Papua Tengah Tersisa Satu Hotspot, Data BMKG Tegaskan El Nino Sangat Kuat

Theresia F. Tekege • Dipublikasikan Senin, 31 Agustus 2026 | 00:00 WIB
Titik Panas di Papua Tengah yang terbaca di satelit oleh BMKG Nabire per 30-31 Agustus 2026. (CEPOSONLINE.COM/BMKG Nabire For Cepos)
Titik Panas di Papua Tengah yang terbaca di satelit oleh BMKG Nabire per 30-31 Agustus 2026. (CEPOSONLINE.COM/BMKG Nabire For Cepos) 

CEPOSONLINE.COM, NABIRE — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Douw Aturure Nabire mencatat Papua Tengah kini tersisa satu titik panas (hotspot) berdasarkan hasil pemantauan terbaru per tanggal 30-31 Agustus 2026. 

 Di tengah berkurangnya jumlah titik panas tersebut, BMKG menegaskan kondisi El Nino saat ini berada pada kategori sangat kuat dan berpotensi masih menguat hingga akhir tahun 2026.

Berdasarkan informasi BMKG Stasiun Meteorologi Douw Aturure Nabire yang disampaikan kepada media ini, Senin (31/8/2026), satu titik panas yang terpantau berada di Kabupaten Puncak Jaya dengan tingkat kepercayaan sedang.

Hasil pemantauan pada periode 30 Agustus 2026 pukul 02.00 WIT hingga 31 Agustus 2026 pukul 02.00 WIT menunjukkan, Papua Tengah tidak memiliki hotspot dengan tingkat kepercayaan rendah maupun tinggi. Sementara satu titik dengan tingkat kepercayaan sedang terpantau di Kabupaten Puncak Jaya.

Sementara itu, Kabupaten Nabire, Mimika, Paniai, Puncak, Dogiyai, Intan Jaya dan Deiyai dilaporkan tidak terpantau adanya titik panas selama periode pemantauan tersebut.

“Dari hasil pemantauan hotspot tanggal 30 Agustus 2026 pukul 02.00 WIT sampai tanggal 31 Agustus 2026 pukul 02.00 WIT, di Provinsi Papua Tengah terpantau sebanyak 0 hotspot pada tingkat kepercayaan rendah, 1 hotspot dengan tingkat kepercayaan sedang, dan 0 hotspot pada tingkat kepercayaan tinggi,” demikian informasi BMKG.

BMKG menjelaskan, tingkat kepercayaan sedang menunjukkan kemungkinan cukup besar adanya titik api di lapangan. Sementara tingkat kepercayaan tinggi menunjukkan kemungkinan besar adanya api aktif yang perlu segera ditindaklanjuti.


Meski jumlah titik panas yang terpantau hanya satu titik, BMKG meminta masyarakat dan instansi terkait tetap meningkatkan kewaspadaan. Hal ini menyusul kondisi El Nino yang berdasarkan data terbaru berada dalam kategori sangat kuat.

BMKG mencatat nilai Southern Oscillation Index (SOI) sebesar minus 19,9 dan indeks Nino 3.4 sebesar positif 2,37. Kedua indikator tersebut menunjukkan status El Nino sangat kuat.

“Kedua nilai ini mengindikasikan status El Nino sangat kuat. El Nino diprediksi aktif pada periode bulan Mei-Juni, dan berpotensi masih menguat dalam beberapa bulan ke depan hingga akhir tahun,” demikian keterangan BMKG.

Kondisi tersebut menyebabkan berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah Papua Tengah. BMKG juga memprediksi puncak musim kemarau berlangsung selama Agustus hingga September 2026.

Menurut BMKG, El Nino yang terjadi bersamaan dengan musim kemarau dapat menyebabkan menurunnya intensitas hujan dan meningkatnya hari tanpa hujan. Kondisi tersebut juga berpotensi mengurangi ketersediaan air, meningkatkan suhu udara pada siang hari, serta membuat kondisi lahan menjadi lebih kering.

“Kondisi tersebut dapat meningkatkan potensi kebakaran lahan dan hutan,” demikian peringatan BMKG.

Karena itu, masyarakat diimbau tidak melakukan pembakaran secara sembarangan, baik untuk membuka maupun membersihkan lahan, termasuk membakar sampah, terutama di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan kering, semak belukar, hutan dan kawasan lainnya yang rawan kebakaran.

“Apabila menemukan titik api atau indikasi kebakaran, masyarakat diharapkan segera melaporkannya kepada pihak berwenang agar dapat ditangani sedini mungkin dan tidak meluas,” demikian imbauan BMKG.

BMKG juga meminta instansi terkait meningkatkan patroli terpadu, pengawasan terhadap aktivitas pembukaan lahan, serta memperkuat sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat di wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan.

Selain itu, masyarakat dan pemerintah daerah diminta terus memantau informasi cuaca, iklim, perkembangan fenomena El Nino dan informasi hotspot dari BMKG sebagai dasar untuk melakukan langkah antisipasi dan mitigasi. (*)

Editor : AdminDua
Papua Tengah karhutla