Kabut asap yang menyelimut wilayah Manokwari terpantau dari ruas jalan di kawasan Kantor Gubernur Pa

Agung Trihandono • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 10:53 WIB
Kabut asap yang menyelimut wilayah Manokwari terpantau dari ruas jalan di kawasan Kantor Gubernur Papua Barat, Arfai, Distrik Manokwari Selatan, Kabupaten Manokwari, Senin (5/10/2026). (CEPOSONLINE.COM/ANTARA/Fransiskus Salu Weking)
Kabut asap yang menyelimut wilayah Manokwari terpantau dari ruas jalan di kawasan Kantor Gubernur Papua Barat, Arfai, Distrik Manokwari Selatan, Kabupaten Manokwari, Senin (5/10/2026). (CEPOSONLINE.COM/ANTARA/Fransiskus Salu Weking) 

CEPOSONLINE.COM,JAYAPURA  - Kasus kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di sejumlah kabupaten di Papua Barat  masih saja terjadi. Bahkan, seribu lebih titik api kembali muncul  seiring dengan cuaca panas yang terjadi di wilayah ini pada awal Oktober 2026 ini. 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Papua Barat pun mengupayakan operasi modifikasi cuaca serta pemadaman melalui udara untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah kabupaten.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Papua Barat Danang Tri Soesilo di Manokwari, Senin, mengatakan pemerintah provinsi telah berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan BP LNG Tangguh untuk mendukung penanganan karhutla melalui udara.

“Kami sedang membangun komunikasi untuk penanganan melalui udara, baik dengan skema water bombing maupun operasi modifikasi cuaca,” kata Danang seperti dilansair Antara, Senin (6/10/2026).

Menurut dia, pemadaman melalui udara diperlukan karena upaya penanganan menggunakan peralatan jalur darat menghadapi sejumlah kendala, terutama keterbatasan personel, peralatan, serta akses menuju lokasi kebakaran.

Kondisi karhutla seperti yang terjadi di Kabupaten Fakfak sangat sulit dipadamkan karena sebagian wilayah terdampak merupakan kawasan ditumbuhi alang-alang dan sebagian lainnya berupa lahan gambut.

“Pemadaman yang dilakukan menggunakan peralatan di darat sangat susah karena banyak hambatan, makanya kami butuh skema operasi modifikasi cuaca atau OMC,” ujarnya.

Sebelumnya, kata dia, BPBD Papua Barat mendapat dukungan dua helikopter water bombing dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan LNG Tangguh untuk penanganan Karhutla pada September 2026.

Dua helikopter tersebut kemudian dialihkan ke Kalimantan setelah operasi pemadaman di Papua Barat saat itu dinyatakan selesai. Namun, per 1 Oktober 2026, terdeteksi 1.294 titik panas (hotspot) di sejumlah kabupaten.

“Fakfak menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 659 titik, sementara kebakaran juga masih terpantau di Kabupaten Teluk Bintuni,” kata Danang.

Selain karhutla di wilayah Papua Barat, menurut dia, kabut asap saat ini menyelimuti sejumlah daerah, termasuk Manokwari dipengaruhi pergerakan massa udara yang membawa asap dari Provinsi Papua Selatan, dan Papua Nugini (PNG).

BPBD Papua Barat kemudian berkoordinasi dengan BPBD Merauke, Papua Selatan untuk memastikan kondisi dan sebaran kabut asap yang bergerak mengikuti arah angin hingga memengaruhi wilayah kepala burung.

“Berdasarkan pemantauan per 1 Oktober 2026, wilayah Papua Selatan tercatat memiliki 2.658 titik panas yang sebagian besar terpantau di Kabupaten Merauke,” ucap Danang.

Dia menyebut bahwa BPBD Papua Barat terus memantau perkembangan titik panas dan pergerakan kabut asap sebagai dasar menentukan langkah penanganan bersama pemerintah pusat serta pihak terkait. (*)

Editor : Agung Trihandono
PAPUA BARAT Ceposonline.com karhutla