Disorot Al Jazeera: Ribuan Korban Gempa M 7,7 di NTT Masih Bertahan di Pengungsian Menanti Bantuan

Weny Firmansyah • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 04:57 WIB
Foto tulisan korban butuh bantuan. (AI)
Foto tulisan korban butuh bantuan. (AI)

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA- Penanganan bencana gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), mendapat perhatian luas dari media internasional.

 
Dilansir dari radarkudus.jawapos.com, saluran berita global Al Jazeera menyoroti kondisi ribuan warga terdampak yang hingga kini masih bertahan di tenda-tenda darurat dengan keterbatasan pasokan kebutuhan pokok.


Berdasarkan pembaruan data dalam laporan jaringan media tersebut per Rabu (19/8/2026), dampak bencana mencatat sedikitnya 68 orang meninggal dunia dan lebih dari 200 warga mengalami luka-luka akibat tertimpa reruntuhan bangunan.


*Keterbatasan Pasokan Logistik dan Kondisi Pengungsian Prihatin*


Laporan langsung reporter Al Jazeera, Jessica Washington, dari Desa Riung, Kabupaten Manggarai, memperlihatkan keprihatinan mendalam.


Sejumlah keluarga yang kehilangan tempat tinggal terpaksa tidur di area terbuka atau di bawah tenda darurat berbahan lembaran plastik yang mulai rusak.

 

Kondisi cuaca dan minimnya fasilitas sanitasi mulai memicu munculnya berbagai penyakit, terutama di kalangan anak-anak dan lansia.


- Kebutuhan Mendesak: Warga sangat membutuhkan pasokan beras, air bersih, obat-obatan, selimut, serta terpal tempat berlindung.
- Aksi Warga: Di beberapa titik jalan lintas desa, warga membentangkan spanduk bertuliskan desakan bantuan serta berupaya menghentikan armada logistik yang melintas demi mendapatkan pasokan makanan.
- Ancaman Kesehatan: Persediaan makanan warga kian menipis seiring belum meratanya pengiriman bantuan logistik ke area terpencil.


“Kami benar-benar butuh bantuan. Anak-anak mulai sakit karena tidur di luar ruangan dengan penutup plastik seadanya, sementara stok beras kami sudah hampir habis,” ungkap salah seorang warga Desa Riung kepada tim liputan lapangan.

 

*Tantangan Aksesibilitas dan Respons Pemerintah*

 

 

*1.Mobilisasi Aparat Keamanan:Pengarahan personel TNI dan Polri ke titik gempa.*


Pemerintah Indonesia telah mengerah sekitar 1.800 personel gabungan TNI dan Polri untuk mendukung proses evakuasi dan pendistribusian logistik.


*2. Kendala Geografis dan InfrastrukturKerusakan jalan dan topografi pulau memicu hambatan.*


Kerusakan pada akses jalan darat serta bentang alam yang terisolasi membuat proses distribusi bantuan ke daerah-daerah pedalaman terhambat.


*3. Peningkatan Efektivitas Penanggulangan:Desakan percepatan status dan penanganan darurat.*


Pemerintah daerah bersama kementerian terkait terus diuji untuk mempercepat pembukaan jalur isolasi demi menjamin keselamatan seluruh korban terdampak.


Pemerintah Indonesia sebenarnya telah mengerahkan sedikitnya 1.800 personel tentara dan kepolisian untuk mempercepat penyaluran bantuan ke wilayah-wilayah terdampak. 


Namun, kerusakan infrastruktur jalan serta kondisi geografis Pulau Flores yang berbukit menjadi tantangan berat bagi tim penyelamat.


Percepatan distribusi logistik dan penetapan penanganan darurat yang efektif menjadi kunci utama untuk mencegah memburuknya krisis kemanusiaan di Nusa Tenggara Timur. (*)

Editor : Weny Firmansyah
Gempa ntt