Adventorial Advertorial Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Internasional Kesehatan KPU Papua Pegunungan Kuliner Life Style Lintas Papua Lintas Tabi Menyapa Nusantara Mob Dulu Pace Nasional Opini Otomotif Papua Papua Pegununungan Papua Selatan Papua Sport Papua Tengah Pemilugrafi Pendidikan Persipura Regional Sepakbola Dunia Sepakbola Nasional Top Stories Wisata Zodiak

Rekam Jejak Karier Sepak Bola Metu Dwaramury hingga Tutup Usia

Yohanes Palen • 2026-01-28 10:00:49

 

Metusala Dwaramury.
Metusala Dwaramury.

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA- Metusala Dwaramuri, atau yang lebih dikenal sebagai Mettu Dwaramuri.

Ia lahir di Pulau Doom, Sorong, Papua Barat Daya pada tanggal 25 Meret 1958 dan kini berusia 67 tahun.

Nama Metu Dwaramury cukup terkenal dijagat tanah air. Pasalnya ia menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah sepak bola Papua, khususnya Persipura Jayapura.

Semasa hidupnya, Metu dikenal sebagai sosok yang mendedikasikan diri untuk perkembangan sepak bola, baik sebagai bagian dari klub maupun sebagai figur panutan bagi para pemain.

Bagi Metu, Persipura adalah rumah kedua baginya. Sehingga kecintaanya kepada tim Persipura tak pernah pudar selamanya.

Metu Duaramury mengawali keterlibatannya di dunia sepak bola Papua sejak usia muda.

Kecintaannya terhadap Persipura Jayapura membuatnya konsisten memberikan dukungan dan pengabdian dalam berbagai peran.

Ia dikenal sebagai pribadi yang rendah hati, dekat dengan pemain, serta selalu hadir memberi semangat dalam setiap perjalanan tim.

Dalam perjalanan kariernya, Metu tidak hanya berkontribusi secara teknis, tetapi juga secara moral.

Metu kerap disebut sebagai sosok seorang “bapa” bagi para pemain Persipura karena sikapnya yang sabar, penuh perhatian, dan tidak pernah lelah mendukung tim, baik saat meraih kemenangan maupun ketika menghadapi masa sulit.

Dedikasi Metu menjadikannya sosok yang dihormati di lingkungan Persipura dan sepak bola di Tanah Papua.

Banyak pemain, termasuk Kapten Persipura Boaz Solossa, mengenangnya sebagai figur penting yang berperan besar dalam membangun kebersamaan dan semangat kekeluargaan di dalam tim.

Hingga tutup usia, Metu Dwaramury tetap setia mendukung tim Persipura Jayapura dan tak pernah pudar sedikitpun.

Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar Persipura dan masyarakat Papua.

Meski telah berpulang, jasa dan pengabdiannya akan selalu dikenang sebagai bagian dari perjalanan panjang sepak bola Papua.

Disisi lainnya karir sepak bola Metu Dwaramury dimulai usia 17 tahun, ia pertama membela Remaja Taruna sebuah klub lokal di yang bermarkas di Deplat, Distrik Jayapura Utara.

Dari sanalah ia mulai dikenal hingga ia berhasil lolos seleksi Persipura Yunior untuk ajang Suratin Cup.

Namanya mulai dikenal pecinta sepak bola tanah air, setelah turut serta dalam tur ke India bersama Tim PSSI Junior.

Karir sepak bola Metu tergolong berjalan mulus, iapun bergabung dengan Persipura Jayapura senior pada tahun 1976 bersama rekannya Rully Nere

Meski awalnya berposisi sebagai stoper, ia bertransformasi menjadi gelandang kiri yang penting bagi tim.

Salah satu puncak kariernya adalah membawa Persipura menjuarai Liga Perserikatan 1979 dan mengantarkan tim ke Divisi Utama, usai mengalahkan Persipal Palu dengan skor 4-2.

Saat itu Persipura di dilatih Hengki Heipon yang juga merangkap sebagai pemain ketika itu.

Tak hanya di level klub, Mettu juga pernah dipercaya mengenakan seragam Timnas Indonesia untuk Coca Cola Cup di Dhaka, Bangladesh, sekaligus membuktikan kualitasnya di level internasional.

Kemudian dia juga masuk dalam Timnas PSSI Utama pada kualifikasi Piala Dunia 1982 dan Timnas PSSI Pratama untuk Piala Merlion di Singapura.

Metu juga pernah tergabung dalam tim muda PSSI Banteng ketika masih menempuh pendidikan di Ragunan, bersama nama-nama seperti Zulham Efendi, Rismanto dan I Wayan Diana.

Namun kisah Mettu tidak berhenti sebagai pemain. Sejak 2002, ia menjabat asisten pelatih Persipura Jayapura.

Ia juga mendampingi pelatih Rahmad Darmawan serta berkontribusi dalam raihan gelar Liga Indonesia 2005 dan tiga kali juara Liga Super Indonesia bersama Jackson F. Thiago.

Kemudian ia juga ikut berkontribusi membawa Persipura juara pada Kompetisi Torabika Soccer Championship (TSC) tahun 2016.

Saat itu dirinya menjadi asisten pelatih dari Alfredo Vera pelatih asal Argentina.

Kemudian pada tahun 2017, Metu sempat dipercaya menjadi karateker pelatih Persipura bersama Alan Haviludin setelah mundurnya Lestiadi dari kursi pelatih Kepala Persipura.

Adapun karir di Persipura hanya sampai pada asisten pelatih, itu karena ia terbentur dengan lisensinya

Ia baru menyelesaikan lisensi AFC C pada tahun 2018, sebelum akhirnya ia menjadi pelatih kepala tim sepakbola Pra PON dan PON Papua Barat.

Kini nama Metu Dwaramury hanya tinggal kenangan. Namun sosoknya tetap dikenang sepanjang masa, sebagai seorang legenda Persipura dan sosok "bapa" yang rendah hati. (*).

Karier Sepak Mettu Dwaramuri:

1970: Bermain untuk Remaja Taruna FC dan Persipura Yunior.
1976–1980: Gelandang kiri Persipura senior, juara Perserikatan 1979
2002–2017: Asisten pelatih Persipura
2017: Karateker Pelatih Persipura
2018: Raih lisensi AFC C
2019–2020: Pelatih kepala tim Pra PON / PON Papua Barat

Karir Timnas Indonesia:

1978: Timnas PSSI Junior untuk TC Persiapaan Piala Asia U.20 di Bangladesh
1980: Timnas PSSI Utama, TC persiapan kualifikasi Olimpiade, Kualifikasi Olimpiade di Malaysia, Piala Presiden di Korea Selatan dan Turnamen Merdeka di Malaysia
1981: Timnas PSSI Utama untuk persiapan kualifikasi Piala Dunia tahun 1982.
1981: Kualifikasi Piala Dunia 1982
1981: TC persiapan SEA Games
1982: Piala Merlion di Singapura.

Editor : Yohanes Palen
#Rekam Jejak Karir #Ceposonline.com #Metusala Dwaramury #persipura jayapura