CEPOSONLINE.COM, WAROPEN-Bagi masyarakat pesisir, laut adalah sumber kehidupan sekaligus pelataran rumah tempat anak-anak tumbuh.
Namun di Kampung Nubuai, dan disekitar dan hampir di wilayah pesisir Distrik Urfas selama bertahun-tahun, laut juga menjadi ancaman sunyi yang perlahan tapi pasti menelan jejak sejarah dan ruang hidup yang diwariskan oleh para leluhur.
Seperti Kisah Kampung Nubuai adalah kisah tentang sebuah penghormatan dan ikatan adat yang kuat.
Berpuluh-puluh tahun lalu, para tetua, moyang, dan tete (kakek) warga Nubuai datang dan menumpang di wilayah tersebut setelah mengalami musibah besar di kampung asal mereka.
Kehadiran mereka disambut dengan kehangatan adat yang luar biasa. Sebagai bentuk penghargaan dan persaudaraan, masyarakat hukum adat Sanggei menyerahkan sebidang tanah ulayat.
Selembar tanah harapan itu membentang sepanjang 800 meter dengan lebar 250 meter. Di atas tanah pemberian adat inilah, peradaban kecil Kampung Nubuai dibangun dan dirawat dari generasi ke generasi.
Namun kini, waktu dan alam mulai menguji ketahanan mereka. Memasuki era generasi keempat, tanah sejarah itu tidak lagi utuh.
“Hari ini kami generasi keempat ini, kami sudah terkikis kurang lebih 100 meter lah, sudah terambil daratannya oleh air laut,” tutur Musa Sawaki, perwakilan Tokoh Pemuda masyarakat hukum adat Kampung Nubuai, saat ditemui di pesisir Pantai Kampung Nubuai yang sedang dilakukan pekerjaan pemasangan beton pengamanan gelombang, Kamis (9/7/2026).
Jauh di seberang sana, di antara rimbunnya hutan bakau, terdapat tanah kehidupan asli mereka yang kini hanya bisa dipandang dari kejauhan.
Sementara di tempat yang mereka diami sekarang, kepadatan penduduk terus melonjak tinggi seiring berjalannya waktu.
Kekhawatiran mendalam sempat menyelimuti benak para pemuda. Pertanyaan tentang di mana anak-cucu mereka akan mendirikan rumah di masa depan, terus membayangi.
Titik terang itu akhirnya datang. Hendrik Maniagasi menyambut dengan gembira dan sukacita kehadiran proyek besar pengamanan pantai dari Pemerintah Provinsi Papua, wujud nyata dari kunjungan Gubernur Papua Mathius D Fakhiri ke Waropen beberapa bulan lalu.
Bagi generasi muda Nubuai, proyek ini bukan sekadar urusan semen, batu, dan beton dari pihak kontraktor. Proyek ini adalah benteng pertahanan terakhir untuk menyelamatkan sisa-sisa warisan ulayat.
“Ini merupakan kerinduan dan harapan kami. Ketika nanti besok kami generasi muda ini akan menikmati dan akan menjaga pantai ini, untuk anak-cucu kami,” kata Musa Sawaki. (*)
Editor : Elfira Halifa