Resmikan Asrama Pelajar SMAK Asmat, Gubernur Apolo Tekankan Pentingnya Pendidikan Karakter

Yulius Sulo • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 10:36 WIB
Gubernur Papua Selatan, Apolo Safanpo saat meresmikan Laboratorium SMAK Seminari Yohanes Penginjil Asmat, Sabtu (1/8/2026).(CEPOSONLINE.COM/BIRO UMUM PAPSEL) 
Gubernur Papua Selatan, Apolo Safanpo saat meresmikan Laboratorium SMAK Seminari Yohanes Penginjil Asmat, Sabtu (1/8/2026).(CEPOSONLINE.COM/BIRO UMUM PAPSEL) 

CEPOSONLINE.COM, MERAUKE-Gubernur Papua Selatan, Apolo Safanpo, menegaskan pentingnya pendidikan karakter sebagai fondasi utama dalam membentuk generasi mudayang utuh.

 

Penegasan tersebut disampaikan saat meresmikan Asrama Pelajar dan Laboratorium Komputer SMAK Seminari Yohanes Penginjil Asmat, Sabtu (1/8/2026).

 

Gubernur Apolo menjelaskan, secara umum penyelenggaraan pendidikan di seluruh dunia memiliki dua tujuan utama. Pertama, memberikan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada peserta didik atau knowledge education. Kedua, membekali peserta didik dengan keterampilan (skill education).

 

Menurutnya, ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan merupakan kompetensi yang terus dikejar oleh setiap lembaga pendidikan. Namun, lembaga pendidikan berbasis keagamaan sejak dahulu menempatkan pembentukan karakter sebagai tujuan utama.

 

"Tujuan utama pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga keagamaan adalah mendidik anak agar berlaku jujur, adil, disiplin, serta menghargai dan menghormati orang lain. Inilah yang disebut pendidikan nilai atau value education," ujar Apolo.

 

Ia mengungkapkan bahwa Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menekankan pentingnya pendidikan budi pekerti atau pendidikan karakter sebagai bagian dari tujuan pendidikan nasional.

 

Menurut Apolo, pembangunan pendidikan nasional diarahkan untuk menghasilkan manusia Indonesia yang utuh, yakni memiliki tiga unsur yang saling melengkapi, yaitu karakter atau budi pekerti, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta keterampilan.

 

"Kalau salah satu unsur itu tidak dimiliki, maka seseorang belum menjadi manusia yang utuh," katanya.

 

Ia mencontohkan, seseorang yang memiliki kecerdasan, ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan tinggi, tetapi tidak jujur, tidak adil, tidak disiplin, serta tidak menghargai orang lain, belum dapat disebut sebagai manusia yang utuh.

 

Sebaliknya, seseorang yang memiliki karakter baik namun tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan juga belum memenuhi tujuan pendidikan nasional.

 

Karena itu, menurutnya, sistem pendidikan berasrama yang diterapkan lembaga pendidikan keagamaan sangat relevan untuk membentuk karakter peserta didik.

 

"Dengan pola asrama, anak-anak dididik untuk hidup jujur, adil, disiplin, saling menghargai, dan menghormati sesama," ujarnya.

 

Apolo juga menegaskan bahwa sepanjang sejarah peradaban manusia, seseorang dipercaya menjadi pemimpin bukan semata-mata karena kepintaran atau kemampuan akademiknya, melainkan karena memiliki integritas, kejujuran, keadilan, disiplin, serta mampu menghargai dan menghormati orang lain. (*)

Editor : Elfira Halifa
Ceposonline.com PAPUA SELATAN