CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA – Kebiasaan yang sering dianggap sepele pada anak ternyata dapat berdampak serius terhadap pertumbuhan gigi, rahang hingga bentuk wajah. Salah satunya adalah kebiasaan tidur dengan mulut terbuka atau menganga, penggunaan dot berkepanjangan, hingga kebiasaan mengisap jari.
Hal itu disampaikan Dokter Spesialis Ortodonsia drg. Dhani Ayu Andini Sp.Ort dalam momentum peringatan Hari Kesehatan Ortodontik Sedunia atau World Orthodontic Health Day (WOHD) yang diperingati setiap tanggal 15 Mei.
Menurutnya, peringatan WOHD menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kesehatan mulut, penataan gigi yang tepat, serta manfaat perawatan ortodonti sejak usia dini.
“Hari Kesehatan Ortodonti Sedunia ini bukan hanya bicara soal merapikan gigi, tetapi juga bagaimana perawatan ortodonti dapat meningkatkan fungsi mulut, kepercayaan diri, hingga kualitas hidup seseorang,” ujar drg. Dhani Ayu Andini ke Cepos saat ditemui di Abepura, Jumat (15/5/2026) malam.
Ia menjelaskan, World Federation of Orthodontists (WFO) menetapkan peringatan ini untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya gigitan yang fungsional serta memperkenalkan peran dan keahlian dokter spesialis ortodonti dalam menangani berbagai kelainan gigi dan rahang.
Selain itu, masyarakat juga diingatkan agar memeriksakan kondisi ortodontik anak sejak usia 7 tahun agar potensi kelainan dapat diketahui lebih dini.
Saat ini, drg. Dhani Ayu Andini diketahui membuka praktik di Papua Orthodontic Clinic.
Kebiasaan Menganga Saat Tidur Berbahaya
drg. Dhani menjelaskan, kebiasaan menganga atau tidur dengan mulut terbuka dapat memicu berbagai masalah pada pertumbuhan wajah dan gigi anak.
Pada balita dan anak-anak, kebiasaan ini dapat menyebabkan perubahan bentuk rahang dan wajah yang berujung pada cacat paras atau kelainan bentuk muka apabila tidak ditangani sejak dini.
“Mulut yang terus terbuka saat tidur membuat posisi lidah tidak normal dan memengaruhi pertumbuhan rahang. Dampaknya bisa terlihat ketika anak mulai bertambah usia,” jelasnya.
Selain itu, pada remaja, kebiasaan tidur dengan mulut terbuka juga dapat menyebabkan rongga mulut menjadi kering sehingga risiko gigi berlubang meningkat lebih cepat.
Ia menyebutkan ada tiga kasus utama yang sering muncul akibat kebiasaan tersebut.
Pertama adalah protrusif atau gigi maju/tonggos, di mana rahang atas terlihat lebih maju dibanding rahang bawah.
Kedua adalah retrusif atau kondisi rahang bawah lebih maju dibanding rahang atas sehingga posisi gigi terlihat mundur.
Ketiga adalah open bite atau gigitan terbuka, yakni kondisi gigi depan atas dan bawah tidak dapat menutup sempurna.
“Kasus-kasus ini banyak dipengaruhi kebiasaan buruk sejak usia balita. Kalau dibiarkan, bentuk rahang dan wajah bisa berubah,” katanya.
Menurut drg. Dhani, dampak fisik akibat kebiasaan tersebut umumnya mulai terlihat pada usia 1 hingga 7 tahun, ketika masa pertumbuhan wajah dan rahang berlangsung sangat aktif.
Masih Bisa Diperbaiki Sebelum Dewasa
Meski demikian, perubahan posisi rahang dan gigi akibat kebiasaan buruk masih dapat diperbaiki apabila ditangani sebelum usia pertumbuhan selesai.
Ia menjelaskan, batas usia perawatan berbeda antara laki-laki dan perempuan karena masa pertumbuhan tulang yang juga berbeda.
“Untuk laki-laki biasanya masih bisa diperbaiki maksimal sampai usia 25 tahun, sedangkan perempuan sekitar 22 tahun. Sebelum melewati usia itu, perubahan rahang masih bisa dilakukan melalui perawatan dokter spesialis ortodonti,” jelasnya.
Penggunaan Dot dan Empeng Jangan Berlebihan
Selain kebiasaan menganga saat tidur, penggunaan dot atau empeng yang terlalu lama juga dapat merusak posisi gigi anak.
drg. Dhani mengatakan, kebiasaan menggigit dot terus-menerus dapat membuat posisi gigi menjadi tidak rata, bergelombang, terutama pada bagian depan.
Karena itu, ia menyarankan agar penggunaan dot dihentikan setelah anak selesai menggunakannya dan tidak dibiarkan terus berada di dalam mulut.
“Kalau dibiarkan terlalu lama, salah satu efek yang paling sering muncul adalah open bite atau gigi depan tidak tertutup,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan orang tua untuk menghindari penggunaan empeng karet kosong tanpa isi karena dapat memicu kebiasaan mengisap yang berdampak buruk bagi pertumbuhan rahang anak.
Tips Menjaga Pertumbuhan Gigi dan Rahang Anak
Untuk menjaga pertumbuhan gigi dan rahang tetap normal, drg. Dhani membagikan sejumlah tips sederhana bagi orang tua.
Di antaranya adalah membiasakan anak mengonsumsi makanan bertekstur agak kasar yang membutuhkan proses mengunyah.
Selain itu, orang tua juga diminta tidak terlambat maupun terlalu cepat mencabut gigi susu anak karena dapat memengaruhi pertumbuhan gigi permanen.
Ia juga menyarankan agar bayi lebih banyak mendapatkan ASI dibanding penggunaan susu dot.
“Posisi lidah saat istirahat seharusnya berada di langit-langit mulut, bukan di bawah. Anak juga jangan dibiasakan tidur sambil menganga,” katanya.
Tak hanya itu, kebiasaan mengisap jari, menggigit benda keras, hingga kebiasaan buruk lainnya juga perlu dihindari karena dapat menjadi faktor pemicu kelainan gigi dan rahang.
“Semakin cepat diketahui, semakin baik hasil perawatannya. Karena itu orang tua perlu memperhatikan kebiasaan kecil anak sejak dini,” tutupnya.(*)
Editor : Weny Firmansyah