Gubernur Papua Ingatkan Warga, Bakar Lahan Bisa Picu Karhutla

Elfira Halifa • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 05:21 WIB
Gubernur Papua, Matius D Fakhiri.(CEPOSONLINE.COM/ELFIRA)
Gubernur Papua, Matius D Fakhiri.(CEPOSONLINE.COM/ELFIRA)

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA-Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah di Biak menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Papua.

Di tengah kondisi cuaca panas, Gubernur Papua, Matius D. Fakhiri meminta masyarakat menghentikan kebiasaan membakar lahan untuk membuka kebun maupun membersihkan areal.

Fakhiri menilai cuaca panas dapat meningkatkan risiko munculnya titik api dan mempercepat meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Karena itu, pencegahan harus dilakukan sejak dini dengan menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

“Saya sudah minta Kepala BPBD untuk cek. Tentunya kami tidak mau ada kebakaran hutan di Provinsi Papua,” tegas Fakhiri, Selasa (25/8/2026).

Menurut Fakhiri, kondisi cuaca di setiap wilayah Papua berbeda. Biak saat ini mengalami suhu yang cukup panas sehingga masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan munculnya kebakaran.

Ia juga berencana mengumpulkan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Papua untuk membahas penanganan kabut asap sekaligus memperkuat langkah pencegahan karhutla.

“Saya akan mengundang semua Forkopimda, kita bicara tentang bagaimana penanganan kabut asap yang ada di Papua. Ke depan kita tangani bersama dan secara cepat,” ujarnya.

Fakhiri menegaskan penanganan karhutla tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Peran masyarakat menjadi bagian penting dalam mencegah munculnya titik api baru.

Ia meminta warga meninggalkan kebiasaan membakar lahan saat membuka atau membersihkan kebun. Sisa vegetasi, kata dia, dapat dibiarkan terurai secara alami hingga menjadi humus yang bermanfaat bagi tanah.

“Jangan main bakar-bakar. Ini berisiko pada kebakaran hutan. Ini berdampak juga nanti untuk iklim, cuaca yang ada di Papua,” tegasnya.

Mantan Kapolda Papua itu mengajak masyarakat bersama-sama menjaga lingkungan. Menurutnya, pencegahan sejak awal diperlukan agar kebakaran tidak berkembang dan menimbulkan dampak yang lebih luas.

Selain mengancam kelestarian hutan, karhutla juga berpotensi mengganggu kualitas udara dan kesehatan masyarakat. (*)

Editor : Elfira Halifa
matius fakhiri papua BIAK karhutla