CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA - Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri mengganti Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (1/10/2026).
Namun, siapa sangka sang jenderal pernah mengikuti ajang pencarian bakat model remaja saat masih belia.
Dilansir dari lensaindonesia.com,
Sebuah potongan majalah lawas (majalah Mode) mengonfirmasi hal tersebut.
Dalam halaman majalah itu, tampak foto hitam-putih seorang remaja bernomor peserta 22 dengan keterangan singkat: Suyudi Ario Seto, pelajar SMPN 70 Jakarta, 16 tahun, 171 cm/52 kg.
Penelusuran data menunjukkan kecocokan kuat bahwa foto remaja tersebut adalah Kapolri ke-26 yang baru saja dilantik hari ini.
Informasi mengenai sekolah, umur, dan wajahnya selaras dengan riwayat hidup Suyudi yang lahir pada 14 Juli 1973 serta merupakan alumni SMPN 70 Jakarta.
Potongan halaman itu diperkirakan berasal dari Majalah MODE edisi 30 Mei 1988. Pemilihan Cover Boy dan Cover Girl sendiri merupakan ajang ikonik milik MODE yang sangat populer di era 1980-an hingga 1990-an.
Format halaman bernomor 17 sampai 28 yang berisi deretan pas foto beserta biodata singkat sekolah, umur, serta berat dan tinggi badan merupakan ciri khas dari rubrik pengenalan peserta seleksi Cover Boy pada masa itu.
Melalui sistem kontes wajah baru tersebut, para remaja dari berbagai daerah mengirimkan foto ke redaksi. Pihak majalah kemudian menyeleksi puluhan semifinalis untuk dipublikasikan fotonya, sebelum akhirnya menyaring kembali menjadi 20 finalis yang akan dikarantina di Jakarta untuk dilatih catwalk serta pemotretan menjelang malam final.
Pada halaman yang memuat foto remaja Suyudi, tercatat ada 12 nama peserta semifinalis dari nomor urut 17 hingga 28. Menariknya, beberapa nama di antaranya teridentifikasi juga menjadi figur publik dan profesional di masa depan.
Pada nomor urut 21, tertulis nama Candi Satrio yang berusia 18 tahun. Ejaan nama ini diduga kuat mengarah pada Candy Satrio, aktor laga legendaris Indonesia kelahiran 23 April 1970 yang dikenal lewat serial kolosal Saur Sepuh II, Tutur Tinular (sebagai Batik Madrim), dan Angling Dharma.
Umur 18 tahun pada 1988 sangat cocok dengan tahun kelahiran sang aktor, yang mengawali kariernya di dunia modeling sebelum menjadi ikon sinema laga 90-an.
Nama lain yang terlacak adalah semifinalis nomor urut 17, Jongki Handianto (16 tahun) dari SMA Kanisius Pejaten. Ia kini dikenal luas di dunia jurnalistik dan tercatat mengemban posisi sebagai koordinator foto Majalah Berita Mingguan Gatra sejak tahun 1999.
Sementara peserta lainnya di halaman yang sama meliputi Faris (SMPN 1 Lawang), Fernando D.F.S. Hutapea (SMA Kanisius Pejaten), Rezandi (mahasiswa ITI Jakarta), Delis Guruh Prastowo (SMPN 3 Kediri), Zainal Muttaqin (mahasiswa ITN Malang), Joy Bambang Handoyo (SMP Tarakanita V Jakarta), George Pramadono (SMA Kanisius Menteng), Y. Sofyan (SMAN 2 Banyuwangi), dan Bram Indrarto M. (SMAN 6 Jakarta).
Sebagai konteks kompetisi pada zaman itu, nama-nama besar seperti Tora Sudiro dan Atalarik Syach tercatat sebagai alumni finalis Cover Boy Mode 1989, disusul generasi Anjasmara, Teddy Syah, serta Teuku Ryan pada awal 1990-an.
Nama Suyudi Ario Seto memang tidak keluar sebagai finalis utama atau pemenang. Namun, takdir membawa jalan hidupnya berbelok ke arah yang jauh lebih cemerlang di jalur penegakan hukum.
Suyudi kemudian memilih masuk ke Korps Bhayangkara dan lulus dari Akademi Kepolisian (Akpol) angkatan 1994. Ia memperdalam ilmu kepolisian lewat PTIK (2003), meraih gelar Magister Kajian Ilmu Kepolisian di Universitas Indonesia (2010), dan menyelesaikan Sespimti Polri (2018).
Rekam jejak panjangnya didominasi di jalur reserse. Beberapa posisi strategis yang pernah diemban antara lain Kanit II Resmob Polda Metro Jaya, Kapolsek Metro Pasar Minggu, Kapolsek Metro Tanah Abang, Kasat Reskrim Polres Metro Tangerang Kota dan Jakarta Barat, serta Kanit Resmob Bareskrim Polri.
Ia juga sempat menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan, memimpin Unit Jatanras Polda Metro Jaya, hingga dipercaya menjadi Kapolres Majalengka (2014-2015), Kapolres Bogor (2015-2016), Kapolresta Bogor Kota (2016-2017), dan Kapolres Metro Jakarta Pusat (2017).
Saat bertugas di jajaran Reserse Polda Metro Jaya, ia turut terlibat langsung dalam penanganan berbagai kasus menonjol yang menyita perhatian publik, termasuk penyelidikan kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan serta pembongkaran kasus perampokan sadis satu keluarga di Pulomas, Jakarta Timur.
Dari remaja 16 tahun di halaman seleksi bintang sampul majalah sampai jenderal bintang empat di Istana, jaraknya sekitar 37 tahun. Potongan foto itu tidak mengubah kariernya, tapi melengkapi ceritanya. (*)