CEPOSONLINE.COM,JAYAPURA - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji mengingatkan agar anak jangan sampai diasuh dan dikendalikan oleh ponsel atau HandPhone (HP) dengan menggaungkan Gerakan Ayah Ambil Rapor (Gemar) ke sekolah.
"Kita ada Program Gemar, mengapa program ini ada? Karena berdasarkan data, rata-rata anak kita (25 persen) itu fatherless (kehilangan peran ayah) dan memiliki masalah mental, tetapi rata-rata mereka bisa memegang handphone setiap hari 8,7 sampai 10 jam," kata Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji di MAN 1 Yogyakarta, Kamis.
Mendukbangga Wihaji mengemukakan mulai dari bangun tidur, sebelum tidur, sebelum atau sesudah ibadah, mengerjakan pekerjaan rumah, sebagian besar aktivitas anak akan dikendalikan ponsel, termasuk bertanya kepada Akal Imitasi (AI).
"Hari ini algoritma otak kita hampir 60-70 persen dipengaruhi oleh teknologi. Algoritmanya yang ada dalam otak kita, kalau enggak hati-hati, orang tua mereka sekarang bukan kita, tetapi handphone," ujar Mendukbangga Wihaji.
Saat berinteraksi dengan ayah dan para pengasuh di kelas, Mendukbangga Wihaji mencontohkan salah satu kegiatannya pada pagi hari yang selalu mengusahakan untuk mengantarkan anaknya pergi ke sekolah dan berinteraksi minimal 30 hingga satu jam.
"Ini yang penting bagaimana orang tua hadir. 1-2 jam saja, sempatkan. Saya sampai sekarang masih mengantarkan anak ke sekolah, nyetir sendiri karena minimal setengah jam sampai satu jam bisa ngobrol, kalau nyetir pasti enggak memegang handphone," ucap Mendukbangga Wihaji.
Ia juga menegaskan pentingnya ayah tidak hanya hadir secara ekonomi, tetapi juga secara psikologis untuk anak, termasuk dengan mendengarkan curahan hati (curhat) mereka dengan meluangkan waktu sedikitnya satu jam.
"Kalau dulu curhat sama orang tua, sekarang curhatnya ke AI. Tanya apa saja, belajar berjudi ada di situ, dan dijawab padahal AI enggak punya rasa. Algoritma otak perilakunya seperti robot. Sejelek-jeleknya makan, bareng, ngobrol, jangan main HP sendiri-sendiri," tutur Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji. (*)
Editor : Agung Trihandono