CEPOSONLINE.COM, NABIRE-Jumlah titik panas (hotspot) di wilayah Papua Tengah terpantau menurun.
Berdasarkan pemantauan BMKG Nabire hingga Minggu (23/8/2026) pukul 21:00 WIT, tercatat sebanyak 378 hotspot yang tersebar di delapan kabupaten.
Forecaster Prakirawan BMKG Nabire, Euebio, menyampaikan pembaruan data titik panas tersebut berdasarkan hasil pemantauan pada 23 Agustus 2026.
“Puji Tuhan, hari ini pemantauan kami menurun,” kata Eusebio kepada media ini melalui seluler, Minggu (23/8/2026).
Menurutnya, dari total 378 hotspot tersebut, sebanyak 38 titik memiliki tingkat kepercayaan rendah, 307 titik tingkat kepercayaan sedang, dan 33 titik tingkat kepercayaan tinggi.
“Jumlah ini mengalami penurunan dibandingkan pemantauan sehari sebelumnya. Pada 22 Agustus 2026, tercatat sebanyak 653 hotspot, sehingga dalam sehari terjadi pengurangan sebanyak 275 titik panas,” jelasnya.
Ia menambahkan, meski mengalami penurunan, sejumlah wilayah masih mencatat hotspot dalam jumlah cukup tinggi. Kabupaten Dogiyai menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni 113 titik, disusul Nabire sebanyak 108 titik dan Paniai sebanyak 80 titik.
“Di Dogiyai, dari 113 hotspot yang terpantau, sebanyak 7 titik memiliki tingkat kepercayaan rendah, 92 titik sedang, dan 14 titik tinggi,” ujarnya.
Sementara di Nabire, terdapat 108 hotspot, terdiri dari 15 titik tingkat kepercayaan rendah, 85 sedang, dan 8 tinggi. Sedangkan Paniai mencatat 80 hotspot, dengan rincian 12 rendah, 62 sedang, dan 6 tinggi.
“Selanjutnya, Intan Jaya tercatat memiliki 33 hotspot, terdiri dari 31 titik tingkat kepercayaan sedang dan 2 titik tinggi. Puncak mencatat 27 hotspot, yakni 4 rendah, 20 sedang, dan 3 tinggi,” ujarnya.
Kemudian Deiyai terpantau memiliki 13 hotspot yang seluruhnya berada pada tingkat kepercayaan sedang.
Puncak Jaya terdapat 3 hotspot dengan tingkat kepercayaan sedang, sementara Mimika hanya tercatat 1 hotspot dengan tingkat kepercayaan sedang.
Dengan masih ditemukannya 33 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi, kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Papua Tengah tetap diperlukan.
BMKG berharap penurunan jumlah hotspot ini dapat terus berlanjut dan masyarakat semakin meningkatkan kewaspadaan, khususnya dengan menghindari aktivitas pembakaran hutan maupun lahan yang dapat memicu munculnya titik api dan memperluas wilayah terdampak karhutla.
“Masyarakat diharapkan ikut menjaga lingkungan dan segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran, sehingga potensi kebakaran dapat ditangani lebih cepat dan tidak meluas,” ungkapnya.(*)
Editor : Elfira Halifa