Oleh: Della Natalia Krey
Bagi saya, semangat R.A. Kartini tidak hanya hidup dalam lembaran surat-suratnya, tetapi juga berdenyut kuat di pasar-pasar tradisional Papua, di bawah pohon-pohon di pingir jalan, hingga ke ruang-ruang digital masa kini. Menjadi perempuan yang mengabdi untuk literasi masyarakat selama delapan setengah tahun, telah mengajarkan saya satu hal: Jarak bukanlah penghalang bagi perempuan yang memiliki visi. Mace Noken: Filosofi Ketangguhan dari Tanah Kelahiran Perjalanan saya berakar di Papua. Di sana, saya menyaksikan sosok-sosok luar biasa yang saya sebut sebagai "Kartini Timur"—yaitu mama-mama pedagang yang memikul noken di kepala mereka. Dari merekalah lahir inisiatif "Mace Noken" (Mama Cerdas Ngobrol Keuangan).
Mace bukan sekadar panggilan untuk ibu. Mace adalah simbol tiang penyangga keluarga. Mereka adalah "manajer keuangan" alami yang mampu memastikan asap dapur tetap mengepul meski tantangan ekonomi menghimpit. Noken adalah filosofi hidup. Tas tradisional ini bukan sekadar wadah, melainkan hasil dari ketekunan jari-jemari perempuan yang merajutnya selama berbulan-bulan. Noken adalah simbol kasih sayang yang mampu menampung segalanya—mulai dari hasil bumi hingga masa depan anak-anak.
Melalui Mace Noken, saya membawa edukasi dengan cara merangkul. Saya menerjemahkan bahasa ekonomi yang rumit dan kaku menjadi percakapan hangat yang menyentuh hati. Saya ingin setiap perempuan Papua merasa berdaya dan cerdas dalam menjaga hasil kerja keras mereka.
Menembus Batas: Dari Papua ke Pulau Dewata
Ketika langkah kaki membawa saya bertugas ke Pulau Bali, semangat "Noken" itu tetap saya dekap erat. Jarak antara Papua dan Bali hanyalah deretan angka di peta, namun semangat untuk berinovasi tidak boleh dibatasi oleh batas geografis. Di Bali, saya mentransformasikan gerakan ini ke dunia digital melalui Podcast Spotify. Ini adalah cara saya membuktikan bahwa perempuan Papua bisa beradaptasi dengan perubahan zaman. Melalui teknologi, suara edukasi saya tetap bisa memeluk masyarakat di Papua, menyapa adik-adik mahasiswa di tanah rantau, dan menginspirasi khalayak luas. Seorang Srikandi modern tidak boleh berhenti hanya karena tempatnya berpindah.
Sebagai wanita karir sekaligus pejuang Long Distance Married (LDM) dengan tiga buah hati, keseimbangan adalah sebuah seni yang saya pelajari setiap hari. Menjadi "ibu sekaligus ayah" di rumah sementara tetap profesional di dunia kerja adalah tantangan yang nyata. Namun, di momen Hari Kartini ini, saya ingin berpesan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari kemampuan mengelola rindu menjadi energi. Saya bekerja bukan hanya untuk mengejar pencapaian, tetapi untuk memberikan contoh hidup bagi anak-anak saya: bahwa seorang wanita bisa menjadi pemimpin yang tangguh tanpa sedikit pun kehilangan kelembutan hatinya.
Masa depan yang saya impikan adalah Indonesia yang memberikan ruang luas bagi perempuan untuk bersinar. Kita adalah para penenun literasi yang bekerja dengan hati. Kita adalah penjaga keseimbangan antara tanggung jawab profesional dan panggilan jiwa sebagai seorang ibu maupun istri. Kita melangkah jauh bukan karena kita tanpa lelah, tapi karena kita punya cinta yang besar pada masa depan negeri ini. Mari kita buktikan bahwa di tangan perempuan, profesionalisme dan empati bisa berjalan beriringan demi pengabdian yang sesungguhnya. Selamat Hari Kartini. Dari Timur untuk Indonesia. (*)
Editor : Abdel Gamel Naser