CEPOSONLINE.COM, SORONG – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih menjadi salah satu ancaman selama musim kering di Kota Sorong.
Hingga 22 September 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sorong mencatat 59 kejadian dengan 70 titik api.
Kepala BPBD Kota Sorong, Herlin Sasabone, mengatakan puluhan kejadian tersebut menyebabkan sekitar 105,9 hektare lahan terdampak karhutla.
“Per tanggal 22 September, itu sudah terjadi 59 kali kejadian karhutla di Kota Sorong dan 70 titik api. Kemudian jumlah wilayah terdampak akibat Karhutla itu kurang lebih 105,9 hektare,” kata Herlin Sasabone, Jumat (25/9/2026).
Herlin mengatakan, kejadian Karhutla tersebar dalam tiga bulan terakhir. Pada Juli tercatat 13 kejadian dengan 21 titik api, Agustus 28 kejadian dengan 30 titik api, sedangkan September hingga 22 September tercatat 18 kejadian dengan 19 titik api.
“Kalau untuk puncak Karhutla dalam tiga bulan ini ada di bulan Agustus, dengan total 28 kejadian dan 30 titik api,” ujarnya.
Dalam penanganan puluhan kejadian tersebut, BPBD bersama pihak terkait telah menggunakan 271.900 liter air untuk pemadaman. Dari jumlah itu, 244.300 liter digunakan pemerintah dan 27.600 liter berasal dari masyarakat.
Menurut Herlin, meningkatnya aktivitas karhutla juga berpengaruh terhadap munculnya kabut asap di Kota Sorong.
“Dampaknya adalah adanya kabut asap di Kota Sorong. Ketika kebakaran hutan terjadi dari malam sampai subuh dan upaya pemadaman tidak sepenuhnya memadamkan api, maka pada pagi hari kabut asap masih terlihat,” jelasnya.
Ia menyebut kabut asap yang dirasakan masyarakat Kota Sorong tidak hanya dipengaruhi kebakaran di dalam wilayah kota, tetapi juga dapat berasal dari karhutla di daerah sekitar.
“Daerah sekitar seperti Kabupaten Sorong juga memberikan dampak dari karhutla yang terjadi di wilayah Kabupaten Sorong. Itu juga berdampak sampai pada Kota Sorong,” kata Herlin.
Herlin menambahkan, saat ini sejumlah daerah di Papua Barat Daya telah menetapkan status tanggap darurat, yakni Raja Ampat, Maybrat dan Sorong Selatan. Sementara Kota Sorong bersama daerah lainnya berada dalam status siaga darurat.
“Kota Sorong menetapkan status siaga darurat selama enam bulan sampai dengan bulan Desember,” ujarnya.
Herlin menilai aktivitas manusia menjadi salah satu faktor dominan dalam kejadian karhutla. Ia menyebut pembukaan lahan dengan cara membakar, pembakaran sampah, hingga puntung rokok dapat memicu kebakaran.
“Hampir 90 persen kejadian kebakaran hutan dan lahan itu diakibatkan oleh ulah manusia,” tegasnya.
Karena itu, Herlin meminta masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah, terutama di tengah kondisi kering yang membuat api mudah menyebar.
“Kami mengimbau warga masyarakat untuk sementara tidak melakukan aktivitas membuka lahan pertanian atau perkebunan dengan cara membakar rumput atau lahan, atau melakukan aktivitas pembakaran sampah,” katanya.
Masyarakat juga diminta membuang sampah ke TPS dan tidak membakar sampah di lokasi yang mudah terbakar karena api dapat meluas dan berpotensi mengancam permukiman.
“Apabila melihat titik api atau ada kebakaran lahan atau hutan, bisa segera menginformasikannya melalui call center Polresta Sorong 110 atau WhatsApp emergency Karhutla,” ujar Herlin.
Selain kewaspadaan terhadap kebakaran, Herlin meminta masyarakat menghemat penggunaan air karena kondisi kekeringan dan karhutla turut berdampak terhadap sumber air di Kota Sorong.(*)