Adventorial Advertorial Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Internasional Kesehatan KPU Papua Pegunungan Kuliner Life Style Lintas Papua Lintas Tabi Menyapa Nusantara Mob Dulu Pace Nasional Opini Otomotif Papua Papua Pegununungan Papua Selatan Papua Sport Papua Tengah Pemilugrafi Pendidikan Persipura Regional Sepakbola Dunia Sepakbola Nasional Top Stories Wisata Zodiak

Ini Sosok Pengganti Ayatollah Ali Khamenei

Abdel Gamel Naser • 2026-03-02 10:14:12

Alireza Arafi (Istimewa)
Alireza Arafi (Istimewa)

CEPOSONLINE.COM,JAYAPURA - Kematian Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel mengguncang struktur kekuasaan di Teheran. Di tengah meningkatnya ketegangan regional dan ancaman serangan lanjutan, elite Republik Islam kini berpacu dengan waktu untuk menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin tertinggi berikutnya.

 

Di saat yang sama, Teheran membalas dengan menargetkan sejumlah titik di kawasan Teluk. Presiden AS Donald Trump memperingatkan agar Iran tidak melakukan eskalasi lebih jauh dan mengisyaratkan bahwa tekanan militer bisa berlanjut. Ketegangan ini menambah urgensi proses suksesi di dalam negeri.

 

Seperti dilansir dari Jawapos.Com, Khamenei sendiri memimpin Iran sejak 1989, menggantikan Ruhollah Khomeini, pendiri Republik Islam. Selama lebih dari tiga dekade, ia menjadi otoritas tertinggi dalam sistem politik berbasis velayat-e faqih, konsep yang menempatkan ulama sebagai pemegang otoritas tertinggi negara.

 

Menurut konstitusi Iran, pemimpin tertinggi dipilih oleh Assembly of Experts, lembaga beranggotakan 88 ulama yang dipilih rakyat setiap delapan tahun. Namun, kandidat anggota lembaga ini harus terlebih dahulu lolos verifikasi oleh Guardian Council, badan pengawas yang sebagian anggotanya ditunjuk langsung oleh pemimpin tertinggi.

 

Jika posisi pemimpin tertinggi kosong karena wafat atau mengundurkan diri, Majelis Ahli akan bersidang untuk memilih pengganti dengan suara mayoritas sederhana. Kandidat yang dipilih harus seorang ahli fikih Syiah tingkat tinggi, memiliki kapasitas kepemimpinan politik, keberanian, serta kemampuan administratif.

 

Sepanjang sejarah Republik Islam, baru satu kali terjadi transisi kepemimpinan di level ini, yakni pada 1989 ketika Khomeini wafat dan digantikan oleh Khamenei. Merujuk Pasal 111 Konstitusi Iran, sebagaimana mengutip Al-Jazeera, kekuasaan sementara dijalankan oleh dewan transisi beranggotakan tiga orang hingga pemimpin definitif terpilih. Dewan ini terdiri dari Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Mahkamah Agung Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, serta satu ulama dari Guardian Council.

 

Ulama yang ditunjuk untuk melengkapi dewan tersebut adalah Alireza Arafi, tokoh berpengaruh di pusat pendidikan keagamaan Qom. Ia juga menjabat sebagai wakil ketua Majelis Ahli, lembaga yang akan menentukan pemimpin tertinggi berikutnya. Proses transisi ini disebut telah dipersiapkan sebelumnya. Sejumlah analis menilai struktur komando Iran tetap berjalan meski figur puncaknya gugur, karena sistem telah dirancang untuk menghadapi kemungkinan terburuk. (*)

Editor : Abdel Gamel Naser
#Perang Iran Amerika #Teheran #ali khamenei