Nasional Bansos Derap Nusantara Dinamika Tembagapura Ekonomi Features Hiburan Kesehatan Opini Advertorial

Ternyata Ini Penyebab Nilai Tukar Rupiah Rendah

Yohanes Palen • Selasa, 12 Mei 2026 | 16:32 WIB
Ternyata Ini Penyebab Nilai Tukar Rupiah Rendah.
Ternyata Ini Penyebab Nilai Tukar Rupiah Rendah.

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA- Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan berat dan menembus level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (12/5) pagi.

 

Adapun pelemahan mata uang Garuda ini dipicu sentimen global yang masih membayangi pasar keuangan dunia, mulai dari ketidakpastian geopolitik hingga tingginya harga minyak mentah internasional.

 

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.45 WIB, rupiah tercatat melemah 89 poin atau 0,52 persen ke posisi Rp.17.503 per dolar AS.

 

Sebelumnya, rupiah dibuka di level Rp.17.489 per dolar AS atau turun 75 poin dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

 

Tekanan terhadap rupiah terjadi seiring mayoritas mata uang Asia yang juga kompak melemah terhadap dolar AS.

 

Sementara itu Bank Indonesia menegaskan pelemahan nilai tukar rupiah belakangan ini lebih dipengaruhi tekanan global dibanding lemahnya fundamental ekonomi nasional.

 

Bank sentral menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih berada dalam posisi yang solid di tengah gejolak pasar internasional.

 

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan nilai tukar rupiah saat ini sebenarnya berada pada kondisi undervalued atau di bawah nilai fundamentalnya jika melihat berbagai indikator ekonomi domestik.

 

“Secara fundamental rupiah itu undervalued,”kata Perry Warjiyo dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta dikutip dari Kompas.com.

 

Menurut Perry, sejumlah indikator utama menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia masih cukup kuat meski dunia sedang menghadapi tekanan akibat konflik geopolitik di Timur Tengah dan tingginya suku bunga Amerika Serikat.

 

Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap menjadi salah satu yang tertinggi di antara negara-negara G20.

 

Selain itu, tingkat inflasi nasional juga dinilai masih rendah dan terkendali.

 

“Pertumbuhan ekonomi kita tinggi. Inflasi kita rendah, sudah 2,42 persen,"jelasnya.

 

Tak hanya itu, neraca perdagangan Indonesia juga masih mencatat surplus, sementara posisi cadangan devisa dinilai sangat memadai untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

 

Adapun Bank Indonesia mencatat cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2026 mencapai 148,2 miliar dolar AS.

 

Dari sisi sektor keuangan, Perry menilai pertumbuhan kredit perbankan yang tetap kuat menjadi sinyal positif terhadap kondisi ekonomi domestik.

 

“Ketua OJK juga menyampaikan kredit tumbuh tinggi. Jadi, secara indikator fundamental ekonomi kita kuat,”bebernya.

 

Meski demikian, Perry mengakui nilai tukar rupiah tetap menghadapi tekanan akibat sentimen global yang juga menekan mata uang berbagai negara berkembang lainnya.

 

Menurut dia, tekanan utama berasal dari kenaikan harga minyak dunia akibat tensi geopolitik di Timur Tengah, penguatan dolar AS, serta tingginya suku bunga acuan Federal Reserve Amerika Serikat.

 

“Faktor globalnya adalah kenaikan harga minyak, tensi geopolitik Timur Tengah, suku bunga Amerika Serikat tinggi, dolarnya juga kuat, dan investor asing lagi outflow dari emerging market,”ujarnya.

 

Selain faktor eksternal, Perry juga menyebut adanya tekanan musiman terhadap permintaan valuta asing pada April hingga Mei.

 

Permintaan tersebut berasal dari kebutuhan pembayaran utang luar negeri korporasi, repatriasi dividen, hingga kebutuhan ibadah umrah dan haji.

 

Meski menghadapi berbagai tekanan, Bank Indonesia memastikan stabilitas rupiah tetap dijaga melalui langkah intervensi dan koordinasi intensif bersama pemerintah.

 

“Kita jaga tingkat pelemahannya tidak terlalu tinggi dengan langkah-langkah all out tadi,” pungkas Perry. (*).

Editor : Yohanes Palen
#dolar #nilai tukar #Ceposonline.com #rupiah