Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pelajar Nabire Pamerkan Aksesori Adat, Gaungkan Semangat Jaga Budaya Papua

T
Penulis: Theresia F. Tekege❯
Max Ismail Eriksen Rumatrai dari SMA Negeri 1 Nabire (tengah) foto bersama dengan teman-temannya yang menjaga stand pada pameran festival cahaya kreasi pelajar Papua Tengah di Bandara lama Nabire. (CEPOSONLINE.COM/THERESIA F. TEKEGE)
Max Ismail Eriksen Rumatrai dari SMA Negeri 1 Nabire (tengah) foto bersama dengan teman-temannya yang menjaga stand pada pameran festival cahaya kreasi pelajar Papua Tengah di Bandara lama Nabire. (CEPOSONLINE.COM/THERESIA F. TEKEGE)

Advertisement

CEPOSONLINE.COM, NABIRE-Berbagai aksesori tradisional khas Papua dipamerkan oleh pelajar Kabupaten Nabire dalam Festival Cahaya Kreasi Budaya Pelajar Papua Tengah Tahun 2026.

Melalui pameran tersebut, para pelajar tidak hanya memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada masyarakat, tetapi juga mengajak generasi muda untuk turut menjaga dan melestarikan warisan leluhur.

Salah satu yang menjadi perhatian pengunjung adalah stand pelajar Kabupaten Nabire yang menampilkan beragam aksesoris budaya, mulai dari mahkota atau ikat kepala, tameng dada, tameng bawah, ikat tangan, ikat kaki hingga berbagai perlengkapan adat lainnya yang sarat nilai budaya.

Advertisement

Juru Bicara Stand Pelajar Kabupaten Nabire, Max Ismail Eriksen Rumatrai dari SMA Negeri 1 Nabire, mengatakan seluruh aksesoris yang dipamerkan merupakan hasil karya yang membutuhkan proses panjang dan tidak mudah untuk dibuat.

“Untuk proses pembuatan bahan-bahan yang kami pamerkan di sini membutuhkan waktu yang cukup lama. Prosesnya tidak mudah karena dikerjakan secara teliti”

“Sementara untuk persiapan dekorasi stand, kami mulai lakukan sekitar satu hari sebelum kegiatan ini dilaksanakan,” ujar Max saat diwawancarai di sela-sela pembukaan Festival Cahaya Kreasi Budaya Pelajar Papua Tengah 2026, Rabu (24/6/2026).

Advertisement

Menurutnya, setiap aksesoris yang dipamerkan memiliki keunikan tersendiri karena dibuat dari perpaduan berbagai bahan. Salah satunya adalah ikat kepala yang dirancang menggunakan kulit kerang atau bia-bia, ukiran yang dibuat secara manual oleh pengrajin, serta bulu-bulu sintetis yang dirangkai menjadi satu kesatuan.

“Untuk ikat kepala sendiri terbuat dari campuran beberapa bahan seperti kulit kerang atau bia-bia, ukiran yang dibuat secara manual, dan bulu-bulu sintetis”

“Semua dirangkai menjadi aksesoris yang memiliki nilai seni dan mencerminkan identitas budaya Papua,” jelasnya.

Lebih dari sekadar menampilkan hasil karya, keikutsertaan para pelajar dalam festival tersebut juga menjadi bentuk kepedulian terhadap pelestarian budaya Papua di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.

Advertisement

Artikel Terkait

Pemprov Papua Tengah Fokus Tingkatkan Mutu Kopi, Petani Puncak Jaya Diberi Pelatihan

Pemprov Papua Tengah Fokus Tingkatkan Mutu Kopi, Petani Puncak Jaya Diberi Pelatihan

Pemerintah Provinsi Papua Tengah terus mendorong pengembangan sektor perkebunan, khususnya komoditas kopi.

Kukuhkan PSSI Papua Tengah, Exco PSSI Pusat Minta Pengurus Fokus Pembinaan Generasi Muda

Kukuhkan PSSI Papua Tengah, Exco PSSI Pusat Minta Pengurus Fokus Pembinaan Generasi Muda

 Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI Pusat, Vivin Cahyani Sungkono, meminta kepengurusan PSSI Provinsi Papua Tengah di bawah kepemimpinan

Kredit Fiktif Rp188 Miliar, Dua Aset Terpidana Bank Papua Laku Dilelang Rp917 Juta

Kredit Fiktif Rp188 Miliar, Dua Aset Terpidana Bank Papua Laku Dilelang Rp917 Juta

 Kejaksaan Negeri (Kejari) Nabire berhasil memulihkan keuangan negara sebesar Rp917.497.000 melalui pelelangan dua aset milik terpidana kasu

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer