Nasional Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Kesehatan Opini Advertorial

Kartini dari Timur: Menenun Harapan, Melampaui Batas 

Rohana Wenggi • Selasa, 21 April 2026 | 18:32 WIB
(ISTIMEWA)
(ISTIMEWA)

Oleh: Della Natalia Krey 

Bagi saya, semangat R.A. Kartini tidak hanya hidup dalam lembaran surat-suratnya, tetapi juga berdenyut kuat di pasar-pasar tradisional Papua, di bawah pohon-pohon  di  pingir jalan, hingga ke ruang-ruang digital masa kini. Menjadi perempuan yang mengabdi  untuk literasi masyarakat selama delapan setengah tahun, telah mengajarkan saya satu  hal: Jarak bukanlah penghalang bagi perempuan yang memiliki visi.  Mace Noken: Filosofi Ketangguhan dari Tanah Kelahiran  Perjalanan saya berakar di Papua. Di sana, saya menyaksikan sosok-sosok luar biasa  yang saya sebut sebagai "Kartini Timur"—yaitu mama-mama pedagang yang memikul  noken di kepala mereka. Dari merekalah lahir inisiatif "Mace Noken" (Mama Cerdas Ngobrol Keuangan). 

Mace bukan sekadar panggilan untuk ibu. Mace adalah simbol tiang penyangga keluarga.  Mereka adalah "manajer keuangan" alami yang mampu memastikan asap dapur tetap  mengepul meski tantangan ekonomi menghimpit.  Noken adalah filosofi hidup. Tas tradisional ini bukan sekadar wadah, melainkan hasil  dari ketekunan jari-jemari perempuan yang merajutnya selama berbulan-bulan. Noken  adalah simbol kasih sayang yang mampu menampung segalanya—mulai dari hasil bumi  hingga masa depan anak-anak. 

Melalui Mace Noken, saya membawa edukasi dengan cara merangkul. Saya  menerjemahkan bahasa ekonomi yang rumit dan kaku  menjadi percakapan hangat yang  menyentuh hati. Saya ingin setiap perempuan Papua merasa berdaya dan cerdas dalam  menjaga hasil kerja keras mereka.  

Menembus Batas: Dari Papua ke Pulau Dewata 

Ketika langkah kaki membawa saya bertugas ke Pulau Bali, semangat "Noken" itu tetap  saya dekap erat. Jarak antara Papua dan Bali hanyalah deretan angka di peta, namun  semangat untuk berinovasi tidak boleh dibatasi oleh batas geografis.  Di Bali, saya mentransformasikan gerakan ini ke dunia digital melalui Podcast Spotify. Ini  adalah cara saya membuktikan bahwa perempuan Papua bisa beradaptasi dengan  perubahan zaman. Melalui teknologi, suara edukasi saya tetap bisa memeluk  masyarakat di Papua, menyapa adik-adik mahasiswa di tanah rantau, dan menginspirasi  khalayak luas. Seorang Srikandi modern tidak boleh berhenti hanya karena tempatnya  berpindah. 

Sebagai wanita karir sekaligus pejuang Long Distance Married (LDM) dengan tiga buah  hati, keseimbangan adalah sebuah seni yang saya pelajari setiap hari. Menjadi "ibu  sekaligus ayah" di rumah sementara tetap profesional di dunia kerja adalah tantangan  yang nyata.  Namun, di momen Hari Kartini ini, saya ingin berpesan bahwa kepemimpinan sejati lahir  dari kemampuan mengelola rindu menjadi energi. Saya bekerja bukan hanya untuk  mengejar pencapaian, tetapi untuk memberikan contoh hidup bagi anak-anak saya:  bahwa seorang wanita bisa menjadi pemimpin yang tangguh tanpa sedikit pun kehilangan kelembutan hatinya. 

Masa depan yang saya impikan adalah Indonesia yang memberikan ruang luas bagi  perempuan untuk bersinar. Kita adalah para penenun literasi yang bekerja dengan hati.  Kita adalah penjaga keseimbangan antara tanggung jawab profesional dan panggilan jiwa  sebagai seorang ibu maupun istri.  Kita melangkah jauh bukan karena kita tanpa lelah, tapi karena kita punya cinta yang  besar pada masa depan negeri ini. Mari kita buktikan bahwa di tangan perempuan,  profesionalisme dan empati bisa berjalan beriringan demi pengabdian yang sesungguhnya. Selamat Hari Kartini. Dari Timur untuk Indonesia. (*)

Editor : Abdel Gamel Naser
#kartini