CEPOSONLINE.COM,JAYAPURA- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Baruppu, Toraja Utara, Sulawesi Selatan, merambat ke tiga lokasi liang leluhur pada Jumat malam hingga Sabtu (24/10/2026). Api membakar kawasan hutan dan sejumlah peti jenazah di liang batu Burasia, Pongtimban, dan Lombok Rangri yang memiliki nilai sejarah bagi masyarakat Toraja.
Dilansir SulawesiPos.com, kebakaran berlangsung di wilayah Salurea Rangri, Baruppu Selatan, sekitar 50 kilometer dari Rantepao. Kobaran api menjalar dari kawasan hutan menuju tebing pemakaman tradisional sebelum mendekati permukiman warga. Kepala Satpol PP dan Damkarmat Toraja Utara Riantho Yusuf Sangkelo mengatakan petugas menghadapi medan terjal saat berupaya memadamkan api.
Kendaraan pemadam tidak dapat masuk langsung ke titik kebakaran sehingga pemadaman dilakukan secara manual oleh tim gabungan. “Kendaraan kami tidak memungkinkan masuk ke dalam untuk melakukan pemadaman, karena akses jalan yang susah,” kata Riantho.
Tim gabungan yang terlibat antara lain Satpol PP dan Damkarmat Toraja Utara, Manggala Agni, KPA, Babinsa, serta Bhabinkamtibmas.Warga Baruppu juga bergerak membawa ember untuk menyiram titik api yang masih menjalar di kawasan tebing.
Liang batu merupakan tempat pemakaman tradisional masyarakat Toraja. Pongtimban disebut sebagai situs pemakaman leluhur yang telah digunakan sejak ratusan tahun lalu dan memiliki puluhan lubang makam di tebing.
Riantho menyebut jumlah liang yang terdampak berada pada kisaran belasan hingga puluhan karena lokasi kebakaran tersebar di tiga titik. Sejumlah peti di dalam liang juga dilaporkan terbakar, tetapi jumlah pastinya belum dapat dipastikan.
“Itu kuburan namanya liang. Jadi ada belasan atau puluhan liang itu karena tiga titik yang berbeda tempatnya. Sempat ada itu (peti terbakar),” ujar Riantho. Lurah Baruppu Selatan Natan Pongtoko mengatakan pendataan peti yang terbakar tidak mudah karena setiap pintu liang dikelola oleh rumpun keluarga berbeda.
Ia memperkirakan jumlahnya mencapai ratusan berdasarkan fungsi liang sebagai pemakaman umum pada masa lalu. “Kalau jumlah pastinya belum bisa dihitung yang jelas itu ratusan karena liang ini merupakan kuburun umum pada zaman dahulu,” tutur Natan.(*)
Editor : Abdel Gamel Naser